RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
33


__ADS_3

. "Dok... apa sudah selesai memeriksanya?" Tanya Emira pada Noah dengan tatapan dan nada bicara yang begitu datar.


"Oh.. sudah." Jawab Noah sedikit terbata.


"Bolehkah anda pergi? Saya ingin bicara dengan pasien anda." Ucapnya sembari menoleh sinis pada Aldi. Dengan sedikit mengangguk, Noah berlalu meninggalkan dua orang yang mungkin sedang memiliki masalah pribadi. Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benak Noah. Usia perempuan itu jelas terlihat lebih tua dari Aldi, jadi tak mungkin jika itu pacarnya. Dan jika di lihat dengan seksama, usia Emira terlihat sama dengan Noah.


. "Kak Emira kenapa disini?" Namun 'plak' bukannya menjawab, Emira malah menampar Aldi dengan keras.


"Apa yang--"


"Siapa yang kau panggil kakak hah? Jika kau memang menganggapku kakak, harusnya kau beritahu aku kematian Amel. Aku sahabatnya, dan kau tahu itu. Tapi kenapa saat dia meninggal, tak ada satupun kabar yang sampai padaku." Geram Emira menyela pekikan Aldi, kerah bajunya di cengkram kuat sehingga Aldi meringis kesakitan karena perban ditubuhnya tertarik. Dan terasa ada darah yang merembes dari balik balutan perban dan terlihat bercak di bajunya. Hal itu membuat Emira terkejut dan langsung melepaskan Aldi. Aldi terengah menahan ngilu dan perih di bagian perut, pinggang dan tulang tangannya.


"Al... ke-kenapa darah?" Pekik Emira mulai panik.


"A-aku baik-baik saja kak." Jawabnya masih terengah dan menetralkan nafasnya.


Setelah tenang, Aldi menghela nafas panjang sejenak sebelum akhirnya ia menjelaskan pada Emira tentang kematian Amel.


"Maaf karena tidak memberitahu kakak. Aku kira kalian tidak lagi bersama saat di London karena aku tak menemukan nama kontak kakak di ponsel kak Amel. Dan ditambah, ayah juga menyusul kak Amel, jadi aku tak ada pikiran lagi tentang kak Emira." Mendengar penjelasan Aldi, tatapan Emira menjadi sendu, ia sedikit menunduk merasa bersalah atas apa yang baru saja ia lakukan pada Aldi.


"Maaf Al. Aku terlalu emosi. Aku menyayangi Amel seperti saudariku sendiri. Dan saat dia bilang dia mengidap leukimia, jujur aku sudah menduga hidupnya tak akan lama, tapi dia terus menolak untuk berobat."


"Jangankan pada kak Emira, padaku dan Mama saja kak Amel tak pernah mau mendengarkan. Padahal saat itu, jika dia di operasi, mungkin sekarang dia masih hidup. Setidaknya saat aku kehilangan seseorang lagi setelahnya, kak Amel masih ada disampingku." Kini terlihat kedua mata Aldi mulai berkaca-kaca. Emira menatap nanar kesedihan Aldi yang jelas bukanlah hal sepele.


"Eh ada tamu?" Sontak Emira dan Aldi menoleh bersamaan ke arah pintu. Tangis Emira pecah seketika saat melihat sosok yang sudah ia anggap sebagai ibunya ini.


"Mama..." rengeknya langsung menghampiri Dewi dan memeluknya dengan erat.


"Emira? Kamu disini? Dengan siapa?" Tanya Dewi terdengar terkejut.


"Aku sendiri. Dan kenapa mama tidak memberitahuku Amel pergi?"

__ADS_1


"Maaf nak... tapi ada sesuatu hal yang membuat mama dan Aldi tak bisa memberitahumu saat itu."


"Sudah ma... jangan dulu di ceritakan. Nanti mama menangis lagi." Tegur Aldi menimpali obrolan ibu dan teman kakaknya itu. "Akan aku jelaskan nanti. Asal jangan bertanya pada Mama. Mama mudah menangis, dan aku tidak. Jadi kakak bebas akan bertanya apa saja." Lanjut Aldi ditanggapi anggukan oleh Emira. Kedatangannya ke Indo bukan sekedar ingin memberi pelajaran pada Aldi saja. Tapi ia juga ingin tahu kabar Alvi, dan memastikan berita pernikahannya. Karena yang ia dengar saat itu kabarnya tidak begitu jelas. Entah nama itu Alvi atau Aldi. Jika pengantin wanitanya adalah Avril, yang ia tahu Avril hanyalah pacar Aldi.


"Bukankah kau sudah menikah?" Tanya Emira selanjutnya.


"I-iya." Jawab Aldi mendadak sendu.


"Dimana istrimu?"


"Oh... dia..." Aldi mendadak terdiam, lidahnya kelu dan terasa kata-katanya hanya sampai tenggorokan. Untuk mengatakan Syifa meninggal pun rasanya sangat sulit.


"Eh... kakak tidak menanyakan keadaanku?" Tanya Aldi selanjutnya dengan nada datar.


"Sejujurnya aku juga ingin bertanya. Tapi sepertinya kau baik-baik saja." Jawab Emira dengan santai dan diiringi tatapan mengejek.


"Apa? Aku berdarah-darah begini karena kau, kau bilang aku baik-baik saja? Cih... sejak kapan kau menjadi kasar? Jika kak Amel tahu, dia pasti mendatangimu nanti malam."


"Arghhhhh Noah.... tolong....." teriak Aldi sedikit menahan suaranya.


"Huuu lebay."


"Ini sakit sungguhan. Kau bilang sudah menganggapku adik. Tapi kau sendiri mau membunuhku."


"Kenapa malah bertengkar? Mama panggilkan Noah sebentar." Ujar Dewi melerai pertengkaran Aldi dan Emira.


. Malam harinya, terdengar suara gemuruh hujan yang tak terlalu keras. Avril menatap keluar jendela sembari mengelus kepala Reifan yang tertidur di sampingnya.


"Syifa? Apa kau sudah benar-benar tenang?" Ucap Avril begitu pelan.


"Kau sedang bergumam apa?" Tanya Alvi yang tak sengaja mendengar sedikit gumaman Avril ketika dirinya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Tidak.... aku hanya teringat Syifa saja." Jawab Avril sembari menyeka kelopak matanya. Berembun. Selalu begitu. Namun tak bisa di pungkiri, ia sangat merindukan Syifa sekarang.


"Oh iya. Besok aku ada meeting di luar kantor dan kemungkinan akan pulang malam. Jika ada apa-apa katakan pada Ray saja." Ucap Alvi yang menjatuhkan tubuhnya di samping Reifan dan langsung memberi kecupan gemas di pipi dan dahinya.


"Rei tampan ya?" Tanya Alvi tiba-tiba dengan nada candaan. Namun candaan itu malah membuat Avril merasa sesak. Ia tahu dibalik candaan itu ada sebuah perasaan dan harapan Alvi padanya.


"Al... maafkan aku.... aku sudah egois dan hanya memikirkan sepihak saja." Tutur Avril tanpa menjawab candaan Alvi.


"Aku mengerti. Dan aku juga minta maaf karena sudah bersikap yang tidak kau suka." Mendengar balasan Alvi, Avril hanya tersenyum tipis, ia sangat merasa bersalah pada Alvi. Namun sekarang ia pun diam-diam mengikuti program untuk kehamilannya tanpa Alvi tahu.


"Sudahlah. Kenapa dibahas. Sebaiknya kau tidur. Bukankah kau tak enak badan?" Avril mengangguk dan langsung berbaring memeluk Reifan.


"Aku tidak di peluk?" Tanya Alvi dengan manja.


"Kau sudah tua."


"Isss mulutmu pedas sekali istriku sayang."


"Dan kau, mudah sekali terbawa perasaan." Balas Avril mengejek. Ditengah perdebatannya, terlihat Reifan menggeliat dan kembali tertidur. Sontak suami istri itu saling memberi kode untuk diam dan sambil tertawa tanpa suara.


. Disisi lain, Dinda memasuki rumah dengan tergesa-gesa karena pakaiannya sudah basah.


"Untung sudah sampai." Ucapnya sembari menghela nafas lega. Kemudian pandangannya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di tempat tidurnya. Memang sengaja ia tinggalkan dan bahkan menonaktipkan ponselnya saat ia pergi tempo hari. Niat hati ingin membuka ponsel, namun ia memilih untuk mandi saja. Rasanya sudah tidak nyaman dengan air hujan yang sudah terasa dingin menyentuh kulitnya.


Selesai membersihkan diri, Dinda langsung menyalakan ponselnya dan ia terkejut begitu banyak pesan yang masuk. Termasuk dari Avril. Panggilan tak terjawab sudah tak bisa terhitung. Ia langsung menekan panggilan pada nama karyawannya. Dan tak perlu menunggu lama, Nisa langsung menjawab panggilan telepon dari Dinda.


"Nis... bagaimana kabarmu?"


"Kakak kemana saja? Dan kenapa menutup toko tanpa ada pemberitahuan sebelumnya? Dan kenapa juga kakak menyuruh orang?" Tanya Nisa setengah berteriak dan hal itu membuat Dinda begitu terkejut.


"Apa? Apa maksudmu? Kapan aku menyuruhmu menutup toko?"

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2