RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
62


__ADS_3

. Malamnya, setelah Avril makan malam, ia menyantap kue yang dibeli tadi siang. Alvi pun ikut memakannya seraya memainkan laptop yang berada di pangkuannya.


"Al... kapan kau luang?" Tanya Avril memecah keheningan diantara keduanya.


"Hemmm? Selasa mungkin. Kenapa?"


"Aku ingin memperkenalkanmu pada temanku. Kalian belum bertemu kan?"


"Teman laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan. Aku tak ada lagi teman laki-laki selain trio konyol."


"Kenapa harus kenalan?" Seperti biasa, Alvi berubah dingin jika menyangkut teman baru Avril baik itu laki-laki ataupun perempuan.


"Ya... siapa tahu, kalian berpapasan diluar, kan kalau sudah saling mengenal, kalian bisa mengobrol."


"Aku tak ada waktu mengobrol dengan orang asing."


"Ishh Al... dia itu baik. Seperti Syifa. Tadinya aku ingin menjodohkannya dengan Aldi. Tapi dia sudah punya pacar."


"Jadi, kau mau aku membuatnya putus dengan pacarnya?" Sontak Avril terkejut mendengar pertanyaan Alvi. Darimana pemikiran dangkal itu? Pikir Avril di balik tatapan sinisnya.


"Tidak begitu Al. Ih pokoknya kau harus mau. Kalau tidak, aku akan marah." Rajuk Avril membawa kuenya menjauh dari Alvi. Sehingga Alvi terhenti dari aktifitasnya dan menatap Avril dengan tatapan konyol. Avril terus menatap Alvi dengan sinis dari ujung ranjang seraya melahap makanan di tangannya.


"Kalau bukan istriku, sudah aku buang dia ke dasar lautan." Ucapnya dengan nada pelan dan terdengar seperti bergumam.


"Kau bergumam apa? Sedang memakiku?" Tanya Avril dengan angkuh dan membuat Alvi memutar tubuhnya membelakangi Avril.


"Singa betina memang ganas. Apa lagi sedang hamil." Setelah bergumam demikian, Alvi menyeringai lalu beranjak dan menghampiri Avril dan merebut kuenya, kemudian Alvi meletakkannya di nakas. Avril tahu arti tatapan Alvi yang licik ini.


"Al... aku datang bulan." Ucapnya dengan suara pelan.


"Kau pikir aku bodoh? Orang hamil tidak datang bulan sayang. Karena kau sudah membuatku kesal, kau terima akibatnya."


"Al... wajahmu jelek jangan memasang senyum begitu." Avril menjauhkan wajah Alvi yang sudah dekat dengan wajahnya.


"Kalau aku jelek, tak mungkin semua wanita yang aku lewati akan mengagumi melihat wajahku."


"Ohhh jadi kau bangga menjadi pusat perhatian perempuan? Oke. Kalau begitu, aku yang akan memberimu pelajaran." Avril beralih dan menindih Alvi dengan wajah marahnya. Sontak Alvi tertawa dan langsung bangkit memeluk Avril yang merajuk karenanya.


"Bercanda sayang. Tapi aku suka caramu. Mau di lanjutkan?" Bisik Alvi langsung ke telinga Avril.

__ADS_1


"Diam kau. Aku sedang marah padamu." Avril masih merajuk membuat Alvi semakin merasa gemas.


"Sayang..."


"Alvi diam."


"Saaayyyaaang.."


"Ihhh Alvi." Geram Avril kini dengan wajah merona.


"Wajahmu merona sayang."


"Kalau bicara lagi, aku pukul kau."


"Boleh. Sebagai gantinya, aku juga akan memberimu pelajaran."


---


. Keesokan paginya, Avril yang tak sempat menerima panggilan semalam pun meraih ponselnya dan menelepon balik pada nomor siapa yang meneleponnya malam-malam.


"Hallo Din. Maaf semalam aku tak sempat menjawab. Ada apa?" Tanya Avril langsung setelah panggilan tersambung.


"Avril. Apa siang ini kau ada waktu luang?" Avril menyernyit mendengar suara Dinda yang sedikit serak. Dan, mengapa ia merasa gelisah.


"Tidak Avril. Nanti siang, bisa kita bertemu di taman?"


"Oh... ba-baiklah. Aku akan kesana." Setelah itu, tiba-tiba telepon terputus membuat Avril merasa heran akan sikap Dinda. Avril menoleh pada Alvi yang masih terlelap dan ia merasa ganjil kenapa tiba-tiba Dinda ingin bertemu dengannya.


. Tepat pukul 10, Avril bergegas ke tempat dimana Dinda mengajaknya bertemu. Terlihat Dinda sudah berada di kursi taman menunggu Avril sendirian.


"Dinda. Maaf aku terlambat. Kau menunggu lama?" Dinda menggeleng seraya melemparkan senyum tipis.


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu pucat Din."


"Tidak Avril. Aku baik-baik saja."


"Jadi, ada apa?" Tanya Avril dengan masih bernada candaan.


"Sepertinya ini pertemuan terakhir kita. Aku akan kembali ke kotaku."


"Eh? Tiba-tiba? Tapi kenapa Dinda?"

__ADS_1


"Tak apa Avril. Aku ingin pulang saja." Tanpa di duga, tangis Dinda pecah meskipun tanpa suara. "Avril maaf." Ucapnya disela isakkannya.


"Dinda kau kenapa? Mengapa kau meminta maaf?"


"Karena aku sudah bersalah padamu Avril. Aku nyaris merebut Aldi darimu. Aku tak punya muka bertemu dengan teman-teman Aldi yang lain. Tapi, kenapa mereka membiarkanku dekat dengan Aldi? Padahal jelas mereka tahu Aldi sudah menikah dengan Avril." Batin Dinda yang tak bisa menghentikan tangisnya.


"Dinda... jangan menangis. Dan cerita saja. Kenapa kau bersedih?"


"Maaf Avril. Aku nyaris merebut kebahagiaanmu." Lirih Dinda dengan suara yang begitu pelan.


"Dinda... aku tak bisa mendengarnya. Katakan dengan jelas. Mungkin aku bisa bantu."


"Kenapa Aldi mendekatiku, padahal dia mendapatkan istri sebaik Avril. Ternyata memang benar, laki-laki tak akan cukup dengan satu wanita. Dari awal harusnya aku menerima perjodohan dari ayah. Yang jelas aku akan menjadi istri sah, bukan selingkuhan." Batin Dinda lagi.


"Mommy...." teriak Reifan dari kejauhan. Dinda menghentikan tangisnya saat mendengar suara yang sangat ia kenali.


"Bunda..." panggil Reifan beralih memeluk Dinda. "Bunda menangis?" Tanya Reifan selanjutnya seraya mengusap air mata Dinda. Avril termangu melihat Reifan yang memanggil Dinda dengan sebutan bunda.


"Din... jadi kau sudah...."


"Avril maafkan aku." Lagi-lagi Dinda hanya berucap demikian.


"Dinda? Avril? Kalian sedang apa?" Tanya Aldi yang datang menyusul Reifan.


"Ah sekalian saja. Dinda ini Avril. Dia--"


"Susah cukup Al. Sampai disini saja. Aku sudah salah menilaimu. Dan harusnya kau jujur dari awal." Ucap Dinda menyela sebelum Aldi menyelesaikan ucapannya.


"Eh? Dinda kau kenapa?" Tanya Aldi yang terheran akan sikap Dinda yang tiba-tiba berubah. Tanpa menjawab, Dinda memilih pergi dan Avril meraih Reifan yang di tinggal oleh Dinda. Sementara itu, Aldi menyusul Dinda dan menarik tangannya. Dinda berhasil terhenti lalu menoleh pada Aldi. Dan 'plak' suara tamparan yang nyaring ini berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Dinda ada apa?"


"Menjauh dariku sialan. Aku tak ingin bertemu denganmu lagi."


"Iya tapi kenapa? Apa salahku? Bukankah kita sudah berencana pekan ini akan bertemu dengan keluargamu?"


"Aku tak sudi menikah dengan suami orang." Ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Aldi. Saat Aldi hendak menyusul Dinda, ia kembali teringat pada Reifan dan Avril.


"Daddy... mommy...." teriak Reifan dengan memeluk Avril yang memegangi kepalanya menahan denyutan yang tiba-tiba terasa. Aldi beralih menghampiri Avril dan Reifan. Sedangkan Dinda, ia berlalu dengan menangis menyesali pertemuannya dengan Aldi.


"Ayah..."rengeknya di dalam taksi. Dinda sudah membulatkan niatnya untuk kembali pulang ke kota S dan tak ingin bertemu dengan Aldi lagi.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2