RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
96


__ADS_3

. Dinda masih mendengarkan dengan seksama setiap kata yang di ucapkan oleh karyawan-karyawan suaminya. Ia mendadak kesal dengan anggapan mereka bahwa Aldi pacar dari saingannya di dunia bisnis. Benar, Dinda mengenal Shana semenjak ia menjadi presdir. Ia pun pernah bertemu dengan Shana di sebuah acara yang di gelar beberapa waktu yang lalu. Ia mengakui Shana lebih cantik dan berbakat jika di bandingkan dirinya. Karena terlanjur penasaran, Dinda memberanikan diri menghampiri mereka.


"Maaf. Saya tidak sengaja mendengar obrolan kalian."


"Tak apa. Santai saja. Kau team masuk siang? Apa kau juga tahu tentang Shana?" Dengan ragu Dinda mengangguk menanggapi pertanyaan karyawan di depannya. Ia sendiri tak tahu mengangguk karena alasan apa, nyatanya ia tidak di kenal oleh banyak orang meski ia pernah menjadi seorang presdir. Entah karena ia yang tak populer, atau karena ia menolak saat ayahnya akan memasukkan data dirinya ke dalam Google dan situs pencarian informasi lainnya.


"Bisa jadi pacar Bos yang waktu itu juga Shana. Bukankah Bos pernah berpacaran dengan seorang Presdir."


"Itu bukan Shana. Pacar Bos itu kecelakaan sampai mereka gagal menikah karena pacar Bos nya mengalami amnesia."


Dinda masih menyimak pembicaraan mereka dengan santai dan bersikap seolah tak tahu apa-apa.


"Menurutmu bagaimana? Apa Bos Aldi cocok jika bersanding dengannya?" Tanyanya pada Dinda yang tengah melamun. Kali ini Dinda hanya tersenyum, sudah jelas dalam hatinya ia tengah cemburu jika benar Aldi dan Shana menjalin ikatan. Ia lebih berhak atas Aldian dari pada siapapun. Ia adalah istri sah dari Aldian Mahendra, dan juga nyonya muda perusahaan ini. Setelah mendapat informasi, Dinda memilih untuk meninggalkan mereka dengan perasaan yang sudah kesal.


. Sampai di ruang tunggu, Dinda meminta Bagas untuk menghubunginya jika Aldi sudah selesai meeting. Dan setelah menunggu agak lama, akhirnya Bagas memberitahu bahwa Aldi sudah selesai meeting. Ia segera beralih ruangan setelah Bagas menyuruhnya langsung ke ruangan Aldi. Ketika di depan lift, ia berpapasan dengan Shana dan asistennya.


"Dinda? Dinda Anindira?" Tanya Shana dengan memastikan bahwa ia tak salah melihat.


"Hai." Hanya begitu Dinda menyapa, ia terlanjur cemburu pada gadis di depannya ini. Ia membandingkan dirinya dengan Shana yang terasa jauh berbeda. Shana begitu modis, cantik, pintar, dan berbakat. Tak heran jika orang-orang berpikir Aldi dan Shana adalah pasangan yang cocok.


"Kau juga bertamu?" Tanya Shana selanjutnya.

__ADS_1


"Emmmm bisa di bilang begitu."


"Oohh good luck ya!" Dinda hanya tersenyum paksa menanggapi. Ia lalu bergegas memasuki lift dan menghindari interaksi dengan Shana secepatnya. Rasanya dadanya sudah terbakar sejak tadi.


. Sampai di ruangan Aldi, Dinda membuka pintu setelah ia menyapa Bagas di mejanya. Aldi menyipit mendapati sikap Dinda yang tak biasa. Apa lagi saat Dinda meletakkan makanannya dengan kesal di atas meja Aldi.


"Kenapa? Kay sedang kesal?" Namun Dinda tak menjawab pertanyaan suaminya. Ia memilih untuk duduk di sofa dengan memangku tangan dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Aldi yang merasa penasaran pun menghampiri sang istri lalu meraihnya agar Dinda mau mengatakan apa yang terjadi.


"Sayang. Kau kenapa? Apa ada yang membuatmu kesal?" Tanya Aldi dengan meraih pundak Dinda lalu memutar tubuhnya sehingga istrinya kini menghadap ke arahnya. Dinda perlahan melirik sinis wajah suaminya lalu matanya berkaca-kaca membuat Aldi semakin penasaran. Namun tiba-tiba Dinda menyambar bibir suaminya dengan air mata yang berderai. Nyatanya ia terlalu takut jika Aldi berpaling meski sekarang ia sudah menjadi istri sahnya. Aldi masih tak paham dengan sikap istrinya yang tak bisa ia tebak. Permainannya mulai liar, Aldi segera menjauhkan Dinda darinya.


"Kau ini kenapa? Katakan yang sebenarnya." Tegas Aldi berharap Dinda akan membuka mulut dan mengatakan semuanya. Dinda terdiam, ia menunduk lalu menutupi wajahnya kemudian ia terisak tanpa alasan.


"Sayang. Maaf sudah membentak mu. Aku tak bermaksud. Aku hanya ingin tahu kenapa sikapmu jadi begini." Aldi meraih istrinya lalu membawa Dinda ke dalam dekapannya. Ia benar-benar penasaran mengapa Dinda tiba-tiba bersikap aneh. Pada saat menciumnya, Aldi tahu bahwa Dinda akan melakukan lebih jika ia tak langsung menjauhkan tubuh Dinda darinya. Setelah lama menangis, akhirnya Dinda tenang lalu ia kembali menatap wajah cemas suaminya.


"Aihh... apa kau cemburu? Kenapa harus cemburu? Shana itu hanya rekan bisnis. Dan juga, bukan aku yang menemuinya tadi."


"Eh?" Dinda terlihat terkejut, ia tak paham dengan kalimat terakhir suaminya.


"Aku tak bertemu dengannya sayang."


"Tapi karyawanmu bilang kau sangat cocok dengan Shana."

__ADS_1


"Terus?"


"Ya.... aku akui dia lebih cantik dariku, lebih--"


"Ishhh Dinda... dengar aku ya sayang! Kita itu sudah menikah. Kau istriku, dan aku suamimu. Mau sebanyak apapun wanita cantik diluar, kalau aku tidak menganggap mereka cantik, tetap saja yang tercantik itu hanya kau saja."


"Itu hanya menghiburku saja kan?"


"Hahahaha kalau hanya menghibur, tak mungkin aku mati-matian berusaha agar kau ingat Dinda."


"Tapi..."


"Jangan banyak tapi. Mau aku hukum kau?" Seraya menenangkan, Aldi semakin mendekatkan wajahnya pada Dinda yang tengah menyeka air matanya.


"Jangan macam-macam Al. Ini kantor." Dinda menggeser tubuhnya menjauh dari Aldi, namun Aldi pun kembali mendekatinya sehingga Dinda terus menghindari sampai ia di ujung sofa dan dekat dengan jendela yang sangat lebar. Dinda melirik ke belakang, dan merinding seketika. Pemandangan di belakang sangatlah mengerikan, ia kemudian memejamkan matanya dan kembali menoleh pada Aldi yang ternyata sudah begitu dekat dengannya.


Aldi meraih telinga Dinda, lalu tanpa di duga, ia menggigitnya sampai Dinda meringis kesakitan.


"Al... sebaiknya kau makan, aku sudah bawa makanan untukmu." Bujuk Dinda terus menjauhkan Aldi darinya.


"Aku mau kamu." Jawab Aldi menepis tangan Dinda yang terus menghalangi aksinya. "Bukankah tadi kau juga mau?" Aldi berbisik langsung ke telinga istrinya.

__ADS_1


"Itu karena aku cemburu." Lagi-lagi Dinda mendorong Aldi agar menjauh darinya. Mendapati penolakan yang bertubi-tubi dari istrinya, akhirnya Aldi berhenti menggoda Dinda. Dan ia memilih untuk tidur di pangkuan Dinda yang masih curiga padanya. Melihat Aldi yang terpejam, Dinda merasa luluh, ia meraih kepala Aldi dan mulai mengelusnya dengan lembut. Dinda tahu bahwa suaminya tengah merajuk karena penolakannya, sehingga ia mencium ringan bibir Aldi hingga Aldi kembali membuka mata. Mendapat tatapan berbeda dari Dinda, Aldi beranjak seraya menarik tangan Dinda menuju kamar rahasia yang ada di belakang meja kerjanya.


-bersambung


__ADS_2