
. Meski Aldi sudah membujuk agar Dinda tetap tinggal, namun Dinda bersikeras ingin pulang kembali ke kotanya dan mencoba memulihkan ingatan di kota kelahirannya. Dengan berat hati, Aldi mengantarkan Dinda sampai ke landasan penerbangan. Bertepatan dengan kepergian Dinda, Bagas datang menemui Aldi yang masih berdiri di tempatnya menatap pesawat yang membawa Dinda terbang semakin jauh.
"Aku sudah menghubungi Maira. Dia akan pulang dari LA besok. Aku harap, Maira bisa memulihkan ingatan Dinda ya Al." Tutur Bagas langsung memberi laporan.
"Aku harap juga begitu. Dan bagaimana dengan Aulian?"
"Dia bebas hari ini Al." Sontak Aldi terhenyak, ia tak percaya pada berita yang di bawa Bagas mengenai pembebasan Aulian yang tiba-tiba. "Asistennya selain Lani berhasil mencabut laporan dan kepemilikan hotel masih atas nama Aulian, dan kak Galih tak ada hak sedikitpun meski pak Amar Sanjaya sudah menandatangani pemindahan nama. Surat perjanjian itu palsu sampai kak Galih menuntut pak Amar Sanjaya sebagai penipu. Namun kak Galih tidak punya bukti yang kuat untuk mengajukan tuntutannya karena semuanya sudah di rancang sesuai rencana Ken. Yahhh begitulah feelingku Al."
"Sudah kuduga." Ucap Aldi membuat Bagas terheran.
"Kau tak terkejut?"
"Kak Emira sudah memberi peringatan padaku untuk mewaspadai orang bernama Ken. Tapi ternyata kita terlambat."
"Tapi Al. Meski Aulian sudah mengambil alih kembali perusahaannya, aku rasa dia sudah tak punya sekutu lagi."
"Mungkin iya dan mungkin tidak. Dia punya asisten yang hebat, entah kenapa aku lebih yakin dia akan berdiri dengan kekuatannya sendiri tanpa sekutu sari manapun."
"Al... ucapanmu mengerikan."
"Tapi aku benar kan?"
"Mungkin. Yang jelas kita harus lebih waspada setelah ini kan?" Aldi mengangguk pelan menanggapi dengan termenung ada berbagai hal yang memenuhi pikirannya.
. Avril membuka matanya perlahan, ia mencari keberadaan suaminya yang sudah berjanji akan membawa Reifan padanya. Avril tak mendapati satu orang pun berada di kamarnya, lalu ia beranjak meski kepalanya berputar dan tubuhnya sangat lemas. Kakinya sudah menjuntai hendak berdiri, namun ia terkejut saat pintu terbuka tiba-tiba.
__ADS_1
"Avril. Kau mau kemana?" Alvi berlari segera meraih sang istri yang seperti akan kabur saja.
"Rei mana Al?"
"Rei sakit sayang. Dia harus banyak istirahat."
"Aku mau jenguk dia Al."
"Jangan sayang. Kau masih lemah dan kau juga harus banyak istirahat. Jangan kemana-mana dulu. Pulihkan tubuhmu. Setelah pulih, aku tak akan melarangmu pergi kemanapun kau mau."
"Tapi Al..."
"Sudah jangan banyak alasan. Kasihan dia. Tak ada masukan nutrisi darimu." Kini Alvi menasehati seraya mengelus lembut perut Avril yang memang sudah terlihat membesar.
"Makan ya... atau kau mau apa? Nanti aku belikan ke luar." Bujuk Alvi lagi dengan penuh harap Avril bisa menuruti nasehatnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, beberapa hari terakhir ini Avril tiba-tiba murung dan tak ingin membahas tentang Reifan sama sekali. Sampai tiba-tiba Avril jatuh pingsan dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya dan tangan yang menggenggam foto Reifan.
Alvi sangat senang sampai ia tak bisa menahan air matanya yang memaksa keluar saat menyuapi Avril perlahan. Setelah selesai makan, Bagas memilih untuk keluar saja. Ia tak enak hati jika menguping suami istri mengobrol. Alvi membereskan alat makan dan obat-obatan di meja kecil yang tak jauh dari sofa. Kemudian Alvi menghampiri Avril lalu memeluk perutnya seraya berkata.
"Sehat-sehat ya sayang. Jangan ikut sakit! Bundamu akan cepat pulih. Dan jangan lagi membuat ayah khawatir ya!" Avril mengusap kepala Alvi dengan lembut. Jujur, dihatinya ada rasa sesal karena sudah membuat suaminya khawatir sampai-sampai melihatnya makan dan minum obat pun Alvi menangis haru. Sebab sedari pertama ia di rawat, ia sulit untuk makan sampai habis. Bahkan ia hanya makan satu suap saja.
. Hari-hari selanjutnya, Avril sudah bisa pulang meski harus di rawat lanjutan di rumah. Sedangkan Reifan sudah pulang 2 hari sebelum Avril. Reifan selalu menangis memanggil Dinda yang sudah tak lagi menemuinya. Aldi yang ikut bersedih pun memberanikan diri meminta Dinda kembali. Namun Dinda bersikeras menolak permintaan Aldi dengan alasan ingin memulihkan ingatan di kotanya. Siapa sangka, Aulian yang sudah bebas pun memanfaatkan kondisi Dinda yang amnesia sebagai perisai agar dirinya tidak di buru oleh Aldi dan yang lainnya.
Sudah hampir satu bulan Dinda tidak lagi mengabari Aldi, ia menjadi sibuk setelah ada salah satu perusahaan yang mengajukan kontrak kerja sama dengannya. Tanpa meminta izin pada ayahnya, Dinda menerima kerja sama begitu saja. Ia tak sedikitpun curiga atau waspada pada pengusaha muda bernama Amar Sanjaya ini.
Aldi yang sudah merasa cemas pada keadaan Dinda yang tak ada kabar memutuskan untuk menyusulnya ke kota S. Ia tak memberitahu siapapun, baik itu Hadi atau Dinda sendiri. Seperti biasa, Aldi selalu memesan kamar di hotel milik Aulian yang beberapa waktu lalu nyaris berpindah tangan pada Galih.
__ADS_1
Esoknya, Aldi membuat janji dengan Dinda di kantor. Dinda yang tak di beritahu siapa tamu yang di maksud, langsung menemuinya tanpa pikir panjang.
"Maaf! Sepertinya anda menunggu lama." Ucapnya pda seorang pria yang tengah berdiri membelakanginya. Aldi perlahan berbalik dan berhasil membuat Dinda terkejut.
"Al... ka-kau sedang apa?"
"Sedang apa? Apa aku tak boleh menemui calon istriku?"
"Emm kau jauh-jauh kesini hanya untuk menemuiku?"
"Tentu saja. Aku cemas karena kau tak mengabariku sama sekali. Aku hubungi tapi kau tak ada menjawab."
"Al..." lirih Dinda mendadak bersikap ambigu. Aldi tak bisa menebak isi pikiran Dinda saat ini.
"Al... setelah aku mencoba, rasanya aku tak punya perasaan lagi padamu." Aldi seketika membeku. Bukan hanya tubuhnya, tapi hatinya juga terasa mati dalam sekejap.
"Al. Maaf. Pertunangan kita di batalkan saja. Aku tak ingin melukaimu terlalu dalam. Dan aku juga akan bicara dengan ayah agar dia tak salah faham."
"Dinda..."
"Terima kasih Al. Kau sangat baik padaku. Dan maaf jika aku pernah membuatmu terluka selama denganku."
"Dinda.. bukan ini yang aku mau."
"Ini sudah menjadi keputusanku Al. Aku harap kau mengerti."
__ADS_1
"Baiklah." Hanya itu yang bisa Aldi katakan. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya bisa menerima kenyataannya ketika Dinda melepas dan mengembalikan cincin pertunangan mereka padanya.
-bersambung