RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
56


__ADS_3

. Andre beranjak dari tempat tidur saat ia mendengar Alvi yang baru saja menerima jawaban telepon dari orang asing. Andre mendengar dengan jelas suara dan ucapan seseorang di seberang sana yang tengah membahayakan nyawa putrinya.


"Ayah... tenang. Jangan bergerak dulu. Aku akan segera ke lokasi dan memastikan Avril baik-baik saja." Ucap Alvi menahan Andre agar tak beranjak dari tempat tidurnya.


"Ayah.... aku pamit." Ucap Alvi kemudian dengan langkah yang seperti biasa. Sangat tenang dan tidak panik.


"Ya Tuhan... lindungi putri dan menantuku." Ucap Andre berdoa dengan air mata yang sudah berderai.


. "Siapa kau sebenarnya?" Pertanyaan Aulian berhasil membuat Avril kembali menyeringai. Ini seperti berbalik situasi, dimana seharusnya Avril yang merasa terancam namun ini malah Aulian yang terpojok oleh sikap Avril.


"Aku kira kau orang hebat Lian. Bukankah namaku sudah terpampang jelas di internet? Siapa aku, lalu siapa ayah dan kakakku." Aulian merasa terintimidasi oleh ucapan Avril yang tenang namun sangat mengancam.


"Aku terkesan dengan sikap tenangmu Avril. Hanya saja aku merasa penasaran mengapa kau tahu Alvian Revano menolak tawaran kerjasama dariku?" Mendengar pertanyaan Aulian, Avril bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan dengan wajah tersenyum.


"Perkenalkan. Aku Avril Vania. Jika kau ingin mencari tahu tentangku, maka kau harus tahu nama lengkapku bukan?" Aulian menyeringai sembari membalas uluran tangan Avril lalu ia beralih memeluk dan merangkul Avril dari belakang.


"Ken." Tegasnya di tanggapi anggukan oleh Ken sendiri seakan ia sudah mengerti dengan keinginan bosnya. Avril seketika merasa panik dan berontak berharap Aulian segera melepaskan dirinya. Namun cengkraman di lengannya semakin kuat membuat Avril meringis kesakitan.


"Akhhh Lian sakit. Lepaskan aku." Rintihnya ketika rasa perih terasa di pergelangan tangannya.


"Hemm? Aku belum melakukan apa-apa sayang. Apanya yang sakit?" Aulian terkekeh dengan seringai menyebalkan tersungging di bibirnya.


"Siapapun kau, aku tidak peduli Avril. Sekarang, aku menginginkan dirimu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu." Lanjut Aulian berhasil membuat Avril gemetar. Ia sudah tak bisa bicara karena cengkraman di lengannya benar-benar terasa perih.

__ADS_1


"Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Aldian, aku akan datang melamarmu." Ucapnya selanjutnya masih tak di tanggapi dengan kata-kata oleh Avril. Avril hanya menggeleng sembari melemparkan tatapan memohon agar ia melepaskan cengkramannya, sekaligus berharap Aulian menarik ucapannya. Jelas tak mungkin ia menerima lamaran Aulian, selain karena ia membenci orang ini, ia pun sudah bersuamikan Alvian.


"Alvi..." lirihnya dengan suara yang begitu pelan.


"Siapa? Kau memanggil siapa?" Aulian mendekatkan wajahnya agar ia bisa mendengar suara Avril lebih jelas.


"Menyingkir dariku sialan." Teriak Avril dengan membenturkan kepalanya pada tulang hidung Aulian, hingga dengan sekejap Aulian meringis karena linu dan secara refleks cengkramannya terlepas. Avril segera berlari meraih Reifan yang mulai terbangun.


"Apa dia pingsan? Apa mereka membiusnya?" Batin Avril dengan membawa Reifan kedalam pangkuannya. Ia tersadar, setelah panggilan dari Alvi, ponselnya tak lagi terlihat. Kemudian ia melirik ke sudut ruangan, dan terlihat ponselnya sudah berantakan.


"Mommy...." Reifan mulai merengek lalu memeluk erat leher Avril.


"Tenang sayang. Mommy disini." Setelah berkata demikian, Avril buru-buru keluar dari gudang. Namun dengan tanpa terduga, tangannya di tarik kembali oleh Aulian hingga ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Kakinya terasa perih ketika terkilir karena menopang agar tubuhnya tidak ambruk. Tapi, justru tubuhnya melemas saat rasa perih tersebut menjalar ke seluruh bagian kaki.


"Mau kemana kau hah? Mau kabur? Kupikir kau wanita cerdas, ternyata kau wanita bodoh Avril. Jelas jika kau melarikan diri pun, kau akan tertangkap lagi. Di luar, bawahanku sedang berjaga dan mereka akan menangkapmu dengan mudah." Aulian terkekeh dengan puas melihat Avril yang sudah tak bisa apa-apa.


"Mommy.... Eifan takut..." rengek Reifan mulai menangis melihat Aulian yang ia anggap seperti monster.


"Mommy disini sayang. Sudah ya..." sekuat hati, Avril berusaha menenangkan Reifan meskipun mustahil jika berada di situasi seperti ini. Terdengar Reifan mulai memanggil Aldi karena ketakutan. Saat itu, Avril hanya bisa ikut menangis mengapa anak sekecil Reifan sudah merasakan pedihnya penculikan. Apa lagi, melihat Reifan menangis histeris saat Aulian merampas Reifan darinya.


"Jangan begitu Lian. Rei akan kesakitan." Pekik Avril mencoba bangkit namun mustahil karena kakinya terasa begitu perih menusuk.


"Kenapa Avril? Kau tak mau menolongnya? Hanya terjatuh begitu saja kau sudah tak bisa apa-apa."

__ADS_1


"Aku mohon Lian. Jangan sakiti Rei. Rei masih kecil. Dia tak tahu apa-apa tentang urusan duniamu."


"Daddy..... aaaaaaa..... ayahhhhhhhh" teriak Reifan memekik telinga Aulian.


"Aih.... anak ini bodoh juga ternyata. Memanggil ayahnya dengan dua panggilan." Kembali Aulian terkekeh sembari terus membawa Reifan ke sudut ruangan yang jauh dari Avril. Aulian memanggil bawahannya dan dengan sigap 2 orang masuk lalu mengikat Reifan yang tengah menangis di kursi. Avril benar-benar tak tega melihat anak sambungnya mengalami hal mengerikan seperti ini. Setelahnya, 2 orang tersebut kembali keluar meninggalkan Aulian dan Avril disana. Tangis Avril tak bisa di tahan lagi mendengar jeritan Reifan yang mencoba untuk terlepas namun jelas sangat mustahil.


"Lian--argghhhh." Ucapan Avril terhenti saat Aulian tiba-tiba menjambak rambutnya dengan kasar.


"Apa? Kau mau memohon lagi? Dengan jaminan apa kau menginginkan keselamatan anak itu hah? Nyawa Aldi, atau..... tubuhmu sayang?" Jujur, Avril sudah muak melihat Aulian menyeringai seperti itu. Namun ia tak bisa melawan karena kakinya yang perih dan kepalanya yang berdenyut. Aulian tak sedikitpun merasa kasihan padanya yang sudah meringis dan menangis memegangi kepala saat rambutnya di tarik kasar ke atas. Posisi Avril kini seperti seorang yang tengah berlutut.


. "Alvi... apa kau yakin?" Tanya Galih yang ragu Alvi membawanya kemana.


"Orang itu yang memberitahuku lokasinya. Dan bagaimana dengan Aldi kak?"


"Dia langsung pergi setelah aku memberitahu lokasi yang kau maksud. Aku benar-benar tak menduga Avril akan kembali mengalami hal seperti ini, apa lagi dengan Reifan."


"Tapi kau terlihat tenang kak." Setelah berkata demikian, Alvi mendadak terkejut saat melirik ke arah Galih yang sudah berderai air mata tanpa suara.


"Ray sudah kesana lebih dulu. Dan kemungkinan dia akan sampai bersamaan dengan Aldi." Ucap Alvi selanjutnya berharap Galih tenang meskipun hatinya lebih khawatir dari siapapun.


. Ternyata, setelah Aldi sampai, Ray sedang mengurus penjagaan di depan. Dan ketika ia menuju gudang, matanya membulat melihat Avril tengah meringis kesakitan dengan tangan Aulian yang mencekik lehernya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2