RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
71


__ADS_3

. Maira dan Bagas masih saling berbincang meskipun keduanya begitu canggung. Dan dari tempatnya, Dinda tersenyum melihat tingkah keduanya yang kaku, ia sengaja memilih untuk meninggalkan mereka dengan alasan ingin mencoba beberapa baju. Bagas dan Maira kompak menunggu Dinda di sebuah kursi dan membaca beberapa katalog sembari menunggu Dinda keluar dari ruang pas.


"Bagaimana?" Tanya Dinda ketika dia keluar. Sontak Bagas menggeleng, namun Maira memberi jempol pada Dinda. Dinda sekali lagi bertanya dengan kode, dan jawabannya masih sama.


"Kau seperti ibu-ibu Dinda." Ucap Bagas memberi komentar.


"Jahat sekali kau Bagas." Dinda berbalik dan memasuki kamar pas dengan malas.


"Kalau ini?" Tanya Dinda setelah ia berganti pakaian lagi. Dan kali ini keduanya menggeleng dan memasang wajah yang menyebalkan. Lagi, Dinda berbalik dengan malas mengganti pakaiannya.


"Ini?" Sekarang giliran Bagas yang setuju namun Maira yang menggeleng tak setuju.


"Kenapa tak setuju? Itu bagus." Protes Bagas dengan kesal memarahi Maira.


"Kau gila Bagas? Nanti Dinda akan jadi tontonan lelaki hidung belang. Lihat dadanya! Belahan V nya terlalu bawah." Sontak Bagas memalingkan pandangannya dan Dinda menutupi bagian dadanya karena ucapan Maira yang seenaknya.


Ganti! "Titah Bagas dan Maira dengan serentak.


"Kalian saja yang cari." Balas Dinda memalingkan wajahnya dengan merajuk. Dan dengan kesal, Maira mencari gaun yang ia rasa pantas untuk di kenakan oleh temannya. Begitu pun Bagas yang mencari ke arah yang berlawanan. Namun, keduanya hanya berputar-putar tak mendapat hasil yang mereka harapkan. Hingga akhirnya keduanya sampai di tengah-tengah dan mereka meraih gaun yang sama secara bersamaan. Keduanya sempat saling berpandangan beberapa saat lalu pandangan mereka membuyar saat Dinda menghampiri mereka dan mengambil gaun tersebut.


"Terima kasih.... aku coba ya! Selera kalian sama juga ternyata." Ucap Dinda tertawa kecil sembari terus melangkah menuju kamar pas. Lagi-lagi Maira dan Bagas dilanda kecanggungan sehingga suasana kembali hening. Dinda keluar dari kamar pas lalu memperlihatkan penampilannya pada kedua orang yang menunggunya di tempat yang tadi. Bagas dan Maira tertegun lalu keduanya saling senyum karena berhasil membuat Dinda terlihat menarik. Tanpa sadar, Bagas dan Maira saling memberi tos dengan tawa bahagia mereka. Saat keduanya akan berpelukan, Maira menarik diri lalu sedikit menjauh dari Bagas.


"Ma-maaf. Aku refleks." Ucap Bagas yang sama-sama gugup menjadi canggung kembali. Maira hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Bagas dan ia menyelipkan rambutnya di telinga.


"Cantik." Batin Bagas saat ia menatap dalam wajah Maira dari samping.


"Baiklah. Aku ambil ini ya Maira." Ucap Dinda membuyarkan lamunan Bagas. Maira membawakan baju tersebut dan memberikannya pada kasir.


"Sudah berapa lama dia kerja disini?" Tanya Bagas berbisik pada Dinda yang terkejut mendengarnya.


"Bagas berpikir Maira kerja disini?" Batinnya tertawa kecil membuat Maira menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Hemmm sekitar 2 tahunan. Kenapa? Kau mulai penasaran pada temanku?" Ejek Dinda membuat Bagas kembali merajuk. "Dia bos disini." Seketika Bagas membeku mendengar ucapan Dinda, namun Bagas masih memilih diam. Ia bersikap seolah ia tak terkejut sama sekali. Sampai saat Maira menghampiri Dinda lalu memberikan barang yang sudah di kemas.


"Sudah di atur. Seperti biasa, aku beri diskon 25%. Kau tak keberatan kan?" Tutur Maira pada Dinda yang menanggapinya dengan tersenyum.


"Terima kasih Maira.... kau memang sahabatku yang cantik, baik, rendah hati, dan juga....."


"Apa?"


"Tidak... jangan galak-galak Mai... nanti susah dapat jodoh." Ejek Dinda tertawa dengan puas lalu pergi meninggalkan temannya yang masih berdiri memastikan Dinda dan Bagas tidak belanja lagi.


. "Jadi dia bos di gerai itu?" Tanya Bagas membuat Dinda kembali tertawa kecil. Bagas menghela nafas malas menghadapi sikap Dinda hari ini.


"Aku bertanya serius Dindaaaaaaaaa Anindiraaaaaa." Geram Bagas yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi.


"Aih? Kau tahu nama lengkapku?" Dinda terlihat begitu terkejut. Setahunya, ia belum pernah menyebutkan nama lengkapnya pada Bagas atau pun Aldi yang sudah mau menjadi suaminya.


"Aku sudah tahu." Balas Bagas terlihat sangat santai sembari melajukan mobil sedikit cepat.


"Bukankah namamu jelas tertera di berita peresmian jabatanmu?" Sontak Dinda tertawa kikuk mendengar jawaban Bagas yang menurutnya sangat simple itu.


"Oh iya Bagas. Jangan dulu ke rumah ya... kita ke tempat percetakan undangan dulu."


"Memang lokasinya dimana?"


"Sedikit jauh dari rumahku."


"Oke. Beritahu aku saja nanti."


"Emmm... Bagas. Apa aku boleh bertanya?"


"Aku tidak menyukaimu, dan kau juga akan menikah." Ucap Bagas tiba-tiba.

__ADS_1


"Ehhh siapa yang mau denganmu? Lagi pula aku sudah ada Aldi. Maaf ya Bagas." Balas Dinda yang tak ingin kalah.


"Hemmmm dulu Emilio, sekarang Aldi, besok siapa?"


"Bagas.... aku serius ingin bertanya padamu."


"Iya apa Dinda?"


"Kau pasti tahu kan hubungan Aldi dan Avril dulu?"


"Oh jelas. Mereka temanku dari kecil."


"Ceritakan!"


"Apa?"


"Hubungan mereka berdua."


"Iya apanya?"


"Ya apa saja. Bagaimana mereka memulai hubungan, dan mengapa mereka putus."


"Bagaimana ya? Emmmm Avril itu bisa di bilang bunga mawar berduri."


"Maksudnya?"


"Dia cantik, indah, dan juga menawan. Tapi tak seorang pun yang bisa menyentuhnya dengan sembarangan. Dia bagaikan berlian bagi kakaknya. Dan kita bertiga yang memang sudah menjadi temannya dari kecil, dan juga sudah di percaya oleh kak Galih untuk menjaga Avril pun, merasa bahwa kita bertiga punya tanggung jawab pada keselamatan dan keadaan Avril selama di luar rumah. Sampai kita tahu bahwa Aldi menyukai Avril lebih dari sekedar teman, sampai mereka jadian saat kita di bangku SMP. Tapi kebersamaan mereka tidak berlangsung lama, Aldi pindah kota saat kita masih kelas 1 SMA. Tapi saat kuliah, aku dan Reno menjaga Avril mati-matian dari Aldi sendiri, karena saat itu Aldi sudah bukan lagi pacar Avril. Avril menunggu Aldi selama 5 tahun, dan Aldi pulang dengan membawa kenyataan tak terduga. Aldi bertunangan dengan Syifa, dan beralasan mereka di jodohkan. Sampai Avril bertemu dengan Alvi. Banyak yang terjadi selama kita menjalani persahabatan. Dari kabar baik, sampai kabar duka." Jelas Bagas menceritakan panjang lebar membuat Dinda hanya terdiam dan tak menanggapi lagi.


"Kalau seandainya Aldi tidak bertunangan dengan Syifa? Apakah Aldi akan menikah dengan Avril?" Tanya Dinda dengan lirih berhasil menyimpulkan senyum di bibir Bagas.


"Aku rasa, mereka tetap akan menikah bagaimana pun jalannya. Karena Aldi dan Avril sudah tidak bisa bersama." Dinda semakin penasaran mengapa Bagas mengatakan hal demikian.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2