RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
122


__ADS_3

Alvi benar-benar tak mempercayai dengan apa yang dikatakan oleh Ray. Jam ini, ia yang seharusnya rapat, terpaksa digantikan oleh Ray dan memilih untuk pulang. Ia ingin mendengar sejelas-jelasnya apa yang terjadi. Pikirannya berkecamuk, bagaimana mungkin Reifan memanggil Avril dengan panggilan Aunty? Terlebih itu adalah perintah Aldi sendiri. Sungguh hal ini tidak bisa Alvi cerna. Ia tak bisa berpikir lebih jernih lagi.


Sampai di rumah, Alvi berlari menuju kamar dan tak menyadari keberadaan Nadia di ruang keluarga. Alvi ikut bersedih saat melihat kondisi Avril yang memilukan. Bagaimana tidak, Avril kini tengah tertidur di samping Zeeya dengan air mata yang terus berderai meski matanya tertutup. Alvi tahu bahwa Istrinya memang tidak berniat untuk tidur. Namun saat Alvi hendak meraih kepala Avril, niatnya urung dan tangannya beralih menyeka air mata yang lagi-lagi berderai. Merasakan ada sebuah sentuhan, Alvi terbangun dan mendapati Alvi berada di hadapannya. Melihat tatapan sendu Alvi, Avril kembali menangis tanpa suara saat ia beranjak dari posisi tidurnya.


"Al... Rei bukan lagi anak kita." Rengeknya menutup wajah dengan tangannya. Alvi segera memeluk Avril dengan erat agar Istrinya ini bisa sedikit lebih tenang.


"Aku sudah tahu. Sudah... mungkin memang masanya sudah habis. Kebersamaan kita dan Rei sudah berakhir. Dan mungkin itu keputusan Aldi juga. Kita harus bisa menghargainya."


"Tapi aku Ibunya Al. Aku yang membesarkannya, aku yang menemaninya, aku yang memberinya nama, aku juga yang mati-matian menjadi sosok pengganti untuk Aldi yang tak bertanggung jawab dan lari dari kenyataan."


"Iya sayang iya. Aku bukannya tak mengerti, tapi mau bagaimana? Rei anaknya Aldi, dan kita hanyalah orang tua pengganti tanpa surat perjanjian hak asuh. Aldi Ayah kandungnya, dia bisa mengambil Rei kapan saja."


"Itu tak adil Al. Itu tak adil."


"Tapi kita juga tak bisa egois. Lagi pula, sekarang ada Zeeya yang harus kita pikirkan." Alvi sudah tak tahu harus berkata apa lagi. Namun akhirnya, kalimat penenang Alvi ini berhasil membuat Avril sedikit lebih tenang.


Malamnya, tak tega melihat Avril terus murung, Alvi memutuskan untuk bertemu dengan Aldi dan Reifan. Ia harap, semua yang dikatakan Avril hanyalah salah faham.


Ketika Alvi memasuki rumah Aldi, ia mendengar suara Reifan yang mungkin tengah bercanda dengan pengasuhnya.


"Eh... Alvi. Mama kira siapa nak. Duduklah! Kau ada urusan pada Aldi?" Dewi saat ia mendapati Alvi yang masih berdiri di dekat pintu.


"Iya Ma. Ada yang ingin Alvi tanyakan." Balasnya menjawab dan perlahan mulai duduk di sofa. Dewi kembali memasuki rumah dan saat itu juga terdengar suara Reifan semakin mendekat. Benar saja, Reifan menghampiri Alvi ke ruang tamu lalu mencium tangan Alvi.


"Uncle cari Daddy?" Tanya Reifan dengan polos.

__ADS_1


"Eh?" Alvi mendadak terdiam mematung mendengar panggilan asing yang Rei ucapkan padanya. "Siapa Rei? Uncle? Uncle siapa?" Selanjutnya Alvi bertanya dengan mencoba memastikan bahwa ia salah mengira.


"Uncle Alvian." Jawab Reifan kali ini cukup menjadi jawaban dari apa yang ia pertanyakan.


"Kau mencariku?" Tanya Aldi berhasil membuyarkan lamunan Alvi. "Ada apa? Kata Mama kau mau menanyakan sesuatu." Lanjut Aldi saat Alvi tak langsung menjawab pertanyaannya. Bukannya melanjutkan obrolan, Alvi malah beranjak dari duduknya dengan ekspresi seperti orang kebingungan.


"Tidak Al. Tidak jadi. Aku pulang saja." Mendengar Alvi tiba-tiba berpamitan, Aldi menjadi terheran dengan maksud Aldi datang ke rumahnya.


"Dadah Uncle...." Reifan melambaikan tangannya saat Alvi berlalu dari kediaman mereka.


"Aih. Mama sudah buatkan kopi untuk kalian" ucap Dewi ikut terheran melihat Alvi yang tiba-tiba pulang begitu saja.


"Aku juga tak tahu Ma." Jawab Aldi kemudian berlalu kembali ke kamarnya. Di sana, ia melihat Dinda tengah duduk bersandar dengan berbincang pada orang yang tengah melakukan panggilan video dengannya. Ketika Aldi duduk di sisi ranjang yang satunya, Dinda mengarahkan layar ponsel kepadanya dan memperlihatkan wajah mertuanya di sana.


"Aldi... kapan kalian bulan madu?" Tanya Salma terasa begitu tiba-tiba.


"Ibu sudah ingin menimang cucu loh Al." Keluh Salma membuat Aldi dan Dinda saling berpandangan. Benar, mereka belum memberitahu keluarga Dinda tentang kehamilannya. Sehingga ketidak tahuan ini berhasil membuat Aldi dan Dinda tersenyum bahkan tertawa kecil.


"Oh iya Bu... Aldi ada kabar gembira untuk Ibu dan Ayah."


"Apa itu Al?" Tanya Hadi tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Sebelum Aldi berucap, ia melirik Dinda terlebih dahulu dan menghela nafas sejenak.


"Serius Al. Ibu sudah deg-degan ini." Ucap Salma yang tak sabar mendengar kabar apa yang akan di beritahukan Aldi padanya.


"Dinda hamil Bu. Masih 4 minggu."

__ADS_1


"Hah? Serius kan kamu Al? Istrimu sudah hamil?" Dengan tak percaya, Salma kembali mempertanyakan hal tersebut berharap Aldi memberitahunya lagi. "Iya Bu aku serius. Dan sekarang itu sedang menikmati masa ngidam sampai aku kewalahan." Keluh Aldi setelah memberitahu berita yang ingin ia sampaikan.


"Eh... kapan aku mengidam yang aneh?" Protes Dinda yang tak terima mendapat tuduhan dari suaminya.


"Iya ngidamnya memang tidak pernah aneh. Tapi kau yang tak tahu waktu. Jam 12 malam kau mau makan rujak. Terus jam 2 pagi kau mau bubur ayam."


"Hehe... kan namanya juga ngidam. Kau tak ikhlas ya?"


"Ikhlas sayang ikhlas." Jawab Aldi mencoba meyakinkan bahwa ia tak merasa keberatan dengan keinginan random istrinya.


Setelah selesai menghubungi orang tuanya, Dinda meletakkan ponselnya di nakas dan ia mendadak melamun di tepi ranjang.


"Kenapa? Kau memikirkan sesuatu?" Tanya Aldi seraya melingkarkan tangannya di pundak Dinda.


"Aku memikirkan Avril. Bagaimana perasaannya saat tahu Rei tak lagi memanggilnya Mommy. Dia pasti sangat marah. Mungkin juga dia pikir aku yang mencuci otak Rei."


"Avril bukan wanita seperti itu. Dia tak akan berpikiran hal yang kau pikirkan sekarang. Tapi sejujurnya aku juga memikirkan dia. Tapi mau sampai kapan Rei akan bergantung pada mereka. Avril sudah punya anak sendiri. Justru aku takut kalau Avril tak menyayangi Rei seperti dulu. Aku meminta Rei merubah panggilannya pada Avril pun bukan tanpa alasan."


"Tapi... Avril kan sudah merawat Rei dari bayi."


"Iya. Memang begitu. Tapi, apa salah kalau aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku?"


"Sebaiknya kau bicara padanya agar tak salah faham."


"Baiklah. Nanti aku akan coba bicara pada Avril."

__ADS_1


Di sisi lain, Alvi tak bisa menghilangkan suara Reifan yang terus terngiang di telinganya. Panggilan 'Uncle' baginya sangatlah asing. Ia benar-benar tak mempercayai Reifan mengubah panggilannya. Ia rasa, Reifan memang sudah tak menganggapnya sebagai keluarga, melainkan sebagai orang lain. Saat ia tiba di rumah, tatapannya kembali sendu melihat Avril berjalan menuju kamar Reifan lalu saat Alvi ikuti, Avril mengelus selimut dan mainan Reifan di sana. Kemudian Avril mengambil guling yang biasa Reifan peluk saat tidur. Perlahan Avril mengusapnya lalu di peluknya guling tersebut sampai ia menangis pilu dibuatnya. Alvi menghampiri Istrinya lalu memeluknya dengan erat, ia merasakan apa yang Avril rasakan. Ia sama-sama merasa kehilangan sebab ia sudah menganggap Reifan benar-benar seperti anaknya sendiri.


Bersambung


__ADS_2