
. Dinda menatap wajah Reifan yang kini tertidur di pangkuannya, ia merasa tak asing pada bocah ini, dan ia juga terheran mengapa ia sulit mengingat memori apa yang sudah ia lalui dengan orang-orang sekitarnya. Dan wajah kecewa Aldi masih ia ingat, seharunya ia tak bertanya begitu, namun ia juga butuh jawaban yang mungkin bisa membuatnya mengingat sesuatu. Setelah menidurkan Reifan di kamarnya, Dinda berniat untuk mengobrol kembali dengan Aldi yang tidur di kamar tamu. Dinda mengetuk pintu dengan ragu, dan ia membukanya tanpa tahu bahwa Aldi tengah berada di dekat pintu. Matanya membulat saat ia mendapati Aldi yang hanya memakai celananya saja, bekas luka yang hampir memenuhi bagian dadanya membuat Dinda menangis tiba-tiba. Ia tak tahu apa yang membuatnya ingin menangis, namun hatinya terasa ada sebuah penyesalan.
"Dinda..." Aldi meraih Dinda yang memegangi kepalanya dan mulai menjauh darinya. Karena tak seimbang, Dinda membuat guci di atas nakas terjatuh dan pecah berantakan. Mendengar kegaduhan di ruang tengah, Hadi mencoba mencari tahu apa yang terjadi, ia bersama Salma bergegas ke asal suara. Hadi terkejut karena melihat Dinda yang masih memegangi kepalanya dan Aldi yang tak jauh dari Dinda berdiri tanpa mengenakan busana atas.
"Aldi... apa yang kau lakukan pada Dinda?" Aldi menoleh pada Hadi yang melempar pertanyaan dengan suara yang berat dan menahan amarah.
"Tidak om. Justru saya ingin tahu, kenapa Dinda kemari. Tapi saat Dinda melihat saya--"
"Rumah sakit." Ucap Dinda menghentikan penjelasan Aldi, ia mencoba mencerna apa yang di maksud Dinda. Hadi pun demikian, sebenarnya apa yang terjadi pada putrinya sekarang. Dewi yang paham maksud Dinda pun menghampiri Dinda dan mendekapnya.
"Rumah sakit Kencana, kamar VIP nomor 5 lantai 4. Kau ingat?" Pelan tapi pasti, Dewi mencoba menyadarkan Dinda dari kepanikannya.
"Bisa antar aku kesana ma?"
"Tentu saja nak."
"Mbak. Itu kamar apa?" Tanya Salma yang penasaran pada apa yang di katakan Dewi.
"Saat Aldi kecelakaan, Dinda selalu menemaninya dulu, bahkan ia sulit untuk pulang saat Aldi masih koma. Dia merawat Aldi sampai Aldi pulih." Jelas Dewi sehingga Hadi dan Salma mengerti dan berniat untuk membiarkan Dinda ikut dengan Aldi ke kota J.
"Nak... bagaimana kalau kau ikut dengan Aldi ke kota J. Kau masih punya rumah di sana kan?" Meski tak tahu, Dinda mengangguk dan ia pun ingin ingatannya pulih agar pertanyaannya pada Aldi bisa terjawab. Pertanyaan mengapa ia bisa mencintai pria yang pernah menikah, sedangkan menurut logika, wanita pasti mencari pria lajang meskipun belum mapan. Ia berpikir apakah dulu dirinya seorang wanita yang gila harta? Namun ia berharap semoga saat ia ke kota J, ia akan mendapatkan kembali ingatannya meskipun hanya sepintas.
__ADS_1
. Sesuai rencana, Dinda ikut dengan Aldi hari ini menggunakan pesawat pribadi ayahnya. Mereka melesat menembus awan dengan secercah harapan pada kesehatan Dinda.
Singkatnya, mereka sampai di landasan milik Alvi, dan dengan antusias Avril menjemput Dinda meski sebenarnya ia tak ingin mendapati kenyataan bahwa Dinda tak sedikitpun mengingatnya.
Dinda menggandeng tangan Aldi saat menghampiri Avril yang tengah menunggu mereka, terlihat jelas Dinda begitu takut pada Avril sehingga ia terus bersembunyi ke belakang Aldi.
"Hai Din. Aku Avril. Kau ingat?" Dinda menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Avril. Meski sudah tahu jawabannya, ia masih saja menggenggam sebuah harapan agar Dinda bisa mengingatnya.
"Ah... sudah kuduga." Ucap Avril dengan berderai air mata. Ia begitu kecewa mengapa harus amnesia yang menimpa Dinda.
"Maaf. Tapi aku sungguh-sungguh tidak ingat." Lirih Dinda hanya ditanggapi senyuman oleh Avril yang terlanjur menitikkan air mata di depan Dinda.
Saat Dinda tengah mencari tahu siapa Avril, ia mendengar Reifan memanggil Avril dengan sebutan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Kau bohong Al." Lirih Dinda dengan suara yang begitu pelan. "Kau bohong padaku. Katanya istrimu sudah meninggal, tapi buktinya kau masih punya istri. Dan dia sedang hamil." Aldi yang mendengar Dinda marah pun segera menjelaskan bahwa Avril bukanlah istrinya.
"Emmm Dinda. Maaf tapi aku sudah punya suami, dan itu bukan Aldi." Meski Avril sudah mengatakan yang sebenarnya, Dinda masih merasa tak percaya pada Avril dan Aldi.
"Lalu kenapa Rei memanggilmu mommy?"
"Mau aku ceritakan? Jika mau, aku ada tempat yang nyaman untuk mengobrol." Dengan ragu, Dinda mengangguk menanggapi tawaran Avril, ia pikir dengan mengikuti Avril, ia akan bisa sedikitnya mengingat tentang dirinya atau Aldi.
__ADS_1
Avril membawa Dinda ke sebuah tempat yang seharusnya sangat Dinda rindukan di kota ini, namun melihat reaksi Dinda, Avril kembali kecewa, sepertinya Dinda memang tak mengingat apapun.
"Kenapa ke toko bunga?"
"Kau masih tidak ingat?" Kini Dinda menggeleng meski ia tahu tanggapannya ini akan membuat Avril kecewa.
"Tak apa. Pelan-pelan saja, siapa tahu setelah kau melihat tempatnya, ada ingatanmu yang kembali suatu hari nanti." Avril memaksakan senyumnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Ketika keduanya masih berada di luar, Aldi memilih untuk tidak ikut campur pada usaha Avril, ia masih punya tempat lain untuk mengenang kenangannya dengan Dinda.
'Prang' Avril dan Dinda lantas menoleh ke asal suara, dari jauh terlihat Nisa yang tak bergerak menatap mereka, dan Avril hanya bisa tersenyum getir melihat raut wajah Dinda.
"Kak Dinda...." teriak Nisa langsung berlari dan memeluk Dinda dengan erat. "Kemana saja? Kenapa tidak kembali kesini?"
Meski Nisa sudah menangis dengan keras, namun tak ada jejak yang bisa di ingat oleh Dinda, membuatnya hanya menatap datar ke arah Nisa dan tak membalas pelukannya.
"Maaf. Tapi, kau siapa?" Seketika tangis Nisa terhenti meski sebenarnya ia masih ingin menangis.
"Kakak tidak mengenalku?" Perlahan Nisa melepaskan Dinda yang menatapnya penuh tanya sehingga Nisa berubah kesal membalas tatapan Dinda.
"Maafkan aku. Aku lupa siapa dirimu."
"Kakak lupa padaku? Semudah itu? Padahal kita baru 2 bulan tidak bertemu. Kenapa kak? Apa karena kakak seorang presdir dan aku hanya menjadi pegawai tokomu? Meski kakak mempercayakan toko ini padaku, tapi aku tak pernah sedikitpun menyukai hal itu. Aku selalu menunggu kakak setiap hari dan di akhir bulan untuk menerima gaji dari kakak secara langsung. Lelucon apa ini kak? Kakak pergi tiba-tiba, dan sekarang kakak tidak mengingatku." Dinda hanya tersenyum berderai air mata melihat kekesalan Nisa.
__ADS_1
"Orang amnesia bagaimana mau ingat?"
-bersambung