
. Setelah Aldi menginap satu malam selepas akad di rumah mertuanya, kini waktunya Dinda ikut pulang dengannya ke kota J, dan mereka akan hidup sebagai suami istri di sana. Hadi dan Salma mengantarkan kepergian putri mereka ke landasan. Meski berat, namun hanya ini cara terbaik agar Dinda bisa terhindar dari berbagai masalah yang mungkin muncul dari orang-orang terdekatnya. Berhubung Baren dna Dewi sudah pulang lebih awal, hari ini tinggal Aldi dan Dinda saja yang berangkat.
"Aldi memang baik ya mas." Ujar Salma menatap kepergian Dinda yang sudah terbang menembus udara.
"Iya. Semoga saja Dinda bahagia dengannya." Tutur Hadi menepis semua perasaan negatifnya dan ia terus berharap akan kebahagiaan putri dan menantunya.
"Ahhh aku sudah tak sabar ingin menimang cucu." Ucap Salma mendadak terlihat mengkhayal.
"Iya. Tapi kehadiran Rei juga sudah membuatku menjadi kakek sepenuhnya. Rei sangat penyayang meski usianya masih balita. Aku jadi kagum pada gadis yang membesarkannya. Kata Bagas, gadis itu masih lajang saat merawat Rei yang masih bayi. Tapi didikan dan kasih sayangnya seperti seorang ibu yang sudah berpengalaman."
"Iya. Aku juga melihatnya begitu."
. Sampai di landasan milik Alvi, terlihat Avril sudah menunggu mereka bersama Alvi dan Reifan yang kini tengah memegang tangannya menatap pada pesawat yang landing di depan matanya. Saat Aldi turun, Reifan tersenyum girang dan menoleh sesaat pada Avril seakan menunjukkan kebahagiaannya. Avril menyambut keduanya dengan ramah dan memeluk Dinda penuh rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Terima kasih Dinda." Dinda yang mengerti arti ucapan Avril pun hanya membalas pelukan Avril dengan tersenyum.
"Maaf tidak memberitahumu." Balas Dinda setelah keduanya melepas pelukan mereka.
"Aku kesal Dinda. Sangat kesal. Tapi, rasa bahagiaku mengalahkan rasa kesalku padamu." Mendengar celotehan Avril demikian, Dinda yang semula khawatir karena takut jika benar Avril marah padanya pun mulai tertawa di buatnya.
"Bunda...." panggil Reifan menyela perbincangan mereka. Dinda menepuk dahinya, hampir saja ia lupa dengan keberadaan Reifan.
__ADS_1
"Apa sayang?" Tanyanya langsung berjongkok dan meraih pundak Reifan yang meraih tangan Avril di sampingnya.
"Mommy ada dedek bayi. Disini bunda. Dedek bayinya gerak." Celotehnya seraya menunjuk perut Avril yang kian hari kian membesar.
"Benarkah? Rei suka bermain dengan dedek bayi?" Dinda menanggapi dengan tak kalah antusias.
"Tidak bunda. Dedek bayi belum bisa main dengan Eifan."
"Kan sebentar lagi dedek bayinya keluar dan bisa bermain dengan Rei."
"Keluar? Disini?" Tanya Reifan dengan polos meraba perut Avril. Dinda mematung, ia baru tersadar sudah mengatakan hal yang seharusnya tak perlu di katakan pada anak kecil.
"Emmm Rei mau adik lagi?" Tanya Dinda berhasil membuat Aldi dan Alvi menoleh seketika, meski keduanya tengah berbincang, namun ucapan Dinda jauh lebih menarik perhatian bagi mereka. Dinda kembali mematung, wajahnya kini bersemu merah karena malu. Niat hati ingin mengalihkan pembicaraan, namun ia malah menarik perhatian.
"Ahhh Aldi! Sepertinya kalian lelah. Bagaimana kalau Ray mengantar kalian pulang." Ucap Alvi memecah kecanggungan yang malah menjadi semakin canggung.
"Oh Rei. Rei mau ikut mommy? Kita dengar dedek bayi lagi mau?" Kini giliran Avril yang memecah kecanggungan di antara mereka.
"Mau... yee dedek bayi." Dengan antusias Reifan ikut dengan Avril ke rumah bersama Ray yang menjadi pengawal pribadi Avril.
"Hei. Aku di tinggal." Protes Alvi kemudian menyusul Avril yang sudah berlalu. Dinda yang di tinggalkan berdua dengan Aldi menjadi gelisah sendiri. Meski bersama suami sendiri, namun ia belum terbiasa jika berduaan dengan Aldi begini.
__ADS_1
"Ehem." Aldi terbatuk berniat mencairkan suasana, namun Dinda terhenyak dan sepertinya ia tengah melamun sehingga terlihat wajah paniknya.
"Al... aku tak bermaksud bicara yang tidak-tidak. Aku hanya.... hanya..." melihat kepanikan Dinda, Aldi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri membuat Dinda membungkam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau sudah mau beri Rei adik hem?" Dan seketika itu juga, wajah Dinda semakin memerah dibuatnya. "Wajahmu merah sayang." Bisik Aldi langsung ke telinga Dinda. Ingin sekali Dinda memukul wajah Aldi dengan keras saat ini, namun ia tahu resiko memukul Aldi akan seperti apa.
. Aldi dan Dinda segera pulang dan beristirahat dari lelahnya perjalanan jauh yang mereka lalui. Sampai di rumah, keduanya di sambut hangat oleh Dewi yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kalian istirahat ya! Kamarnya sudah mama bereskan." Tutur Dewi seraya mengantar mereka ke sebuah kamar di lantai 2 yang jelas itu bukan kamar Aldi. Aldi yang sempat ingin protes karena kamarnya di pindahkan tanpa izin, niatnya urung ketika melihat sorot mata Dewi yang menatapnya penuh arti. Sangat jelas Dewi menghindari hal yang nantinya mungkin akan membuat Aldi dan Dinda bertengkar. Pasalnya kamar yang semula Aldi tempati adalah kamar yang dulunya di tempati saat bersama Syifa. Dan foto-foto Syifa pun masih ada di kamar tersebut. Dewi sengaja mengunci rapat kamar itu agar Dinda tak melihat kenangan-kenangan putranya dengan mendiang Syifa dulu.
Aldi dan Dinda sama-sama berbaring di tempat tidur dengan memejamkan mata karena kelelahan. Sementara itu, Dewi bergegas kembali ke bawah untuk menyiapkan makan siang.
. "Al..." panggil Dinda dengan suara pelan. Alisnya berkerut karena ia tak mendapati sahutan dari suaminya. Diliriknya Aldi yang ada di sampingnya, Dinda termangu menatap wajah Aldi yang tengah terlelap tidur. Ia perlahan meraih rambut Aldi lalu mengusapnya dengan pelan, lalu membelai wajah Aldi dari pelipis hingga pipi.
"Suami ya?" Gumamnya pelan. Karena lelah, Dinda perlahan ikut memejamkan matanya dengan tangan yang masih di pipi Aldi.
Ketika Aldi terbangun dan membuka matanya perlahan, ia mendapati wajah Dinda yang menggemaskan saat tidur. Senyumnya tersimpul saat menyadari tangan Dinda terasa hangat di pipinya. Kemudian Aldi meraih tangan Dinda lalu menciumnya dan kembali di letakkan di pipinya. Aldi beralih memeluk Dinda lalu mengecup dahi Dinda sebelum dirinya kembali terlelap.
. Tak terasa, hari sudah melewati waktu siang, Dinda perlahan mengerjapkan matanya dan mulai sadar bahwa ia tengah di peluk oleh seorang pria. Saat ia ingin menjauh, ia teringat kembali bahwa Aldi adalah suaminya.
"Jantungku tak bisa di kendalikan." Batinnya.
__ADS_1
-bersambung.