RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
60


__ADS_3

. Emilio berlari menyusul Dinda yang sudah keluar dari cafe. Ditariknya lengan Dinda dan membuat gadis itu terhenti dengan melirik kesal. Selama berpacaran dengannya, Emilio tak pernah melihat Dinda sekesal ini padanya. Ia sejenak berpikir, apakah Dinda marah karena Aldi di buat terluka oleh kakaknya.


"Maafkan aku. Aku tahu kakakku salah. Dia gegabah karena melukai Aldi dan anaknya."


"Jadi benar, kak Lian yang membuat Aldi terluka separah itu? Dan apa kau dan kak Lian juga yang membuat Aldi kecelakaan sampai dia koma? Kapan kau berpikir dewasa? Lio. Karena alasan ini yang membuatku lebih tertarik pada Aldi dari pada kau. Sekarang, Aldi sudah terluka begitu karena kakakmu, dia memohon pada presdir yang bernama Galih untuk mengembalikkan kepemilikan perusahaan kembali padamu."


"Dinda maaf."


"Sudahlah Lio. Aku sudah tak ingin bertemu denganmu lagi."


"Dinda..." namun, panggilan Emilio kali ini tak bisa membuat gadis pujaannya menoleh kembali.


. Setiap harinya, Dinda selalu menjenguk Aldi sampai hari dimana Aldi dinyatakan pulih dan boleh pulang. Namun, Aldi mendapati Dinda terlihat begitu murung.


"Kau kenapa?" Tanya Aldi ketika Dinda mendadak melamun sehingga lamunan Dinda membuyar karena pertanyaan Aldi.


"Emm... aku kehilangan kontak dengan temanku. Setiap aku menghubunginya, nomor ponselnya tidak aktif." Jawab Dinda dengan gelisah.


"Kenapa tidak ke rumahnya saja?"


"Aku tak tahu rumahnya dimana?"


"Kalau begitu, katakan saja siapa namanya. Nanti aku akan menyuruh asisten temanku untuk melacaknya."


"Namanya..."


"Al... aku sudah mengatur pertemuanmu dengan Reno. Di taman. Di tempat biasa. Kau masih ingat kan? Anak-anak yang lain juga sudah menunggu. Kecuali dia. Dia masih harus istirahat." Ucap Bagas menyela perbincangan mereka.


"Apa Reno akan memaafkanku?" Lirih Aldi menunduk menyesal. Ia begitu merasa bersalah karena sudah salah faham.

__ADS_1


"Ahhhhh melihat kau bertengkar dengan Reno begini, mengingatkanku pada Syifa. Syifa sedang apa ya di alam sana..." ucap Bagas memilih untuk berlalu lebih dulu.


"Syifa itu sangat istimewa ya?" Pertanyaan Dinda kali ini lebih terdengar sebuah sindiran untuk Aldi.


"Setiap orang punya keistimewaan sendiri. Jadi jangan berpikir begitu oke!" Tutur Aldi dengan melempar senyum agar Dinda tak murung. Keduanya bergegas menyusul Bagas yang menunggu mereka di parkiran. Sesuai rencana, Bagas membawa Aldi ke taman untuk bertemu dengan Reno. Benar saja, disana ada Famela dan suaminya, Reno, dan Demira. Dinda semakin menghimpit tak berniat memperlihatkan dirinya kepada teman-teman Aldi. Ia merasa berbeda dengan mereka.


"Hei. Kau yang merawat Aldi?" Tanya Demira menghampiri Dinda dengan wajah senang.


"Eh? Ti-tidak juga. A-aku hanya menjenguknya saja."


"Kenapa gugup? Namamu Dina kan?" Tanya Demira lagi, namun kini dengan tertawa kecil.


"Dinda." Ucap Dinda memperjelas.


"Ohh... salah? Hei Fam. Katamu namanya Dina? Tapi salah." Demira beralih menoleh pada Famela yang sedikit jauh di belakangnya.


"Tapi fatal Fam."


"Iya Demi... maaf." Mereka terlibat perdebatan kecil dengan diiringi candaan. Namun hal itu tak membuat Aldi dan Reno tersenyum. Keduanya sama-sama menatap datar nan dingin, bahkan Bagas pun memilih menyingkir dan membiarkan Aldi menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Kau masih punya muka untuk bertemu denganku?" Tanya Reno dengan suara berat dan menekan. Aldi paham, suara itu terdengar seperti orang yang tengah menahan amarah.


"Ren..."


"Kau pikir aku akan memaafkanmu? Kau tak tahu bagaimana terpukulnya Dea saat mendengarku di tahan. Dia baru melahirkan, dan kau pasti tahu emosi wanita yang baru melahirkan Al. Nyatanya om Andre lebih mempercayaiku daripada kau. Aku sudah bilang, Lani pelakunya. Dan Aulian yang ada di balik semua kekacauan di kantor. Tapi kau tak percaya." Reno menyela sebelum Aldi mengatakan apa yang sudah ada di tenggorokannya.


"Ren... sungguh aku menyesal."


"Sesalmu tak ada artinya Al. Dia hampir kehilangan nyawanya. Rei, Rei hampir mati kan?" Aldi sudah tak bisa berkata-kata lagi. Air matanya tiba-tiba terjatuh dari kelopaknya. Dengan cepat ia menyeka agar tak lagi ada air mata yang jatuh di depan Reno.

__ADS_1


"Dan apa kau pernah berpikir, kapan aku membohongimu? Kapan aku mengkhianatimu? Siapa di antara kita yang pernah berkhianat? Justru kau Al. Kau yang berkhianat. Kau menyia-nyiakan waktu 5 tahunnya. Dan sekarang dia hampir mati karenamu."


"Sudah Ren. Hentikan ocehanmu. Kau pikir aku tak merasa bersalah? Aku melihat dia di penghujung nyawanya Ren. Tak perlu kau bicarakan lagi aku memang bersalah. Jika kalian ingin meninggalkanku sendiri, silahkan!"


Tanpa di duga, Reno merangkulnya dengan penuh kehangatan dari ikatan pertemanan mereka.


"Syukurlah kau masih hidup. Kalau kau mati, siapa yang akan melanjutkan perjuangan kita yang mati-matian membangun usahamu. Jangan mudah mempercayai orang baru."


"Aku masih di belakangmu Al. Dia juga tak marah padamu." Bagas ikut menenangkan Aldi dengan menepuk pundaknya dari belakang.


Dari tempatnya, Demira tersenyum menatap kelapangan hati Reno yang bersedia menemani Aldi menjalani bisnisnya. Padahal, Aldi sendiri yang membuat Reno merasakan pedihnya di dalam penjara.


"Mereka selalu begitu. Kalau ada satu lagi, pasti akan lebih dramatis. Sayangnya, dia yang paling parah di kejadian ini." Ucap Demira membuat heran Dinda yang mendengarnya.


"Ada korban lain?" Tanya Dinda dengan rasa ingin tahu yang tinggi.


"Iya. Dia teman kami dari kecil. Sekaligus teman baik mendiang istri Aldi. Apa Aldi belum memperkenalkannya padamu?"


"Selain kalian, belum."


"Padahal dia orangnya sangat asyik. Kalau ada waktu luang, kau ikut juga menjenguknya ya. Dia pasti senang, tapi sinis juga. Dia mantan pacar Aldi soalnya." Dinda ikut tersenyum dengan hati yang was-was, bagaimana cara menghadapi orang yang pernah menjadi masa lalu pacarnya?


Demira ikut menepuk pundak Aldi dan meyakinkan bahwa Aldi tidaklah sendiri. Ia dan teman-teman yang lain bersedia berjuang bersama menemani Aldi membangun bisnisnya. Seperti yang dilakukan Avril dan Baren.


. Singkatnya, Demira pergi lebih dulu karena ingin menjenguk Avril bersama Noah. Namun, ia tak sedikitpun menceritakan tentang Dinda, melainkan hanya menceritakan tentang Baren dan Aldi saja. Hingga Avril berpikir untuk menemui Dinda karena ponselnya rusak. Sekalian meminta kembali nomor Dinda.


Di waktu yang sama, Dinda yang tengah menemani Reifan di ruang keluarga pun merasa penasaran sebenarnya siapa mommy yang di maksud Reifan. Sehingga Dinda memberanikan bertanya pada Aldi tentang siapa pemilik nama panggilan spesial Reifan itu. Karena hatinya sangat ganjil ketika mengingat panggilan Aldi dan wanita itu begitu cocok. Mommy dan Daddy. Keduanya seperti sepasang suami istri. Karena jika daddy dan bunda sangatlah jauh jika di sandingkan.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2