RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
74


__ADS_3

. Dinda membuka mata setelah beberapa saat ia tak sadarkan diri. Ia mengerjapkan matanya dan memaksa untuk sadar sepenuhnya. Terlihat langit-langit ruangan yang begitu asing, tempat tidur pun sangatlah asing meski memang terasa nyaman. Ia kemudian beranjak duduk dan meraih kepalanya yang masih terasa berputar. Saat ia ingat penyebabnya pingsan, Dinda menoleh ke sana kemari, lalu matanya membulat melihat seseorang yang tengah duduk manis di sudut ruangan.


"Sudah bangun? Berapa lama kau tidur sayang? Aku sudah lelah menunggumu. Oh iya. Tadi ayahmu datang, sepertinya dia sedang mencarimu. Kenapa dia sangat panik? Ahhhh karena yang membukanya anak buahku, jadi aku tak tahu jelas sepanik apa wajah ayahmu dan pengawal setianya." Dinda mengepalkan tangan melihat Emilio yang ia rasa begitu menjijikan sekarang.


"Lio. Apa kau yang menjebak ku?" Mendengar pertanyaan tersebut, Emilio terkekeh lalu beranjak dari duduknya, kemudian melangkah mendekati Dinda yang sudah berdiri di samping tempat tidur.


"Siapa bilang? Aku hanya meminjam nomor pengawalmu saja. Yaaa sangat gampang mengambil alih nomornya tanpa harus mengambil ponsel bagiku. Aku pikir Andra itu pintar, tapi dia cukup lengah juga ternyata."


"Apa maumu?"


"Ayolah sayang. Sejak kapan kau jadi pemarah? Aku hanya ingin bersenang-senang di hotel ini sebelum berpindah tangan pada Galih Permana. Jadi, temani aku sebentar oke?" Bujuk Emilio dengan tangan yang mulai terangkat hendak membelai pipi Dinda, dan Dinda sendiri hanya mengelak menghindari tangan Emilio.


"Yah sepertinya kau sulit di ajak bicara." Ucap Emilio kemudian.


"Siapa yang mau bicara denganmu?" Nada suara Dinda kini lebih terdengar kesal dari sebelumnya, bahkan sorot matanya pun lebih tajam mengintimidasi Emilio.


"Setelah berpisah dariku, mengapa kau menjadi begini Dinda? Kau jadi keras, pemarah, dan menakutkan."


"Sebaiknya kau jangan banyak bicara lagi, atau kau akan menyesal Lio." Ancam Dinda tak sedikitpun membuat Emilio merasa takut justru ia semakin nekat meraih tangan Dinda.


"Apa ini? Lepaskan!" Pekik Dinda yang meronta-ronta. "Lio. Lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan-"

__ADS_1


"Akan apa? Dinda. Sekarang tak akan ada yang menyusulmu ke sini. GPS di ponselmu sudah aku nonaktifkan." Setelah mengatakan hal tersebut, Emilio tertawa terbahak-bahak dengan puas. Kemudian ia melempar Dinda dengan kasar ke atas tempat tidur.


"Sebaiknya kau temani aku bersenang-senang."


"Apa yang kau lakukan Lio?" Pekik Dinda mulai panik dengan situasi yang tak menguntungkan baginya ini. Ia semakin panik saat Emilio mendekatinya dan duduk di atas ranjang dengan menyeringai menatap wajahnya. Namun, 'plak' Dinda menampar Emilio sekeras mungkin lalu ia beranjak dan segera berlari ke arah pintu. Melihat Emilio yang tak menyusulnya, Dinda segera mencari kontak Aldi atau ayahnya yang mungkin bisa di hubungi. Berhubung nama Aldi yang paling atas, Dinda segera menghubungi nomor Aldi. Ia semakin panik saat pemberitahuan ponsel Aldi tidak aktif.


Dinda mencoba memasukkan kode sandi untuk membuka pintu, namun tak ada yang berhasil. Kemudian karena panik, ia menggebrak pintu dan berteriak meminta tolong. Lagi-lagi Emilio berhasil membekap mulutnya dan menyeretnya ke tempat tidur.


"Kau pikir tamparanmu ini keras?"


"Lio aku mohon lepaskan aku." Kali ini Dinda merengek memohon agar dirinya bisa pergi sekarang.


"Lio... aku tak tahu apa masalahmu?"


"Masalahku itu dirimu Dinda. Kau tak mau kembali padaku, kau lebih memilih Aldi dari pada aku. Aku sudah berusaha untuk menjadi apa yang kau mau, aku sudah berencana melamarmu, tapi dengan teganya kau mengenalkan Aldian sebagai tuanganmu. Kau pikir hatiku tak sakit?" Teriak Emilio semakin keras mencengkram kedua tangan Dinda.


"Kali ini, aku tak akan membuatmu pergi lagi." Tatapannya sedikit menghangat, namun sikapnya bertolak belakang, Emilio seperti kehilangan kendali, ia mencoba mencium Dinda, dan Dinda sendiri berusaha menghindarinya sekuat tenaga. Sampai Emilio kesal dan mencengkram dagu Dinda dengan kasar.


"Diam!" Tegas Emilio dengan mata yang seperti ingin keluar. Dinda diam bukan karena menuruti perintah Emilio, ia kesakitan karena rahangnya begitu kuat di cengkram oleh Emilio.


"Sakit. Ayah.... tolong aku!" Batin Dinda seraya meneteskan air mata karena sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Dengan paksa, Emilio mencium bibir Dinda, namun Dinda tak membalas permainan Emilio membuat pria itu semakin liar. Dinda mencoba mendorong tubuh Emilio darinya namun perbedaan kekuatannya sangat jauh sehingga ia hanya kehabisan tenaga. Emilio semakin liar, tangannya mulai meraba leher Dinda dan semakin ke bawah. Dinda menggeleng lalu meraih tangan Emilio secepat mungkin.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah nanti dengan Aldi pun begini?" Tanya Emilio dengan suara yang sedikit berat. Dinda tak bisa menjawab, dagunya masih di cengkram keras oleh Emilio. Ia hanya bisa menatap tajam mata Emilio yang tak kalah tajam menatapnya.


"Aih... sepertinya kau membenciku. Baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk menghubungi pacarmu, em maksudnya tunanganmu." Tutur Emilio melepaskan gadu Dinda lalu merebut ponselnya dan ia yang menelepon Aldi langsung.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi." Emilio menyeringai mendengar pemberitahuan tersebut. Ia merasa menang dari Aldi malam ini.


"Ayolah sayang. Pacarmu tidak ada. Dia tak akan menolongmu."


Melihat pertahanan Emilio yang mulai melemah, Dinda sekuat tenaga mendorong Emilio lalu kembali berlari menuju pintu. Ia berusaha meminta tolong, namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Terdengar suara langkah kaki dari belakangnya membuat Dinda berbalik dan benar saja, Emilio menghampirinya dengan tatapan begitu menakutkan.


"Biarkan aku pergi Lio. Aku mohon." Pinta Dinda dengan memohon berharap hati Emilio luluh.


"Kau mau melakukannya disini? Aih sayang. Aku sudah mengajakmu di tempat tidur yang nyaman tadi." Dinda menggeleng kasar, ia tak habis pikir mengapa Emilio sampai nekat begini. Dinda terus menghindari Emilio yang mungkin akan meraih tangan atau dagunya lagi. Ia merayap di tembok dengan menatap waspada pada Emilio.


sampai pinggangnya mengenai sebuah guci, Dinda terhenti dan kembali ia mendapati seringai di wajah Emilio. Emilio membatasi pergerakan Dinda dengan kedua lengannya ia tempatkan di kedua sisi kepala Dinda yang masih menghimpit di tembok. Dinda hanya bisa menggeleng mencoba menyadarkan Emilio. Sekuat tenaga ia tak akan menyerah mempertahankan harga dirinya sebagai perempuan pada lelaki yang bukan suaminya. Apa lagi Emilio yang hanya sebatas mantan pacar. Ponselnya berdering di atas tempat tidur, pandangannya berpaling dari Emilio yang masih mengawasinya.


"Kau lengah sayang." Ucap Emilio kembali meraih bibir Dinda. Lalu mereka perlahan berjalan ke tempat tidur.


"Al... tolong aku." Lagi-lagi batin Dinda yang berharap Aldi tiba-tiba berada di sana.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2