RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
55


__ADS_3

. Dinda melihat berita yang beredar di seluruh saluran televisi. Ia sama-sama tak percaya jika Reno melakukan tindak korupsi. Beberapa hari terakhir, Aldi menemuinya untuk sekedar curhat akan masalah yang menimpanya. Dia bercerita bahwa Reno adalah salah satu teman yang begitu ia percaya. Namun akhir-akhir ini, dana perusahaan menipis, seperti ada yang salah dengan setiap laporan keuangan. Beberapa kali meeting pun ia tak menemukan jejak. Meskipun Aldi berkata demikian, namun kenyataannya Reno malah menyimpang dari aturan perusahaan. Dinda bergegas berniat untuk menemui Aldi, meskipun kehadirannya tidak di butuhkan, namun Aldi bukanlah orang asing baginya sekarang.


. Beralih pada penculikan Avril, terdengar dari mereka mengungkapkan bahwa mereka sudah berhasil membawa gadis bernama Vania menuju sebuah villa yang tengah di tinggali oleh Aulian. Beberapa kali ponsel Avril berbunyi dan karena kegaduhan di dalam mobil membuat bunyi ponsel tak terdengar. Setelah sampai, Avril masih tak di lepaskan, baik ikatan tangannya maupun menutup kepalanya. Benar-benar tak bisa melihat apapun. Hanya langkah kakinya saja yang bisa ia lihat.


Kemudian Avril di dudukkan di sebuah kursi, bisa ia tebak bahwa kini ia tengah berada di gudang. Kemudian terdengar seseorang datang menghampiri mereka. Avril tahu betul pemilik suara itu, sehingga ia mencoba berontak namun kembali diam saat wajahnya di tampar seseorang. Sangat perih dan panas terasa di pipinya yang masih tertutup kain.


"Aku penasaran seperti apa wajah orang yang menghambat rencanaku." Kemudian Aulian membuka penutup kepala Avril dan lakban yang menutupi mulut Avril, ia begitu terkejut mendapati gadis di hadapannya adalah yang selama ini ia kejar.


"Av-avril?"


"Lian. Jadi kau yang membuat teman-temanku terpecah?" Geram Avril dengan tajam menatap Aulian


"Hei! Aku bilang Vania." Teriak Aulian pada seluruh bawahannya.


"Di-dia Vania tuan." Jawab Ken yang menunjukkan nama yang tertera di kartu identitas Avril yang di pasang di saku jas kerjanya.


"Dia Avril. Aku mengenalnya. Bagaimana bisa?" Lirih Aulian masih tak percaya bahwa yang di depannya adalah Avril.


"Kenapa Lian? Kau heran? Apa kau tak mengenalku? Sebaiknya lepaskan aku Lian. Percuma kau menahanku, aku sudah tahu kebusukkan mu. Dan yang memecah kepercayaan temanku itu kau dengan menggunakan Lani sebagai alat. Iya kan? Aku tak tahu apa motifmu, tapi aku pastikan om Andara akan memasukkan mu ke dalam penjara." Namun Aulian malah tertawa lagi dengan begitu lepas.


"Haha Avril... karena kau sudah tahu rencanaku, aku terkesan padamu sayang." Aulian mencoba membelai wajah Avril namun dengan cepat Avril menghindari tangan Aulian.


"Jangan menyentuhku sialan." Geram Avril melemparkan tatapan tajam mengintimidasi Aulian.


"Tatapanmu begitu menakutkan. Oh sayang keberuntungan macam apa ini? Aku sedang mengejarmu, dan kebetulan ternyata yang mengganggu rencanaku juga adalah dirimu." Namun kali ini, Avril yang tersenyum begitu puas seakan merendahkan Aulian di hadapannya.


"Tapi sayangnya, kau salah orang Lian. Kau berurusan denganku, sama saja dengan kau berurusan dengan saham dan nasib perusahaanmu."


Kembali ponsel Avril berdering, kali ini Aulian menjawab tanpa melihat nama penelepon.

__ADS_1


"Kau dimana? Kenapa belum pulang? Ray bilang kau tak ada di rumah, dan juga tak ada di kantor Aldi. Dan juga Rei hilang. Apa dia bersamamu?" Pertanyaan tersebut berhasil membuat Aulian terkekeh.


"Maaf. Pemilik ponsel sedang aku tahan. Jika kau ingin menyelamatkannya, datanglah ke villa Flamingo dengan Aldian Mahendra besok jam 8 pagi. Sampaikan salam perpisahannya disini karena besok adalah hari terakhir kau bertemu dengan Avril."


"Apa maksudmu sialan? Kau apakan Avril?"


"Emmm aku apakan ya? Sejujurnya aku ingin tidur dengannya."


"Sialan. Jangan pernah menyentuh adikku. Atau kau akan tahu akibatnya."


"Ohhh kau kakaknya?"


"Tanpa menunggu besok pun aku akan kesana sekarang."


"Wah menakutkan." Ucap Aulian langsung memutuskan panggilan. "Aihhh aku lupa mengatakan bahwa anak yang bernama Reifan Gavin Mahendra sedang berada di perjalanan menuju ke sini." Sontak Avril terbelalak mendengar ucapan Aulian itu. Apa maksudnya? Pertanyaan itu yang muncul di benak Avril saat ini.


Tak lama, beberapa orang datang membawa seorang anak yang tertidur di pangkuannya.


"Rei." Pekik Avril mencoba beranjak namun ia malah tersungkur bersama kursi yang terikat dengannya.


"Apa yang kau lakukan pada Rei? Lian. Lepaskan Rei. Jangan membawa Rei dalam masalahmu. Kau bisa melakukan apapun padaku. Asal jangan melakukan apapun pada Rey."


"Hemmm kau serius?" Seringai muncul di wajah Aulian, lalu ia kembali mendekati Avril yang masih terbaring di lantai.


"Kalau begitu, aku mau kau."


"Cih... Bunuh saja aku. Aku tak sudi"


"Baiklah kalau begitu, aku akan membuat anak ini--".

__ADS_1


"Tidak Lian. Jangan apa-apakan Rei. Aku mohon."


"Memohonlah dengan benar."


"Lian... aku mohon jangan sakiti Rei. Dia putraku satu-satunya."


"Wahhhh mengejutkan. Kau memiliki putra dari Aldian?"


"Alvi.... tolong..." batin Avril menjerit dalam hati.


"Ah... melihatmu menangis aku jadi tak tega sayang." Lian membuka tali yang mengikat tangan Avril dan membiarkan Avril duduk dengan relaks.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan Lian? Kenapa kau sangat membenci Aldi sampai-sampai kau membuat onar di kantornya."


"Hahaha dia sudah merebut kepercayaan Hadi. Seharusnya Hadi itu bekerja sama denganku. Tapi gara-gara Aldian, semuanya kacau. Dia mengambil kesempatan emas ku. Sial... kenapa dia tak mati saat kecelakaan itu? Aku sudah membuatnya koma, tapi dia masih hidup. Sia-sia aku membantu Lio untuk membunuh Aldi." Dari ucapannya, Aulian begitu frustasi.


"Apa maksudnya? Kecelakaan? Apa Lian juga penyebab kecelakaan Aldi? Jadi benar, Aldi celaka bukan murni karena kecelakaan tunggal. Ada oknum lain yang ikut menjadi penyebab. Dan itu adalah Lian." Batin Avril yang tak percaya kenyataannya.


"Kegagalan bisnismu itu bukan karena Aldi."


"Lalu karena siapa? Kalau dia tidak datang ke kota S dan bergabung dengan Hadi, maka perusahaanku tak mungkin mengalami penurunan."


"Pantas saja." Cetus Avril lalu terkekeh kembali menatap Lian dengan tatapan merendahkan. Hal itu membuat Lian semakin kesal dan ia tak lagi memikirkan perasaannya pada Avril. Lian mencengkram dagu Avril dengan keras dan tatapannya yang tajam menekan.


"Pantas apa gadis sialan?"


"Pantas saja Alvian Revano tidak menerimamu sebagai rekan bisnisnya. Jika dia menyetujui kontrak kerja sama kalian, aku yakin Alvi akan kerepotan menghadapi orang gila sepertimu." Lian menyernyit tak mengerti dengan maksud yang di ungkapkan Avril.


"Sudah aku katakan Lian. Kau salah jika berurusan denganku. Apa lagi membawa Rei. Bukan hanya kak Galih, tapi Aldi, Alvi, Om Andara yang akan turun tangan langsung memenjarakanmu."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2