RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
104


__ADS_3

. Bagas dan Maira masih berada di ambang pintu. Keduanya saling diam dengan posisi yang masih sama. Yaitu, Maira yang memeluk Bagas, dan Bagas yang terdiam mematung dipeluk erat Maira. Bagas merasakan bahwa Maira tengah menangis seraya mempererat pelukannya.


"Ra... kau kenapa? Apa kau tersinggung dengan sikapku?" Bagas mencoba bertanya dan mencari tahu penyebab Maira menangis dengan tiba-tiba itu. Tidak, sebenarnya bukan tiba-tiba, hanya saja Maira terlalu pintar menyembunyikan kesedihannya di depan orang lain selain Dinda. Bagas yakin jika Maira tak akan bisa menahan tangisnya jika berada di hadapan Dinda, sahabat terbaiknya.


Bagas semakin dibuat penasaran dengan sikap Maira yang terus diam meski ia sudah bertanya dan ingin membantu masalah Maira. Atau setidaknya ia ingin meminta maaf jika benar ia yang bersalah karena sudah menunjukkan sikap yang mungkin membuat Maira tersinggung.


"Ra.. maafkan aku. Aku bersikap begitu karena aku tak mau jika berdekatan dengan wanita yang sudah punya pacar." Jelas Bagas kemudian.


"Sudah tidak."


"Eh?" Bagas terlihat tak mengerti dengan maksud jawaban Maira tersebut. Apa maksud Maira?


"Aku tidak punya pacar." Ucap Maira menjawab pertanyaan di benak Bagas. Kali ini, Bagas yang memilih diam, ia perlahan membalas pelukan Maira dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Apa kau bisa menemaniku sebentar? 5 menit saja!" Pinta Maira menarik diri dari pelukan Bagas.


"Kau ingin ke suatu tempat? Jika disini, aku takut akan ada gosip tak menyenangkan." Mendengar Bagas berkata demikian, Maira mengangguk seraya mengusap air matanya yang sudah membasahi wajahnya. Karena hati kecilnya merasa tak tega, Bagas ikut menyeka air mata Maira sehingga gadis itupun termangu dan menatap Bagas semakin dalam.


Sejenak Maira mengingat ucapan Dinda kemarin yang mengatakan bahwa "Melabuhkan hati itu tidak selalu pada orang yang kita cintai saja, tapi justru cinta akan lebih indah jika kita mencintai orang yang mencintai kita. Dia akan mengerti dirimu tanpa diminta, dan dia juga akan melindungimu dengan segenap hatinya. Bahkan, dia tak akan rela melihatmu tergores sedikit saja. Jika kau terluka, maka dia yang akan menghapus kesedihan dan ia tak akan membiarkan air matamu jatuh begitu saja."


Dan, sejenak Maira menarik senyum tipis dengan perlakuan manis dari Bagas.


"Kenapa senyum?" Maira memudarkan senyumnya seketika saat ia mendengar pertanyaan Bagas yang tegas dan seperti tengah mengejeknya.


"Tidak." Jawab Maira menanggapi dengan memalingkan wajahnya dari Bagas.

__ADS_1


"Mau tidak?" Tanya Bagas lagi.


"Apa?"


"Menikah denganku!"


"Hah?" Pekik Maira seakan ia tak mendengar apa yang di katakan Bagas dan berharap Bagas mengulang kembali perkataannya.


"Bercanda." Hanya begitu tanggapan Bagas. Maira mengangguk pelan dan ia terkejut saat Bagas mendorong tubuhnya memasuki kamar dan menyuruhnya untuk bersiap. Bagas menutup pintu depan dan menunggu Maira di ruang depan dan membiarkan Maira bersiap untuk pergi dengannya. Setelahnya, mereka keluar dengan berpegangan tangan. Jujur, Maira merasa gugup dan ia tak percaya ternyata Bagas yang selalu bertengkar dengannya setiap kali mereka bertemu, kali ini bersikap manis dan memperlihatkan sisi dirinya yang lain.


Di depan pintu kamar lain, seseorang menatap kepergian mereka dengan mengepalkan tangan dan sirat amarah terlihat jelas di wajahnya. Namun hal itu juga membuatnya menarik senyum penuh arti untuk membalas makian Maira padanya kemarin. Ervan memasuki kamarnya dan ia menatap koper yang sudah ia siapkan untuk kembali ke kotanya malam ini, namun niatnya urung setelah menyaksikan mantan pacarnya yang bersama pria lain.


"Kau sama saja ternyata. Dasar wanita munafik!" Hardik Ervan menyeringai membayangkan wajah Maira di benaknya.


"Sudah larut. Aku pulang ya!" Ucap Bagas seraya melirik jam di tangannya.


"Baiklah. Terima kasih ya ice cream nya."


"Haha tak apa. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena sudah bersikap menyebalkan padamu."


"Tidak tidak, Bagas. Itu kan karena kau tak tahu yang sebenarnya." Mendengar tanggapan Maira ini, Bagas tersenyum lega dan ia kembali berpamitan pada Maira bahwa dirinya akan segera pergi.


"Emm Bagas!" Panggil Maira setelah Bagas berpaling dan berjalan beberapa langkah meninggalkannya.


"Hem?" Bagas berbalik dan kembali menatap Maira dengan penasaran. Tanpa di duga, Maira tiba-tiba mencium ringan pipi Bagas sehingga ia mematung seketika. Matanya membulat tak percaya jika ia mendapatkan kecupan dari seorang wanita.

__ADS_1


"Hati-hati." Ucap Maira tersipu dan sedikit memalingkan wajahnya. Melihat Bagas yang tak menanggapi apapun lagi dan hanya menatapnya tanpa berkedip, Maira memasuki kamar dengan perasaan yang sudah terlanjur malu. Dan Bagas meraih pipinya perlahan setelah Maira berlalu. Jantungnya mendadak berdebar kencang dan hatinya merasa berbunga mendapatkan lampu hijau dari Maira.


Setelah Bagas berlalu, Maira yang sama-sama salah tingkah dan jantungnya berdegup kencang pun mencoba menenangkan diri. Maira berguling-guling di ranjang memaki dirinya sendiri karena berani mencium Bagas begitu saja. Padahal jika diingat, ia dan Bagas tak ada hubungan apa-apa. Ia hanya menganggap bahwa Bagas pun sama menyukainya karena sikap manis yang Bagas tunjukkan padanya.


"Apa yang aku lakukan? Arhhhhhh aku maluuuu...." Maira bertindak random di dalam kamar, mulai dari menutupi kepalanya dengan bantal, masuk ke dalam selimut, lalu memeluk guling dengan membenamkan wajah merahnya menatap cermin.


Di tengah kekesalannya pada diri sendiri, Maira di kejutkan oleh suara ketukan di pintu dan ia mengira bahwa itu adalah Bagas. Dengan mencoba tenang, Maira datang dan membuka pintu menyembunyikan rasa malunya pada Bagas.


"Apa ada yang tertinggal?" Tanyanya tanpa memastikan dengan jelas siapa yang berada diluar.


"Ada." Mendengar suara yang familiar tersebut, Maira yang semula menunduk pun kini mendongak dan menatap sepasang mata dengan tatapan mengejek yang di lemparkan kepadanya.


"E-Ervan? Mau apa lagi kamu?" Pekik Maira mendadak bersikap ketus.


"Tak mau apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau pun tak ada bedanya denganku."


"Apa maksudmu?"


"Kemarin kau menamparku dan memakiku habis-habisan, tapi kau sendiri pun tidur dengan laki-laki lain. Sebenarnya siapa yang munafik disini? Berapa uang yang kau terima dari laki-laki itu, Maira?" 'Plak' bukannya menjawab, Maira malah menampar keras pipi Ervan sehingga pria itu berpaling kasar.


"Diam kau bajingan! Kau tak tahu apa-apa."


"Pelacur tak pantas menyebutku bajingan." Ervan sama-sama naik pitam, dan Maira terdiam seketika dengan makian Ervan yang menyayat hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2