
Meski Avril sudah menamparnya, namun Aldi masih mengharapkan maaf dari Avril karena sudah meminta Reifan agar tak menyebut Avril dengan sebutan Mommy lagi.
"Avril.. Aku...."
"Maaf, istriku tak mau mendengarkan mu. Jadi, aku harap kau mengerti." Ucap Alvi menyela sebelum Aldi mengungkapkan isi hatinya.
"Tapi Al. Aku hanya ingin..." tanpa menunggu Aldi menjelaskan, Alvi tetap tak mempedulikan Aldi. Ia membawa Avril ke dalam mobil dan segera meninggalkan Aldi yang putus asa dibuatnya. Aldi menatap kepergian mobil Alvi yang berlalu semakin jauh.
Suatu waktu, Aldi yang sudah tak bertemu dengan Alvi selama berhari-hari sejak kejadian itu pun akhirnya bisa menghela nafas lega ketika ia tahu ada sebuah kontrak kerja sama yang dibuat pihak perusahaan D kepada perusahaannya. Dan dengan senang hati Aldi akan mendatangi Alvi langsung ke perusahaan D.
Namun, saat ia akan menandatangani surat yang dibawa Bagas, matanya membulat saat ia membaca isi dari surat tersebut. Bukan hanya itu, raut wajah Bagas pun terlihat lesu dan sendu. Aldi menatap Bagas berharap temannya itu akan menjelaskan sesuatu.
"Alvi membatalkan kontrak kerja sama dengan kita Al. Bahkan Alvi mencabut saham yang dia berikan pada perusahaan kita." Jelas Bagas terdengar seperti seseorang yang sudah tak punya tenaga sama sekali.
"Dimana Reno?" Tanya Aldi mendadak ikut merasa lemas.
"Sedang menemui Ray di perusahaan D. Dia harap, kedatangannya akan merubah pikiran Alvi." Mendengar jawaban itu pun, Aldi beranjak lalu mengambil berkas yang ia simpan asal di atas meja. Bagas yang hanya sebatas asisten dan sekertaris Aldi pun segera menyusul Aldi kemanapun Aldi pergi.
Singkat cerita, Aldi sampai di perusahaan D, dan ia segera menuju ruangan Alvi tanpa membuat janji terlebih dahulu. Ketika ia hendak memasuki lift, ternyata di dalam lift adalah pemilik perusahaannya sendiri. Aldi hendak berbicara, namun terlihat Alvi yang seperti tak menganggapnya ada. Bahkan Reno yang mengikutinya dari belakang pun tidak Alvi hiraukan.
"Ray. Siapkan mobil! Aku akan pulang sekarang. Aku khawatir kalau Avril kerepotan mengurus Zeeya sendiri." Ucap Alvi terus melangkah menghindari Aldi dan Reno.
"Tapi tuan. Meeting akan segera dimulai. Dan juga hari ini dan nona Nad--"
"Kau memerintahku?" Tegas Alvi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap Ray dengan tajam.
"Ma-maaf Tuan. Sa-saya tidak bermaksud." Sesal Ray yang menunduk dibuatnya.
"Alvi. Aku ingin bicara padamu." Ucap Aldi namun lagi-lagi tak dihiraukan oleh Alvi.
__ADS_1
"Al... aku ingin..." melihat Alvi terus berlalu, Aldi tak melanjutkan kalimatnya. Dengan perasaan yang berkecamuk, antara kesal dan menyesal, Aldi mencoba menjelaskan sesuatu yang mungkin menjadi penyebab kenapa Alvi bisa membatalkan kontrak perjanjian mereka.
"Al. Tunggu dulu." Kali ini Aldi meraih bahu Alvi yang hendak membuka pintu mobil. Namun, hal itu tak membuat Alvi menoleh ke arahnya. Alvi malah diam dan terlihat menghela nafas sejenak.
"Al... maaf kalau aku sudah--"
"Lepaskan tangan anda Tuan Aldian. Saya sedang buru-buru." Ucap Alvi seketika menghentikan hal yang ingin di ungkapkan oleh Aldi.
"Apa?" Hanya itu pertanyaan yang terlontar dari mulut Aldi yang mungkin keheranan dengan bahasa asing yang Alvi ucapkan. 'Anda' dan 'saya' mungkin dua kata yang sangat formal bagi sesama pimpinan perusahaan yang sudah lama saling mengenal dan menjalin kerja sama yang baik.
"Saya sedang terburu-buru. Apa anda tidak mendengar?" Dan kali ini nada bicara Alvi semakin tegas.
"Saya? Anda? Al.. apa aku salah dengar? Sejak kapan?"
"Maaf. Apa saya salah bicara? Anda itu mantan pacar dari istri saya. Dan, tidak ada alasan lain untuk saya berbicara tidak sopan pada anda. Saya katakan sekali lagi, saya sedang buru-buru."
"Memang saya yang sebelumnya bagaimana?"
"Kau tidak formal begini Al. Kau seperti orang yang berbeda." Mendengar hal itu, Alvi hanya tersenyum menanggapi, dan ia bersikap seolah ia benar-benar merasa tak peduli dengan Aldi.
"Ray. Gantikan aku meeting. Dan tolong suruh Tuan Aldian untuk pulang. Sebab di agenda, kita tak ada jadwal pertemuan dengan perusahaan lain. Benar kan?" Ray yang mengikuti permainan Alvi pun mengangguk saja menanggapinya.
"Al.. tunggu dulu. Aku ingin bicara." Lagi-lagi Aldi menahan Alvi yang sudah mulai membuka pintu. "Al... jika aku salah, aku minta maaf. Aku tak bermaksud memisahkanmu dengan Rei. Aku hanya tak mau nantinya Rei akan bergantung padamu dan melupakan siapa keluarganya." Lanjut Aldi menjelaskan.
"Rei siapa?" 'Deg' Aldi merasa hatinya tertusuk sebuah belati dengan satu serangan. Nafasnya mendadak sesak, dan dadanya terasa sakit. Bisa-bisanya Alvi dengan mudah melupakan Reifan.
"Al... apa-apaan ini? Aku tidak bercanda Al." Protes Aldi yang sudah tak tahan dengan permainan yang Alvi mainkan.
"Bercanda? Apa anda pikir rasa sakit yang Istri saya rasakan itu hanya bercanda? Ibu yang sudah membesarkan Putra angkatnya, tapi sekarang dia tak bisa lagi menggapainya. Ayah yang tak bertanggung jawab, sekarang bersikap seolah dia yang paling berjasa atas anak itu."
__ADS_1
"Al... kau tak mengerti."
"Maaf. Sebaiknya anda pulang! Karena saya tidak ada jadwal pertemuan dengan pimpinan perusahaan manapun. Hari ini saya ingin menghabiskan waktu dengan Istri dan anak saya."
"Tapi Al..." meski Aldi sudah mencoba, namun Alvi tetap tak ingin menghiraukan Aldi sedikitpun. alvi memilih untuk segera pergi meninggalkan Aldi yang mematung bersama teman-temannya.
Dari dalam lobby, Ray menatap nanar para tamu yang tak di undang di depan teras lobby tengah berbincang ringan dan kemudian beranjak pergi. Setelahnya Ray memasuki lift dan membuka sebuah berkas berisi salinan pembatalan kontrak kerja sama dengan Aldi.
"Padahal untuk apa Tuan membuat ini?" Gumamnya pelan. Ia hanya tersenyum tipis menghadapi sikap Alvi yang menyudutkan Aldi dengan berpura-pura membatalkan kontrak mereka.
Sampai di rumah, Alvi langsung masuk ke ruang keluarga dan menghampiri Avril yang tengah menimang Zeeya dengan melamun. Dan sesegera mungkin Alvi memeluk istrinya dan ia tahu benar apa yang dirasakan Avril saat ini.
"Aku rindu Rei Al..." tangis Avril pecah seketika di pelukan Alvi.
"Sini Zeeya viar aku yang gendong." Ucap Alvi setelah melepaskan pelukannya.
"Avil..." panggil Aldi yang tiba-tiba datang dan memasuki rumah tanpa menghiraukan Bu Rumi yang menyambutnya. Aldi segera menghampiri Alvi yang langsung beranjak menghindarinya dengan membawa Zeeya ke kamar tamu. Alvi melihat kini Aldi tengah bersimpuh di depan Avril yang memaksakan diri untuk berhenti menangis.
"Aku... minta maaf Avil."
"Aku juga minta maaf Al. Hari ini aku sibuk. Jadi, sebaiknya kau pulang. Aku tak mau kalau Dinda sampai salah faham padaku." Ucap Avril yang sama-sama beranjak dari duduknya dan hendak menyusul Alvi. Dan sesegera mungkin Aldi menahan langkah Avril dengan meraih tangannya.
"Avil... maaf aku salah. Aku hanya tak mau Rei akan terus bergantung padamu." Avril hanya terdiam menahan tenggorokannya yang ia rasa begitu mengganjal.
"Avil..."
"Kemana saja kau? Kemana saat Rei sakit, dan kemana saat Rei ulang tahun? Siapa yang merawatnya dari bayi? Hah? Aku Al. Aku. Kau tak akan pernah tahu bagaimana sakitnya dipisahkan dengan anak yang sudah aku besarkan sendiri."
Bersambung
__ADS_1