
Sean tak terima mendapat penolakan halus dari Dinda. Ia tak menyerah hanya di sana saja. Sean berniat untuk meyakinkan Dinda bahwa dirinya serius ingin berumah tangga dengan Dinda.
"Apa Dinda? Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya dan yakin bahwa aku tidak bercanda?" Sean meraih kedua bahu Dinda dan tanpa ia sadari, ia tengah menggertak Dinda dan memaksanya agar meu menerima lamarannya.
"Aku juga serius Sean Alfa Danish. Aku tidak bercanda. Aku memang tak bisa menjadi istrimu."
"Tapi kenapa Dinda? Kau dan Aldian tidak jadi menikah kan? Sekarang kau sendiri kan?"
"Siapa bilang? Aku dan Aldi masih bersama." Kali ini suara Dinda terdengar begitu tegas.
"Lalu, mana buktinya?" Mendengar gertakan Sean ini, Dinda mendadak gugup sebab ia melepas cincin nikahnya di kamar karena beberapa alasan. Jika tahu Sean akan datang melamarnya begini, mungkin ia akan memakai cincinnya dan memperlihatkan pada Sean bahwa dirinya sudah menikah.
"Tak ada kan? Ayolah Dinda. Apa bedanya aku dan Aldian? Kau belum bisa berpaling dari Aldian kan? Makanya kau menolak ku begini."
"Tidak Sean. Aku serius. Aku dan Aldi sudah...." ungkapannya terhenti, ia merasa ragu untuk mengatakan bahwa ia sudah menikah dengan Aldi. "Apa aku harus menegaskan bahwa aku sudah menikah dengan Aldi? Tapi tanpa izin dari ayah dan Aldi, aku tak mungkin mengatakan kebenarannya. Jika aku mengatakannya sekarang, pasti akan ada orang lain yang tahu bahwa aku sudah menikah dengan Aldi." Batin Dinda mendadak gelisah sendiri.
__ADS_1
"Apa kau dan Aldi sudah melakukan hubungan terlarang? Mengapa mendadak diam dan gelisah Dinda? Aku tak peduli kau pernah berbuat apa dengan Aldi, jika hubungan kalian sudah berakhir, aku tak akan mengungkitnya, dan aku juga akan menerima dirimu seutuhnya." Dinda semakin dibuat panik oleh Sean yang ternyata tetap teguh dengan pendiriannya.
"Jangan gila Sean. Aku istri orang." Mendengar pengakuan Dinda tersebut, Sean semula terdiam tak percaya, kemudian ia tertawa dengan lepas karena berpikir Dinda hanya mencari alasan agar tak menerima lamarannya.
"Apa kurangnya aku Dinda? Aku tidak lebih buruk dari Aldian. Justru aku jauh lebih baik jika dibandingkan dengannya. Aku menyayangi putriku, tidak seperti Aldi yang selalu mengabaikan anaknya."
"Tahu apa kau tentang Aldi?" Dinda bertanya dengan memasang wajah kesal mendengar nama suaminya dijelek-jelekan oleh orang asing.
"Kau tak mungkin tak mendengar rumor yang sudah menyebar luas. Sekarang, katakan Dinda! Apa yang membuatmu tidak menerimaku? Karena Aldian? Apa kelebihannya sampai kau tak bisa melihat perasaanku?" Sean menatap Dinda dengan tajam, dan ia semakin mendekati Dinda yang terus menghindarinya. Sampai Dinda terhimpit di tembok, Sean masih mengunci tubuh Dinda dengan tangannya yang ia letakkan di samping kepala Dinda.
"Kau berkata seperti kau tidak pernah tersakiti olehnya. Aku tahu Dinda! Kau sangat terluka kan? Aldian meninggalkanmu setelah kau membatalkan pernikahan kalian karena kondisimu yang hilang ingatan. Dan aku dengar, Aldi dekat dengan adikku Shana." Mendengar ucapan Sean tersebut, Dinda terbelalak seketika. Ia menatap Sean dengan tajam dan mendorong tubuhnya agar menyingkir dari hadapannya. Dinda berlalu ke ruang pribadinya meninggalkan Sean sendiri di depan meja kerjanya. Melihat reaksi Dinda, sejujurnya hati Sean merasa tersayat.
"Jadi benar, kau masih mencintai Aldian, kau menolak ku bukan karena kau istri orang, tapi kau belum bisa melepaskan masa lalu mu." Lirih Sean menunduk lesu, lalu beranjak pergi dari toko Dinda dengan perasaan yang gundah. Ia merasa menyesali tindakannya hari ini, yang seharunya tak memaksa Dinda untuk menerima kehadiran dirinya di hidup Dinda. Sean memaki dirinya sendiri karena susah lancang mengungkapkan perasaan tanpa tahu bagaimana kedepannya jika hal ini terjadi. Setelah ini ia pasti akan canggung jika bertemu dengan Dinda, apa lagi ia bukan dari keluarga yang biasa saja. Kemungkinan, ia akan bertemu dengan ayah Dinda yang ia ketahui adalah anak dari Hadi, rekan bisnisnya.
Singkat cerita, sore harinya, Dinda terlihat murung meski sudah dijemput oleh suami tercintanya. Aldi yang merasakan perbedaan sikap Dinda dibanding kemarin pun lantas mempertanyakan hal tersebut.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Kau kurang sehat? Atau ingin sesuatu?" Tanya Aldi dengan fokus menyetir namun tangan lainnya mengelus lembut rambut Dinda.
"Al... bagaimana kalau aku belum hamil juga? Apa Rei akan terus bersama Avril?" Mendengar hal itu, Aldi hanya tersenyum tanpa ingin menambah beban pikiran istrinya.
"Kenapa buru-buru? Rei dekat dengan Avril karena ia kebetulan hanya punya Ravendra sebagai teman. Dan juga, tak mungkin Rei akan lebih menyayangi Avril hanya karena Avril sudah memberikan adik untuknya. Lagi pula, anak Avril bukan adik kandungnya, dari biologis sampai hukum. Rei tetap anak kita. Dan nantinya dia juga kakak kandung dari anak yang akan kau lahirkan. Jangan terlalu memikirkan hal itu, Rei masih kecil, dan ia belum tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dia hanya mengikuti instingnya saja dalam bermain. Sudah ku bilang, Rei menjaga anak Avril sekarang, ya.... sebagai latihan untuk menjaga adiknya nanti. Dan juga, aku tidak memaksa ingin punya anak cepat-cepat. Jika kau belum siap, kau boleh pakai KB untuk menunda kehamilan. Dan jika memang kau sudah siap, aku akan merasa senang juga."
"Sebenarnya aku sudah siap Al. Tapi, apa aku sudah pantas?"
"Kenapa bertanya? Jika kau sudah siap, maka artinya kau sudah pantas." Aldi menjawab dengan terkekeh seraya mencubit pipi Dinda dengan gemas.
"Sakit...." rengek Dinda membuat Aldi semakin puas menjahili istrinya.
Sampai di rumah, terlihat Reifan berlari dengan gembira menyambut kedatangan mereka. Reifan memeluk Dinda dan ia mendadak terlihat begitu manja. Namun, saat ini yang terlintas di pikiran Dinda hanyalah Sean saja. Ia takut jika Sean akan membahayakan Reifan jika tahu Reifan adalah anak tirinya. Dinda masih trauma dengan apa yang terjadi belakangan ini karena ulah Aulian yang selalu nekat bertindak semaunya. Dinda berniat untuk menyembunyikan identitasnya sebagai istri Aldian, apa lagi pada Sean yang ia pikir akan membahayakan nyawa Reifan karena membalas dendam ditolak olehnya.
Bersambung
__ADS_1