
. Setelah di rasa tenang, Dinda membawa Maira ke toko dan ia membiarkan Maira untuk menceritakan semua kesedihannya karena mendapati kekasihnya menginap di hotel yang sama dengannya, dan yang membuatnya pilu, kekasihnya menginap dengan wanita lain. Dinda yang punya rencana tersembunyi, diam-diam menelepon Aldi untuk mengadakan makan malam di manapun agar Maira merasa lebih tenang.
"Kak Dinda. Tadi ada pembeli yang menanyakan kakak." Ucap Nisa setelah Dinda menutup teleponnya dengan Aldi.
"Siapa Nis?" Tanyanya mulai penasaran.
"Dia tidak memberitahu namanya kak."
"Ciri-cirinya?"
"Cantik, modis, tubuhnya langsing, rambutnya pirang, dan sepertinya bukan orang sembarangan. Nisa merasa orang itu sama dengan kak Dinda."
"Sama bagaimana Nis?"
"Seorang yang punya jabatan tinggi." Mendengar jawaban terakhir Nisa ini, Dinda seketika menyipit dan ia sekilas mengingat pada Shana.
"Baiklah Nis. Terima kasih." Dinda beralih kembali ke ruangannya dan menghibur kegundahan hati Maira yang tengah patah.
Menjelang sore, seperti biasanya Dinda pulang sebelum toko di tutup. Sebelum pulang, sesuai perjanjian dengan Aldi, Dinda dan Maira bergegas menuju sebuah restoran yang sudah di tentukan.
"Istrimu mana Al? Katanya dengan Dinda?" Tanya Bagas setelah mereka sampai di restoran dan tak mendapati Dinda di sana.
Dinda berjalan dengan tergesa dari parkiran menuju ke tempat dimana Aldi sudah menunggu. Dinda segera menghampiri Aldi dan Bagas, namun Maira terlihat malu untuk bertemu dengan pria yang ternyata di dekatkan dengannya. Ia menunduk menyembunyikan wajah sendunya dari Bagas yang meliriknya sesaat kemudian memalingkan wajahnya. Terlihat jelas Bagas seperti tak menyukai posisi duduknya yang dekat dengan Maira saat ini.
"Al... kata Reno ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sepertinya aku tak bisa berlama-lama, aku pergi ya! Kasihan Reno."
"Sudah aku undur pertemuannya, jadi pekerjaan Reno dan kau hari ini sudah selesai." Tegas Aldi membalas alasan Bagas sehingga Bagas terdiam dan mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Kalau begitu, tukar posisi Al." Dengan memasang wajah gusar, Bagas terlihat tak nyaman dengan tempat duduknya.
"Kau tak mau dekat denganku?" Maira bertanya dengan melirik sinis pada Bagas yang mendelik menghindari kontak mata dengannya.
"Maaf. Aku tak mau dekat dengan calon istri orang." Balas Bagas sehingga Maira diam tak lagi berucap.
"Dan kau lebih suka jika dekat dengan istri orang? Begitu?" Sontak Bagas terdiam, ia melirik Aldi perlahan, lalu tawa konyolnya terlihat saat mendapati Aldi tengah melirik tajam ke arahnya.
"Bu-bukan begitu Al. Aku.... aih bagaimana menjelaskannya ya?" Keluh Bagas mulai putus asa sendiri. Ia menunduk lesu dan memutar otak agar Aldi bisa mengerti.
"Lagi pula, kalian ini kenapa? Bukannya saat kita menikah, kalian terlihat dekat kan?" Goda Dinda membuat Bagas dan Maira memalingkan wajahnya karena gugup. Bagas yang semakin kesal, dan Maira yang semakin merasa bersalah.
"Kita tidak dekat. Kuta hanya mengobrol dalam batas wajar pertemanan. Untuk memastikan acara pernikahan kalian lancar, bukankah harus ada komunikasi antara aku dan teman mempelai wanita?" Dinda dan Aldi hanya manggut-manggut menanggapi celotehan Bagas yang sebenarnya hanyalah sebuah alasan semata.
"Hemmm benarkah? Tapi sepertinya kau menyukai kebersamaanmu dengan Maira." Ucap Dinda lagi.
"Sayang. Bisa antar aku bawa es krim?" Dinda sengaja bersikap manja di depan Bagas dan Maira. Dan Aldi pun menuruti keinginan istri tercintanya, lalu keduanya beranjak meninggalkan Bagas dan Maira berdua saja di mejanya. Maira mencuri-curi pandang pada Bagas yang memalingkan wajahnya agar tak terlibat kontak dengan Maira.
"Bagas!" Panggil Maira mencoba memulai obrolan mereka.
"Hemm." Tanpa ingin berbicara lebih, Bagas hanya menanggapi demikian.
"Apa kau marah padaku?"
"Tidak."
"Lalu? Kenapa kau berubah?"
__ADS_1
"Aku tidak berubah. Aku biasa saja." Kali ini Bagas menjawab seraya menoleh pada Maira, namun wajahnya masih memperlihatkan kekesalan yang entah kenapa rasa kesal itu muncul setiap melihat atau bahkan mendengar nama Maira. Apa lagi sekarang, ia berhadapan langsung dengan Maira, hatinya tak nyaman dan ingin segera pergi dari sana.
"Jujur padaku Bagas! Kau marah semenjak aku bilang bahwa aku sudah punya calon suami kan?" Bagas terdiam dengan sikap Maira yang begitu berani menanyakan sesuatu hal mengenai perasaan mereka, meski caranya yang tak langsung.
"Kau bicara seolah aku menyukaimu Maira."
Deg!'
Maira membisu seketika, dannia mendadak malu sudah mengatakan hal itu pada Bagas yang ia rasa sangat jelas Bagas ini begitu membencinya. Ia menunduk dan sedikit memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa malu yang membuat pikirannya mendadak kacau.
"Maaf Maira. Aku memang tak punya pasangan, dan aku mudah jatuh hati pada wanita. Tapi aku tak akan menjatuhkan hatiku pada wanita yang sudah memiliki calon suami. Bahkan wanita yang dekat dengan beberapa pria sekaligus, aku tak pernah lagi mengganggu dan mengharapkannya. Jangan menjebak ku dalan belenggu perasaanmu Maira. Aku tahu kau menyadari sikapku tempo hari bagaimana. Dan aku juga paham mengapa kau mengatakan ini sekarang." Mendengar ungkapan Bagas, Maira hanya bisa terdiam tak mengucapkan sepatah katapun meski sekedar membalas ungkapan Bagas.
"Aku memang bodoh dalam memilih wanita. Tapi aku tak bodoh dalam mencintainya. Siapapun wanitanya, jika aku sudah melabuhkan hatiku untuknya, maka perasaan itu akan tetap ada meski orangnya sudah pergi entah kemana." Tutur Bagas kemudian. Maira benar-benar membisu, ia tak bisa berkata apa-apa lagi saat ini.
"Apa kau sudah punya wanita lain?" Pertanyaan Maira yang tiba-tiba ini malah membuat Bagas tertawa dengan menatap Maira dengan ejekan.
"Wanita lain? Memangnya aku ada wanita di sisiku sekarang, sampai kau bertanya wanita lain?"
"Maksudku bukan begitu Bagas."
"Hahaha haih. Maira, maaf ya! Aku tipe orang yang setia. Jika aku punya 1 wanita di sisiku, aku tak akan mencari wanita lain. Dan aku juga tak akan memberi harapan palsu pada wanita lain. Aku akan sibuk dengan wanitaku sendiri." Kembali Maira terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi. Keduanya terdiam sampai Aldi dan Dinda kembali dengan membawa 4 cup es krim.
"Maaf. Aku pergi sekarang." Tanpa di duga, Maira dan Bagas berkata serentak, bahkan keduanya beranjak bersamaan sehingga mereka saling pandang dalam waktu yang lama.
"Mau kemana? Kenapa buru-buru?" Tanya Aldi berhasil membuyarkan lamunan mereka berdua. Maira dan Bagas kembali saling memalingkan pandangan dengan ekspresi yang berbeda. Bagas masih memasang wajah kesal pada Maira.
-bersambung
__ADS_1