
. Avril menatap heran pada pria di depannya yang jelas tengah mengajaknya berkenalan. Avril tersenyum lalu membalas uluran tangan Lian sembari menyebutkan namanya sendiri. Setelah itu, Avril memilih untuk kembali ke mejanya. Sedangkan Lian berlalu keluar dari resto.
"Tidak ada mewah-mewahnya." Cetus Avril yang baru saja duduk.
"Kenapa nona?" Tanya Ray penasaran.
"Iya itu. Alvi bertemu dengan orang penting kenapa tidak booking ruang VIP agar lebih leluasa dan fokus?" Namun Ray hanya tersenyum menanggapi protes Avril.
"Tuan hanya ingin bersantai saja nona. Jika di ruang VIP, beliau tidak akan merasa relaks, karena suasananya terasa resmi."
"Hemmm begitu ya?"
Setelah melirik ke arah Alvi sekilas, Avril kembali terhanyut dalam pikirannya sampai Ray pun merasa ada yang berbeda pada sikap Avril sekarang.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu nona?"
"Emm Ray. Apa sebaiknya aku beritahu Aldi saja?"
"Eh? Tentang apa?"
"Tentang Lani."
"Tidak ada salahnya nona bicara."
"Bagaimana jika Aldi tidak percaya?"
"Hanya tinggal memperlihatkan video yang nona lihat saja."
"Baiklah. Secepatnya aku akan mengungkap kebusukan Lani. Dan mencari tahu apa maksudnya dia melakukan itu."
"Semoga berhasil nona." Ray menyemangati dengan wajah tersenyum seperti biasanya.
. Sesuai perjanjian, Aldi dan Dinda bertemu di sebuah cafe. Meski waktu sudah menjelang malam, Dinda tetap bersikeras ingin bertemu walaupun Aldi sempat ingin membatalkan janjinya. Namun, karena sikap Dinda yang demikian, Aldi hanya bisa mengikuti dan tak ingin banyak membantah.
"Mau makan apa?" Tanya Aldi setelah keduanya duduk di salah satu meja yang tepat di pojok ruangan.
"Sebelumnya aku minta maaf." Bukannya memesan, Dinda malah terlihat tak nyaman berada di dekat Aldi sekarang.
__ADS_1
"Untuk?"
"Siang tadi."
Aldi tak bisa menahan senyumnya mendengar jawaban Dinda. "Tak apa. Lupakan saja. Aku mengerti kau pasti sedang sibuk."
"Bukan."
"Bukan? Apa? Kau sedang tidak mau diganggu? Atau..."
"Aku bertemu Lio. Dan dia mengajakku kembali." Sontak Aldi terdiam tak berkata, ia merasa lidahnya tiba-tiba kelu, bibirnya terasa kaku seketika.
"Oh... haha... ha.. ya... baguslah. Bu-bukankah kalian masih saling mencintai? Dan..."
"Aku berpaling padamu sekarang."
"Eh? Hahahaha Dinda... apa kau terbebani oleh ucapanku yang ingin menjadikanmu bundanya Rei? tak apa Din... kalau kau masih mencintainya, abaikan saja aku. Hahaha anggap saja aku hanya angin lalu. Dan anggap aku hanya bercanda berkata begitu." Dinda semakin sendu, ia tahu dibalik tawa Aldi yang terdengar lepas, tersimpan rasa kecewa yang teramat dalam. Terlihat jelas dari kerutan di alisnya yang seakan mengatakan 'apa sesakit ini?'.
"Al..."
"Oh Din... sepertinya aku melupakan sesuatu." Ucap Aldi beranjak dari duduknya. Ia melangkah dengan raut wajah dingin melewati Dinda yang masih terduduk sendu. Langkahnya terhenti saat sebuah tangan menarik ujung kemejanya dan Dinda masih enggan beranjak ataupun memperlihatkan wajahnya. Tanpa bicara, setelah keduanya terdiam sesaat, Dinda beralih menarik tangan Aldi keluar dari cafe. Tanpa di duga, Dinda memeluk Aldi tiba-tiba saat keduanya sudah berada di samping mobil Aldi.
"Kau menangis?" Tanya Aldi yang merasakan gemetar tubuh Dinda yang terlihat sedang menahan tangis. Namun, pertanyaan yang Aldi lontarkan tak mendapati jawaban. Ia tahu maksud dari apa yang di ungkapkan Dinda, ia mengerti makna dari kalimat itu, yang tak lain adalah Dinda ingin ia tetap bersamanya tak peduli siapapun yang datang ke kehidupannya, Dinda sendiri akan tetap memilih Aldi.
. Beberapa hari telah berlalu, Avril semakin ketat mengawasi setiap pergerakan Lani. Sampai akhirnya ia menyerahkan dokumen keuangan bulanan pada Lani. Setelah kembali, Avril langsung memasuki ruangan Reno dan memasang jempol sembari tersenyum sinis.
Saat Avril hendak kembali, Reno yang merasa ada yang aneh pada temannya itu langsung memanggil dan membuat Avril terdiam di dekat pintu.
"Apa Ren? Aku masih ada pekerjaan."
"Badanmu terasa berisi Vil. Efek keguguran atau hanya perasaanku saja?" Tanyanya tanpa ragu sedikitpun.
"Benarkah? Ah... aku tidak menyadarinya Ren." Jawabnya tak kalah santai. Reno sempat terkejut, ia pikir Avril akan murung atau marah. Namun ternyata, pertanyaan itu tak jadi masalah untuk Avril.
"Tapi.... kau seperti sedang hamil Vil." Mendengar hal tersebut, Avril semula terdiam, lalu ia tertawa dengan lepas.
"Kau ini ada-ada saja Ren. Sudah jelas anakku tak ada. Haha sudahlah. Aku kembali bekerja lagi ya." Ucapnya jelas menepis ungkapan Reno agar ia merasa tenang dan tak menjadi pikiran. Namun, sebelum membuka pintu, Avril sempat terdiam dan ia menatap sesaat pada perut yang memang terlihat membesar. Ia meraih lalu mengusapnya perlahan untuk sekedar menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Vil... Dea sedang hamil. Dan aku tahu ciri-cirinya. Maaf jika membuatmu tersinggung, tapi aku sarankan sebaiknya kau ke klinik saja dulu. Di sini juga ada alat untuk USG jika kau ingin tahu lebih jelas. Aku takut kemarin hanya--".
"Sudahlah Ren. Aku juga melihatnya sendiri. Tak ada janin di rahimku. Dan aku juga tak ingin berekspetasi tinggi, karena untuk masalah seperti ini aku tak ingin kecewa."
"Maaf Vil. Aku tak bermaksud."
Avril membuka pintu lalu melempar senyum pada Reno sebelum dirinya kembali menutup pintu.
. Di waktu yang sama, Alvi yang baru kembali dari lantai bawah, ia langsung menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Apa tuan ingin dibuatkan minum?" Tanya Ray dengan sopan seperti biasanya.
"Aku mau ice cream Ray." Jawabnya dengan santai membuka jas dan melonggarkan dasinya. Ray masih terdiam tak menanggapi permintaan majikannya, ia merasa heran karena sebelumnya Alvi tak begitu menyukai ice cream. Memakannya pun kemungkinan hanya ketika dengan Avril saja.
"Ray..."
"I-iya tuan... ma-mau rasa apa?"
"Strawberry." Lagi-lagi Ray di buat heran. Selama ini, Alvi belum pernah memakan buah ataupun makanan berperisa berry.
"Oh? Ah... i-iya tuan di mengerti." Jawabnya dan langsung bergegas untuk membeli apa yang di inginkan tuannya.
"Ray..." sontak, langkah Ray terhenti begitu ia meraih gagang pintu.
"Beli rujak ya! Buahnya campur, pedas." Lanjutnya membuat Ray tercengang. Ia segera memutar tubuhnya dan memasang wajah panik menatap Alvi.
"Tuan... tuan alergi pedas. Bagaimana jika nanti--"
"Beli atau aku pecat kau!!" Tegasnya menyela cepat dengan memasang wajah yang suram.
"Tapi tuan... aler--"
"Kau membantah?" Lagi, suaranya semakin menekan dan auranya terasa mencekam.
"Ti-tidak tuan. Sa-saya mengerti." Ucap Ray dengan sigap lalu bergegas dengan perasaan tak karuan.
"Apa tuan sedang kerasukan?" Batinnya mengumpat sendiri.
__ADS_1
-bersambung