RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
58


__ADS_3

. Di perjalanan, Alvi tak henti menyeka air matanya yang terus berderai. Rasa takut kehilangan Avril membuat Alvi begitu tertekan.


"Al... maaf." Ucap Aldi yang terkapar di kursi belakang. Namun Alvi tak ingin bicara sedikitpun. Sampai di rumah sakit, Alvi membawa Avril dalam pangkuannya menuju ruang UGD. Dan Aldi di bawa oleh petugas. Dokter segera menangani ketiga pasien tersebut. Alvi lebih memilih untuk duduk di ujung lorong dan terus berdoa agar Avril baik-baik saja.


"Aku mohon selamatkan istriku Tuhan! Aku tak tahu hidupku akan sehancur apa jika tak ada dia. Dia duniaku, dan aku tak bisa jika hidup tanpa dia." Batin Alvi tak henti-henti menangis pilu. Meski begitu, ia segera mengabari Dewi bahwa Aldi dan reifan ada di rumah sakit sekarang. Ia pun menyuruh Bagas untuk mengeluarkan Reno dari penjara dan bersaksi bahwa Reno tidak bersalah. Hal itu akan ia pertanggung jawabkan di persidangan nanti.


Setelah menyendiri hampir 1 jam, Alvi kembali ke area UGD dan duduk termenung sendiri.


"Maaf tuan. Apa anda keluarga dari pasien?" Tanya seorang perawat yang menghampiri Alvi.


"Iya sus. Bagaimana kondisi istri saya?"


"Maaf tuan... dokter menyuruh anda untuk ke ruangannya di sebelah sana." Jawab perawat dengan menunjukkan ruangan dokter dengan begitu sopan. Alvi kemudian memasuki ruang dokter, begitu masuk tangisnya kembali pecah saat mendapati Noah di dalam ruangan. Noah yang paham akan Alvi rasakan, segera memeluk sahabatnya dengan erat.


"Kau dari mana saja Al? Tadi aku mencarimu."


"Noah. Aku tak bisa tanpa dia." Lirih Alvi terdengar sangat terpukul.


"Tenang Al... biar aku jelaskan dulu."


"Aku tak ingin dengar kabar buruk Noah."


"Sayangnya iya Al. Ada kabar buruk, dan ada kabar baik." Seketika itu, Alvi melepaskan pelukannya dan menatap Noah penuh tanya.


"Kondisi paru-paru Avril sangat lemah. Tenggorokannya pun terluka, jantungnya juga sama, berdetak lebih lambat dari biasanya."


"Apanya yang kabar baik? Ishh Noah. Sudah ku bilang aku tak ingin dengar kabar buruk. Aku ingin dengar istriku baik-baik saja."


"Alvi.... dengan detak jantungnya masih ada pun termasuk kabar baik. Tapi itu bukan yang ku maksud."


"Jadi apa maksudmu? Kenapa penjelasanmu berputar-putar."


"Avril memang tidak baik-baik saja. Tapi calon anakmu baik-baik saja Al. Dan saat pemeriksaan waktu itu sepertinya ada kesalahan. Ternyata--".


"A-anak? Ka-kau serius? Avril?" Alvi menyela dengan terbata tak percaya. Kali ini tangisnya bercampur haru dan bahagia.


"Iya Al. Avril mengandung. Dan kata dokter kandungan yang baru saja melakukan USG, kandungan Avril memasuki minggu ke 17. Tandanya sudah 4 bulan lebih. Dan seingatku, hitungannya sesuai dengan hitungan Avril kan?"

__ADS_1


"Noah.... aku mohon. Selamatkan Avril. Dia pasti bahagia mendengar kabar ini."


"Aku akan berusaha Al. Selebihnya, kau berdoa saja. Karena yang menentukan hidup dan mati bukanlah aku."


"Aku akan memberikan apapun padamu jika Avril selamat Noah."


"Tidak Al. Kau sudah banyak memberiku hadiah. Kali ini aku akan melakukannya untuk membalas budimu." Alvi merasa lega dengan apa yang di ungkapkan Noah, ia benar-benar beruntung mendapat sahabat terbaik seperti Noah.


. Alvi beralih menjenguk Aldi setelah ia melihat kondisi Avril yang sudah terbayangkan akan memprihatinkan.


"Apa lukamu tidak fatal?" Tanya Alvi saat Aldi membenahkan perban yang melingkari bahu dan rusuk bagian kirinya.


"Ah... pelurunya sudah di keluarkan. Jadi akan baik-baik saja. Bagaimana dengan Avil?"


"Begitulah. Jantung dan paru-parunya melemah. Dan tenggorokannya terluka. Apa kau tahu dia kenapa?"


"Saat aku tiba dan membuka pintu gudang, aku melihat Aulian tengah mencekik leher Avil."


"Pantas saja."


"Alasan apa yang membuatku harus marah padamu. Kau juga korban. Aku marah pada si bedebah itu saja. Dan mengapa Avril terbawa masalahmu Al?"


"Sepertinya karena Avril menemukan jejak kejahatannya yang mau menjatuhkanku. Aulian berkata jujur padaku tentang alasan dia melakukan ini. Aulian menyimpan dendam padaku, dan berusaha membuat perusahaanku hancur secara perlahan."


"Kata Ray, dia dari kota S?"


"Iya. Dan karena aku bekerja sama dengan om Hadi."


"Kalau begitu, aku akan melihat kondisi Rei. Kau bisa istirahat sendiri kan? Aku juga sudah menyuruh Bagas untuk membebaskan Reno. Aku yang akan bertanggung jawab jika Reno benar-benar korupsi." Tutur Alvi kemudian berlalu meninggalkan Aldi yang termenung sendiri. Betapa bersalahnya ia pada Reno yang selama ini membangun perusahaannya dari awal. Ia tak mengingat betapa bahagianya berjuang bersama dengan ketiga temannya.


. "Ayah..." teriak Reifan ketika Alvi memasuki ruangan. Yang semula hening kini berubah bising. Reifan menangis tersedu-sedu di pelukan Alvi.


"Sakit ayah.... kaki Eifan sakit..." rengeknya memperlihatkan bekas suntikan.


"Kenapa dokter menyuntiknya disini?" Meski sedang menangis, namun Reifan menggeleng kasar menanggapi pertanyaan Alvi.


"Bukan dokter." Jawabnya polos dengan masih terisak keras. Mendengar jawaban tersebut, Alvi langsung berpikir bahwa yang melakukannya tak lain adalah Aulian.

__ADS_1


"Tak apa... ada ayah di sini. Jangan menangis ya..."


"Ayah jangan tinggalkan Eifan. Ayah.... mommy... mommy di ini." Tuturnya kemudian memperagakan mencekik Alvi. Alvi termangu dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Anak sekecil Reifan harus menyaksikan ibu sambungnya mengalami hal mengerikan.


"Jangan di ingat ya nak. Lupakan."


"Eifan takut ayah... Eifan di bawa, Oma menangis."


"Iya iya ayah tahu. Sudah ya jangan di ingat lagi. Sekarang ayah akan melindungi Eifan. Eifan mau bertemu kak Aven?" Dengan antusias, Reifan mengangguk dan terus memeluk Alvi dengan erat tak ingin di lepaskan.


. Singkatnya, keesokan harinya, Alvi tertidur di samping Avril dengan menggenggam tangannya.


"Al..." panggil Avril dengan lirih. Alvi masih tertidur dan tak mendengar panggilan Avril.


"Al...." panggil Avril lagi dengan menggerakkan tangannya. Perlahan Alvi terbangun dan tersenyum menatap pada istrinya.


"Rei dimana Al?" Lirihnya yang terdengar serak.


"Rei baik-baik saja. Dia ada di poli anak." Jawab Alvi seraya menciumi tangan Avril dan tak bisa menahan tangisnya.


"Aku masih hidup Al. Kenapa kau menangis?"


"Aku bahagia sayang. Kalian selamat."


"Syukurlah jika Rei baik-baik saja. Aku merasa lega Al."


"Bukan hanya Rei. Tapi anak kita. Dia juga baik-baik saja." Seketika Avril terdiam. Tangannya perlahan meraih tangan Alvi yang mengelus perutnya.


"Anak? Dia ada?" Tanya Avril dengan air mata perlahan berderai di pelipisnya.


"Iya sayang. Dia ada. Jadi kau harus cepat sembuh. Kita akan bertiga."


"Al... aku tidak keguguran? Kau serius?"


"Iya sayang aku serius. Kau mau lihat hasil USG nya?" Avril mengangguk antusias meskipun masih tak percaya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2