RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
124


__ADS_3

Alvi menepikan mobilnya di pekarangan rumah, lalu mengambil Zeeya dari pangkuan Avril. Ia tak ingin kesedihan Avril berdampak pada Zeeya. Dan di waktu yang sama, Dinda pulang dengan keadaan menangis. Ia tak bisa menahan rasa sakitnya diacuhkan oleh Avril yang mungkin sudah kecewa sebab Reifan memanggilnya 'Aunty'.


"Bunda?" Sejenak, Dinda menoleh pada Reifan dengan mencoba menghentikan tangisnya dan bersikap seolah tak ada apa-apa.


"Kue nya mau dimakan sekarang?" Tanya Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Bunda jangan menangis. Eifan peluk ya!" Ucapnya malah membuat Dinda semakin ingin menangis. Terlebih lagi saat Reifan beralih memeluk perutnya dan mengelusnya lembut.


"Adik.... jangan sedih ya! Bunda juga tidak sedih. Kakak pasti jaga Bunda sampai kamu lahir." Mendengar celotehan Reifan, Dinda mendadak gemetar sebab jantungnya berdegup begitu keras. Dari mana Reifan mendapat kata-kata seperti ini? Rasanya ia tak percaya jika Reifan berkata demikian.


"Sudah ya Bunda. Eifan bawa piring untuk Bunda. Kita makan kue sama-sama." Lagi-lagi Reifan berhasil membuat Dinda terharu. Terlihat anak itu berlari menuju dapur dan kembali dengan membawa piring kecil beserta sendok kecilnya.


"Bunda. Pisaunya lupa. Hehe." Dan kali ini, Dinda tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Reifan yang terlupa membawa pisau kue.


"Ini Bunda." Ucapnya lagi kemudian memberikannya pada Dinda. Keduanya menyantap makanan manis itu berdua dengan terselip candaan dan tawa sehingga Dewi yang mendengarnya pun merasa tenang.


Reifan terlihat sudah mulai bersikap seperti seorang kakak meski adiknya belum lahir ke dunia. Tapi ia seakan sangat menjaga Dinda ketika Aldi tak ada.


"Adik bayinya laki-laki atau perempuan ya Bunda?"


"Kamu maunya apa?"


"Emmm Eifan tidak masalah Bunda. Mau laki-laki, atau perempuan, Eifan akan jaga dan sayangi adik Eifan."


"Kalau laki-laki, kau akan memberikan nama siapa?"


"Emmm apa ya? Eifan tak tahu Bunda. Kata Mommy, nama itu jangan sembarangan. Harus ada arti tertentu yang mewakilinya sebagai doa."


"Pintar sekali kamu Rei. Sekarang Bunda mengerti kenapa nama kamu Reifan Gavin. Kau adalah seorang lelaki tangguh yang sangat penyayang."


"Bunda tahu arti nama Eifan?" Tanyanya mendadak begitu antusias.


"Tentu saja. Reifan diartikan sebagai sosok setia dan penyayang, sedangkan Gavin diartikan sebagai elang putih. Menurut Bunda elang putih itu adalah burung yang kuat. Begitu juga denganmu. Kau dinamai Gavin karena Ayahmu ingin kau menjadi anak yang kuat. Itu sebabnya Bunda menggabungkan semuanya menjadi 'lelaki yang tangguh yang sangat penyayang'."


"Kata Oma, nama Eifan dari Mommy."


"Semuanya?" Terlihat Dinda begitu terkejut mendengar penuturan Reifan. Ia berpikir mengapa tak Aldi saja yang memberikan nama pada Reifan padahal ia ayahnya sendiri.


"Rei. Sudah waktunya tidur siang. Habiskan makananmu dan cepatlah tidur." Titah Dewi yang menyela obrolan mereka secara tiba-tiba.


"Tapi Oma... Eifan masih mau dengan Bunda."


"Kalau kamu tidak tidur siang, kamu suka rewel, Rei. Bunda kan takan kemana-mana. Bunda juga akan tidur siang."


"Tidur siangnya sama Eifan saja, Bunda. Yuk!" Reifan beranjak lalu menarik tangan Dinda agar ikut beranjak.


"Rei. Jangan begitu! Oma ada yang ingin di bicarakan dengan Bundamu." Mendengar hal itu, dnegan langkah yang lemas, Reifan berjalan menuju kamarnya tanpa menghabiskan sisa makanannya. Sedangkan Dinda, ia tak bisa memalingkan pandangannya dari Reifan yang kini sudah menutup pintu kamar. Ia beralih menghadap Dewi yang sepertinya ingin berbicara penting.


"Kenapa Ma? Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Mama?"


"Tidak nak. Hanya saja Mama merasa kamu pasti terkejut dengan apa yang Rei ucapkan tadi."


Sontak Dinda mencoba mengingat bagian mana yang membuatnya terkejut. "Yang mana?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Tentang Avril yang memberikan nama untuk Rei, bukan Aldi." Dan raut wajah Dinda pun berubah mendengar topik pembicaraan yang mengarah pada apa yang memang menjadi sumber kecemasannya.


"Nak, agar kau tak salah faham atau apapun. Sepeninggal Syifa, Aldi menghilang entah kemana selama 2 minggu. Sedangkan saat itu Rei belum diberi nama. Syifa ataupun Aldi tak mempersiapkan nama untuk anak mereka sebab Syifa beralasan bahwa Rei adalah sebuah kejutan karena dia tak pernah melakukan USG. Ia memilih untuk melahirkan Rei tanpa tahu jrnis kelaminnya dari jauh-jauh hari seperti sekarang ini. Dan karena alasan itu juga, Aldi dan Syifa berencana untuk memberikan anak mereka nama dengan bersama-sama. Namun, belum sempat Syifa memberi tahu Aldi, ia meninggal tak lama setelah melahirkan. Dan sebagai Ibu pengganti, Avril memberikan nama untuk Rei. Dan Gavin diberikan oleh Galih, kakaknya Avril."


"Ma... sejujurnya aku merasa keberatan kalau Rei memanggil Avril dengan sebutan lain. Padahal Avril adalah malaikat yang rela merawat Rei meski dirinya belum menikah, dan meski Rei adalah anak dari mantan pacarnya."


"Mama juga keberatan, nak. Tapi ini keputusan Aldi. Biar dia yang bicara pada Avril apapun yang terjadi."


Dinda ragu mengatakan apa yang hari ini membuatnya sesak nafas, namun setelah ia mencoba bercerita, Dewi malah ikut menangis mendengarnya. Ia sendiri tak membayangkan bagaimana nantinya saat bertemu dengan Avril.


Singkatnya, waktu kembali bergulir. Sudah hampir 2 minggu Avril tak lagi keluar rumah. Dan sekarang, ia terlalu sibuk menghabiskan waktu bersama Zeeya yang sudah bisa tersenyum dan seakan sudah mulai menikmati obrolan random Ayahnya. Alvi yang memang sangat jahil, ia selalu mengatakan kata 'Ayah' tanpa mengatakan 'Bunda'. Hal itu bertujuan agar saat pengucapan pertama Zeeya, nantinya kata 'Ayah' yang lebih dulu terucap. Avril tak ingin kalah, ia merubah panggilannya menjadi Mama. Itu pun bertujuan agar Zeeya lebih mudah mengucapkannya.


Menjelang siang, matahari terasa sangat lebih panas dari sebelumnya. Avril yang biasa menghabiskan waktunya di taman bunga milik mertuanya, Maya, pun beralih ke tempat yang lebih sejuk.


"Al... hari ini aku boleh ke butik? Aku mau membeli gaun untuk acara kantormu."


"Kenapa tidak pesan dan diantarkan saja ke sini?"


"Sekalian cari camilan."


"Hei sayangku cintaku! Camilanmu sudah menumpuk. Mau ditambah berapa banyak lagi?" Meski terselip sebuah panggilan mesra, namun mata Alvi tak bisa berbohong. Alvi mengatakan itu seraya mendelik karena kesal dengan kebiasaan Istrinya yang selalu mengumpulkan camilan dan tidak langsung dimakan.


"Sampai makananku seperti super market."


"Kalau begitu kita beli saja super marketnya. Mau?"


"Ehh kau gila? Tidak ah. Lagi pula aku hanya mau beli baju Zeeya. Berat badannya bertambah, jadi bajunya sudah mengecil."


"Terus Zeeya bagaimana?"


"Asalkan dia kenyang, dia akan baik-baik saja. Kita tak boleh lama-lama di luar."


"Iya Ayah iya."


"Papa sajalah. Kalau Ayah aku merasa kurang pas."


"Kenapa? Kau senang di sebut Ayah kan?"


"Iya tap--" ucapannya terhenti saat Alvi melihat Istrinya menyusui Zeeya. Ia menelan salivanya karena sudah lama tidak berhubungan dengan Avril. Meski ia tahu waktunya harus bersabar sampai 40 hari, namun ia pasti tergoda juga.


"A-aku ke ruang kerja." Ucap Alvi mendadak menjadi gugup lalu pergi dari kamarnya. Avril yang melihat perubahan sikap Alvi pun hanya bisa menatap kepergiannya dengan konyol.


Setelah Avril memastikan Zeeya tidur dan menitipkannya pada Siska, Avril segera menyusul Alvi ke ruang kerja. Di sana ia terkejut melihat Alvi tengah menatap fotonya yang tersimpan di meja kerja.


"Sedang apa kau?" Tegur Avril membuyarkan lamunan Alvi.


"Sedang menunggumu." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Avril.


"Aku sudah siap."


"Hmmmm..." hanya begitu tanggapan Alvi. Avril yang melihat Alvi tak bersemangat pun mencoba menghampiri dan mencari tahu apa yang mengganggu pikiran suaminya.


"Al... kenapa?" Tanya Avril meraih bahu Alvi.

__ADS_1


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Bohong. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu kan? Katakan padaku sekarang! Ada apa?" Dengan tegas, Avril meraih wajah Alvi dan menatapnya dengan tajam. Bukannya menjawab, namun Alvi malah memeluk Avril dengan erat sehingga Avril semakin dibuat penasaran.


"Al..."


"Jangan pergi. Sedetikpun jangan hilang dari pandanganku."


"Al... aku pergi kemana? Sementara rumahku sekarang adalah kau, suamiku."


"Pokoknya jangan meninggalkanku."


"Harusnya aku yang bilang begitu Al. Jangan pernah berpikir untuk mencari yang lain hanya karena aku sudah berbeda di bandingkan sebelumnya."


"Apanya yang beda? Aku masih sama. Kau masih istriku yang aku sayangi." Mendengar pengakuan Alvi, meski sudah menjadi orang tua, namun hal itu justru sangat membahagiakan.


"Sudah... kita harus bergegas." Setelah Avril mengatakan itu, keduanya bergegas menyelesaikan urusan mereka. Alvi melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin mengambil resiko meski tengah terburu-buru.


Sampai di butik, Avril memilih beberapa gaun untuk ia coba. Sedangkan Alvi, ia tak perlu memilih lagi, melihat stelan jas yang menurutnya cocok, ia langsung membeli dan lanjut membantu Avril untuk memilih gaun.


"Yang ini saja. Lebih tertutup." Ucap Alvi menunjukkan gaun yang ia rasa lebih cocok untuk Istrinya. Saat Avril mencoba, ia meminta pendapat pada Alvi, namun Alvi malah menggodanya.


"Ehem. Besar." Sontak Avril yang mendengar kata itu ternganga lalu menutupi dadanya. Ia kembali ke dalam untuk mengganti lagi pakaiannya dan terus memaki Alvi.


"Dasar gila. Sudah jelas aku sedang menyusui." Geramnya di dalam kamar pass.


Setelah dirasa selesai, Avril dan Alvi bergegas ke tempat selanjutnya. Avril memilih beberapa baju yang dibutuhkan Zeeya sampai berumur 6 bulan.


"Kurang banyak itu, Sayang." Sindir Alvi yang melirik sinis pada Avril.


"Diam ya. Kau tak akan paham dengan urusan ibu rumah tangga."


"Kan aku ayah rumah tangganya."


"Iya. Dan tugasmu bayar semuanya."


"Sudah biasa. Dasar istri matre."


"Dasar suami pelit."


"Pelit apanya? Semua kartu kredit saja kau yang pegang."


"Hehe." Meski keduanya beradu argumen dan seperti tengah bertengkar, namun mereka masih terlihat sangat harmonis.


Selesai membeli keperluan Zeeya, Alvi dan Avril memutuskan untuk pergi. Dan ketika saat ia akan membuka pintu mobil, terdengar suara yang begitu familiar memanggilnya. Avril berbalik dan dengan jelas melihat wajah Aldi yang kini menatapnya.


"Avril... aku--" 'plak' belum sempat ia berbicara, Avril tiba-tiba menampar wajah Aldi dengan keras.


"Berani kau menemuiku? Siapa kau? Ayah tak tahu tanggung jawab yang hanya bisa menjauhkan Putranya dari wanita yang menjadi pengganti Ibunya. Dimana pikiranmu hah?" Avril tak pandang tempat, ia begitu kecewa pada Aldi yang sudah memisahkannya dengan Reifan.


"Avril... apa yang kau lakukan?" Alvi dengan cepat meraih Avril yang hampir kembali menampar Aldi. Avril langsung membenamkan wajahnya di pelukan Alvi, dan Aldi hanya terdiam membisu melihat kemarahan Avril. Di tambah, Alvi tak meliriknya sedikitpun dan memilih berlalu dari hadapannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2