RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
31


__ADS_3

. Dinda memasuki sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan Bagas. Ia begitu penasaran apa yang akan Bagas bicarakan. Namun, disisi lain, hatinya merasa khawatir takut jika ada apa-apa pada Aldian.


"Maaf aku terlambat." Ucap Dinda sambil duduk di sebrang Bagas.


"Tidak apa-apa." Jawab Bagas tersenyum.


"Sudah pesan makan?" Tanya Dinda kemudian.


"Kebetulan belum."


"Ya sudah. Aku pesankan saja. Kau mau makan apa? Biar aku yang traktir."


"Sebelumnya terima kasih. Apa saja."


"Baiklah." Terlihat Dinda begitu berbinar dan antusias, ia langsung memanggil pelayan restoran dan memesan beberapa makanan.


"Mohon ditunggu pesanannya nona." Ucap pelayan dengan sangat ramah dan sopan. Dinda hanya mengangguk pelan menanggapinya dan kembali fokus pada Bagas setelah pelayan itu berlalu.


"Bagaimana kau tahu kau disini?" Tanya Dinda memasang wajah penasaran.


"Apa yang tidak aku ketahui? Tanggal lahirmu saja aku tahu." Jawab Bagas membuat Dinda semakin penasaran.


"Kau mencari tahu tentangku?"


"Tidak. Ishhh sudahlah. Yang jelas aku kemari hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." ~Bagas.


"Maksudmu?" ~Dinda.


"Kau tahu? Aldian sangat berisik saat menyadari kau hilang." ~Bagas.


"Aku tidak hilang." ~Dinda.


"Lalu?" ~Bagas.


"Aku hanya pergi tanpa memberitahunya." ~Dinda.


"Kau pikir itu apa artinya?" ~Bagas.


"Yaa.... entah." Dinda memalingkan wajahnya dengan acuh membuat Bagas mendelik kesal.


"Tapi, kenapa?" Lirih Dinda kini menunduk dengan tatapan yang sendu.


"Kenapa apanya?"


"Bukankah Aldi itu.... emm lupakan." Seketika Bagas memasang wajah polos mendapati sikap Dinda yang tak jauh berbeda dengan Avril.


"Kalian seperti satu orang yang sama." Cetus Bagas dengan suara pelan.


"Hah? Apa?"


"Kau sama seperti temanku." Jawab Bagas memalingkan pandangannya.


"Oh begitu." Lirih Dinda mendadak kembali sendu.

__ADS_1


"Mengapa rasanya sedikit sesak?" Batin Dinda. Bagas perlahan melirik ke arah Dinda dan seketika matanya menyipit dan benaknya menebak bahwa ada yang sedang Dinda pikirkan.


"Kenapa?" Tanya Bagas mengejutkan Dinda.


"Kenapa apanya?" Kini giliran Dinda yang balik bertanya.


"Kau. Sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Bagas lagi yang kini menatap Dinda dengan serius.


"Ti-tidak. Hanya sedang memikirkan adikku saja."


"Tak perlu gugup jika memang tak ada masalah."


"Aku serius. Tak ada apa-apa."


. Ditengah perbincangannya, seseorang yang duduk santai di meja luar, beberapa kali mengambil foto Dinda dan Bagas dan mengirimkannya pada seseorang.


"Ohhh.... sampai sejauh ini?" Ucap Aulian sambil mengetukkan jarinya di meja. "Dimana Emilio?" Tanya Lian pada anak buahnya.


"Masih di villa tuan."


"Kapan anak itu dewasanya?" Lian menghela nafas berat lalu mengambil ponselnya di atas meja. Tak perlu menunggu lama, panggilan sudah tersambung.


"Ke kantor secepatnya." Ucapnya yang langsung memutus panggilan tanpa ingin ada penolakan.


"Tuan... untuk rekaman CCTV nya...."


"Pastikan itu aman." Dengan cepat Lian menyela. Wajahnya yang datar begitu memanipulasi kekhawatirannya.


"Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Avril memasang wajah khawatir.


"Harusnya aku sudah pulang. Tapi sepertinya si dokter masih merindukanku." Jawab Aldi tak henti-henti menciumi rambut Reifan.


"Ngomong-ngomong, Famela bilang kau punya pacar. Siapa?" Tanya Avril tiba-tiba. Terlihat Aldi mendadak gugup.


"Aduduh Rei... kau berat. Pindah dulu ke mommy. Pinggang Daddy sakit." Ucap Aldi mengalihkan pembicaraan dengan meringis kesakitan sambil memberikan Reifan pada Avril.


"Hei Al... jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab aku." Avril berdecak kesal sambil membawa Reifan ke pangkuannya.


"Kenapa? Kau cemburu?" Goda Aldi membuat Avril semakin kesal.


"Ish... Al aku serius. Famela bilang namanya Din--"


"Dina..." timpal Reifan dengan girang sambil tertawa khas nya.


"Dina? Siapa? Apa Dina yang bekerja dengan Alvi? Tapi sepertinya bukan. Aku kira Dinda." Batin Avril mendadak melamun.


"No. Nanti saja. Aku belum yakin Vil... aku takut jika kau salah faham." Ucap Aldi membuyarkan lamunan Avril.


"Salah faham apa?" Tanya Avril merasa heran.


"Kau tak akan mengerti." Jawab Aldi membuat Avril semakin tak mengerti.


"Jika kau tak bicara, bagaimana aku akan mengerti." Kembali Avril berdecak kesal karena jawaban Aldi.

__ADS_1


"Avil... sungguh. Aku belum siap jika mengenalkannya secara resmi padamu."


"Issshhh... ayolah Al... memangnya kenapa jika aku tahu? Dan kenapa harus seresmi itu?"


"Karena kau berbeda. Kau lebih dari seorang yang istimewa untukku. Kau mommy Rei. Kau juga teman Syifa yang paling segalanya. Dan aku tak ingin kau kecewa jika nantinya aku tidak sampai bersama dengan dia."


"Tapi kenapa? Kenapa Famela, Demi, Noah dan Bagas tahu, sedangkan aku tidak?"


"Bukan begitu. Tapi, rasanya terlalu cepat jika kau tahu."


"Al.... dengan siapapun, aku tak akan masalah. Asalkan dia menyayangimu, mama, dan Rei."


"Rei.... apa bunda baik?" Tanya Aldi beralih bertanya pada Reifan.


"Bunda?" Tanya Avril memekik telinga. "Apa bunda yang dimaksud Rei saat itu pun sebenarnya bukan Syifa. Tapi pacar Aldi." Batin Avril kembali berkecamuk.


"Bunda... baik... tantik... sayang Eifan. Sayang Daddy. Sayang Oma." Mendengar jawaban Reifan yang polos dan sangat jujur itupun, rasanya ada yang menikam dada Avril seketika. Hatinya merasa tersayat, perih namun tak nampak adanya luka. Seakan perannya sebagai ibu telah tergantikan oleh orang lain. Yang semula antusias ingin tahu siapa gadis yang tengah dekat dengan mantan pacarnya, sekarang berubah menjadi benci tanpa tahu siapa orangnya.


"Baiklah jika memang dia sudah pantas menjadi istrimu dan sanggup menjadi ibu untuk Rei. Tapi aku harap aku tak pernah bertemu dengannya." Ucap Avril dengan beranjak dari duduknya.


"Avil..."


"Maaf Al... aku lupa, hari ini Alvi mengajakku pergi. dan sebentar lagi Ray pasti akan menjemputku. Aku panggilkan Noah sebentar." Ujar Avril sembari merogoh tasnya mengambil ponsel dan langsung menghubungi Noah. Setelah itu, Avril hanya diam dan tatapannya hanya tertuju pada arah dimana Noah akan muncul. Aldi tak tahu apa yang terjadi pada Avril, sikapnya berubah tiba-tiba, matanya berkaca-kaca dan tatapannya menjadi tajam.


"Avil...." panggil Aldi, namun Avril hanya meliriknya sedikit.


"Kau marah?" Tanya Aldi selanjutnya. Dan Avril masih diam.


"Kenapa? Apa karena--"


"Oh... itu Noah." Avril langsung melambaikan tangan dengan berbinar. Aldi hanya bisa memaklumi saja. Ia tak ingin merusak mood Avril lebih parah lagi.


"Kenapa tidak kau saja yang mengantarnya?" Tanya Noah pada Avril.


"Aku membawa Rei. Dan kakiku akan patah lagi nanti jika aku mengantarkan dia." Jawab Avril dengan ketus.


"Kakimu atau hatimu yang patah?" Ejek Noah mulai mendorong kursi roda Aldi.


"Padahal aku bisa berjalan." Ujar Aldi dengan menopang pipinya dengan tangan.


"Diamlah. Jika kau banyak jalan, jahitan di lututmu akan sulit sembuh nanti." Jawab Noah dengan enggan berhenti.


"Avil." Panggil Aldi menghentikan langkah Noah dan Avril bersamaan.


"Jaga kesehatanmu." Lanjutnya kini berhasil membuat kaca yang tengah membendung di kelopak mata Avril terjatuh dan berderai deras.


"Mommy..." sesegera mungkin Avril mengusap wajahnya dan kembali berlalu sebelum Aldi tahu dirinya menangis lewat kepolosan Reifan yang bisa saja mengoceh.


"Mommy menangis?" Tanya Reifan kemudian.


"Tidak sayang." Jawabnya semakin tak bisa menahan air matanya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2