
. Ketika senin tiba, Avril yang sudah di beri izin oleh Alvi menjadi sekertaris, meskipun dengan Reno, namun cukup membuat Bagas merasa lega. Sebagai gantinya, sekertaris direktur, kini menjadi sekertaris presdir dan Bagas fokus menyelidiki masalah tempo hari. Karena penasaran, Avril ikut mengecek CCTV yang dipasang berada di atas bagian depan meja sekertaris direktur.
"Mundur sedikit Ren." Ucap Avril setelah mendapati hal yang ganjil.
"Berkasnya diganti?" Lirih Avril terus mengamati.
"Apa maksudmu?" Reno merasa penasaran sekaligus terkejut karena ia tak paham apa yang di maksud Avril.
"Masalahnya ada di sekertarismu. Apa dia baru?"
"Emmm... iya. Baru sebulan kalau tak salah."
"Ohhh begitu ya?"
"Sialan. Jadi dia..." Reno beranjak namun dengan cepat Avril menahan agar Reno tidak bertindak gegabah.
"Jangan beritahu Aldi dan Bagas dulu. Kita awasi saja diam-diam."
"Tapi Vil...."
"Tahan emosimu Ren. Aku juga sama denganmu. Tapi jika kau bertindak gegabah dan menyalahkannya tiba-tiba, kau akan dianggap bersalah oleh Aldi. Kita kumpulkan dulu buktinya." Mendengar penuturan Avril, Reno mulai tenang. Namun semenjak hari itu, Reno tak lagi bertegur sapa dengan mantan sekertarisnya.
"Sikapmu jangan begitu Ren." Tegur Aldi masih menjaga jarak dengan Reno.
"Sikapku biasa saja." Balas Reno tak kalah sinis pada Aldi. Melihat keduanya yang tak akur, Avril menatap mereka dengan tatapan yang tajam.
"Jika kalian terus bertengkar, sia-sia aku ada di sini." Ucap Avril dengan berlalu bersama Reno setelah meeting selesai. Avril mengamati kembali surat perjanjian yang sudah di robek oleh Bagas yang membuat Aldi dan Reno bertengkar.
Di tengah pekerjaannya, Avril segera menghubungi Alvi untuk menyuruh Ray menyelidiki siapa gadis yang pernah menjadi sekertaris Reno.
"Memangnya kenapa sayang? Apa kau mencurigainya?"
"Iya Al. Saat aku melihat rekaman CCTV, aku mendapati dia yang menukar berkas. Samar jika tidak di teliti, memang terlihat tidak terjadi apa-apa. Aku rasa, dia bukan orang biasa. Emm maksudku seperti sudah terbiasa melakukan hal yang.... ya mungkin kau paham tanpa aku memberitahunya juga."
"Ohh iya aku paham. Kirimkan saja identitasnya, dan aku akan menyuruh Ray mencari tahu siapa dia."
"Iya. Terima kasih Al. Su-suamiku." Lirih Avril mendadak merona menahan suaranya yang gugup. Terdengar Avril tertawa terbahak-bahak di seberang sana.
"Kenapa gugup sayang? Bukankah saat itu kau sangat lantang?" Ejek Alvi yang tak henti menertawakan istrinya.
__ADS_1
"Ihhh diam kau sialan." Pekiknya dengan kesal dan langsung memutuskan panggilan. Namun Alvi masih saja tertawa mengingat suara Avril yang gugup dan membuatnya terngiang-ngiang.
"Kenapa tuan?" Tanya Ray yang sedari tadi berada di hadapan Alvi.
"Tidak Al. Ini urusan pengantin baru." Jawab Alvi jelas bernada ejekan.
"Maaf. Saya sudah kebiasaan selalu bertanya pada tuan apa yang terjadi, padahal tuan sudah berkeluarga." Kali ini, Alvi tersenyum lalu menepuk bahu Ray.
"Tak apa Ray. Aku maklumi. Tapi, untuk sekarang aku ada tugas yang harus kau selesaikan."
"Apa itu tuan?"
"Cari tahu tentang gadis ini." Suara dan raut wajah Alvi mendadak serius ketika menunjukkan identitas mantan sekertaris Reno.
"Tunggu tuan. Sepertinya saya pernah melihatnya, tapi saya tidak yakin." Sontak Alvi menyernyit dan memiringkan kepalanya merasa penasaran pada apa yang dikatakan Ray.
"Apa tuan ingat pada presdir dari kota S yang sempat mengajak kerja sama dengan tuan namun tuan tolak?"
"Emmmm.... yang mana ya? Muda atau tua?"
"Muda tuan. Kalau tak salah, namanya....... Aulia?"
"Ehehe maksud saya ada kepanjangannya lagi tuan. Maaf saya tak ingat karena perusahaannya masih belum berkembang dan terkenal seperti perusahaan pak Hadi di kota sana.
"Hubungannya dengan gadis ini apa?"
"Bukankah dia asisten pribadinya? Karena saat pertemuan dengan tuan, saya yang sebagai sekertaris tuan juga ikut. Dan saya masih ingat dengan wajah ini. Namanya juga sama. Lani Anggina. Tapi jika tuan ragu, saya bisa menyelidikinya."
"Baiklah Ray. Secepatnya kau harus membereskan masalah Aldi. Agar istriku tidak bekerja terlalu keras."
"Iya baik tuan."
. Tak seperti biasanya, Sudah beberapa hari Dinda tak ada menghubungi Aldi sama sekali. Ia pun tak sempat menemuinya karena pekerjaan yang masih menumpuk dan waktu yang tidak memungkinkan. Terkadang Aldi pulang sangat larut bahkan sampai tidak pulang jika ia sudah memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Karena di jam ini tak ada jadwal untuk pekerjaannya, Aldi memutuskan untuk menemui Dinda ke tokonya dan sekalian menghibur hatinya yang kacau karena kecerobohannya. Meskipun suratnya sudah di robek oleh Bagas, namun hatinya tetap tidak tenang.
Sampai di depan toko, Aldi bergegas memasuki toko dan di sambut oleh teman Nisa.
"Apa Dinda ada?" Tanya Aldi dengan ramah.
"Kak Dinda nya sedang tidak ada tuan." Jawabnya tak kalah ramah.
__ADS_1
"Kemana?"
"Saya kurang tahu, tapi tadi--"
"Tuan Aldi." Pekik Nisa yang menyela dengan cepat agar temannya tidak melanjutkan ucapannya.
"Dinda kemana Nis?" Tanya Aldi beralih menatap Nisa dengan wajah yang mulai khawatir.
"Kak Dinda nya ada urusan katanya. Dan tadi berangkat sebelum tuan ke sini."
"Apa kau tahu kemana dia pergi?"
"Kurang tahu tuan. Tapi, nanti kalau kak Dinda sudah kembali, saya akan bilang pada kak Dinda untuk menghubungi tuan." Ucapnya dengan secara tidak langsung seakan menyuruh Aldi pergi.
"Baiklah Nis. Maaf mengganggu."
"Iya tak apa tuan."
Segera Aldi berlalu dari hadapan Nisa dan temannya dan menyisakan sebuah pertanyaan di benak Aldi kemana Dinda pergi. Mengapa Nisa seperti panik dan seakan menyembunyikan sesuatu darinya. Beberapa kali ia menghubungi nomor Dinda, namun tak kunjung ada jawaban. Ia semakin khawatir takut jika terjadi apa-apa pada Dinda.
. "Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Dinda berusaha menghindari kontak mata dengan mantan kekasihnya, Emilio. Keduanya saling berhadapan di sebuah cafe tempat mereka membuat janji.
"Aku... mau kembali padamu. Aku janji--"
"Aku tidak butuh janji Lio. Aku butuh bukti." Tegas Dinda menyela dengan cepat.
"Dengarkan aku dulu. Aku sudah bergabung dengan kakak."
"Lalu? Huftt Lio... bukan karena masalah itu, sekarang aku sudah menemukan penggantimu. Maaf." Emilio menyernyit tak percaya, ia terkekeh dan tertawa sedikit keras didepan Dinda.
"Aku sudah jauh-jauh kemari untuk menjemputmu, dan disini kau sudah punya pria lain? Apa dia Aldian?"
"Bukan urusanmu." Dinda beranjak namun tangannya di tahan oleh Emilio dengan cepat.
"Maaf Lio. Aku sedang sibuk."
"Haha sibuk? Dengan Aldian? Kenapa dia tidak mati saja saat kecelakaan."
"Jadi kau yang membuatnya kecelakaan?" Dinda tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan yang dikatakan Emilio.
__ADS_1
-bersambung