
. "Kita sudah mengecek semua ruangan di hotel ini tuan." Ucap Andra yang sudah putus asa mencari keberadaan nona mudanya.
"Ponselnya masih aktif dan pasti dia ada di salah satu kamar hotel ini."
"Saya merasa curiga pada kamar 654 tuan. Karena yang keluar dari ruangan itu memakai beberapa peralatan seperti saya. Dari earphone, sampai jas pun saya bisa membedakannya.
"Kita cek lagi." Ketika keduanya berubah haluan dan kembali mengecek kamar nomor yang di maksud Andra, Hadi termangu mendapati Aldian yang tengah menelepon seseorang di depan kamar itu. Yang lebih mengherankan ialah, saat Aldi menempelkan telinganya pada pintu seakan tengah mendengarkan sesuatu.
. Di dalam, beberapa kali pun ponsel Dinda berbunyi, Emilio tidak menggubrisnya, ia malah menekan tombol power untuk sekedar mendiamkan suara bising itu. Ia masih enggan melepaskan Dinda yang sudah kehabisan tenaga untuk melawannya. Saat ia membuka kemejanya, Dinda masih berusaha kabur, dan dengan kasar pula Emilio mendorong Dinda kembali ke tempat tidur.
"Diam!" Tegas Emilio lagi.
"Jangan Lio." Dinda yang tak ingin terjadi sesuatu padanya malam ini pun berusaha menghabiskan tenaga yang masih tersisa untuk kembali melawan Emilio. Dinda meraih benda apapun yang ada di nakas lalu membenturkannya pada kepala Emilio. Saat Emilio meringis kesakitan, ia beranjak dan membawa ponsel serta tasnya menuju pintu. Kali ini ia memasukan sandi dengan acak dan tanpa di duga, ia berhasil membuka pintu. Dengan langkah yang tertatih, Dinda mencoba berjalan menuju lift. Ketika ia menekan tombol untuk membuka lift, terlihat Emilio menyusulnya. Sesegera mungkin Dinda masuk dan menutup lift dengan cepat.
. Di waktu yang sama, Aldi dan Hadi akhirnya menyusuri setiap ruangan berharap bisa mendengar suara ponsel Dinda. Sehingga mereka memutuskan untuk menghubungi polisi. Andra lebih dulu berlalu menuju kantor polisi dan Hadi mengajak Aldi untuk menunggu Andra di depan hotel. Terlihat bahwa Aldi langsung kemari untuk menginap setelah ia sampai di kota ini.
__ADS_1
"Ponselku kehabisan baterai. Dan saat aku mengisinya, aku menghidupkan ponselku untuk mengabari Dinda, tapi aku melihat pesan dari ayah bahwa Dinda dalam bahaya. Aku mencoba menghubungi nomor Dinda, namun aku samar mendengar suara dering di samping kamarku tepat saat aku memanggilnya. Saat aku mencoba dari depan pintu, tadinya aku berniat untuk mengetuknya, tapi sepertinya bukan Dinda. Karena saat panggilannya masih tersambung, suara dering itu terhenti." Jelas Aldi membuat Hadi mengerti mengapa calon menantunya ini bisa berada di depan kamar itu. Aldi terus memanggil nomor Dinda yang sedari tadi tidak di angkat. Dan untuk yang kesekian kalinya, panggilannya terjawab.
"Dinda. Kau dimana?" Tanya Aldi dengan panik sekaligus lega.
"Al... tolong. A-aku di parkiran bawah. A-aku sudah kehabisan tenaga."
"Parkiran? Oke aku akan segera kesana." Setelah mengatakan hal itu, Aldi segera menuju parkiran dan menyusuri setiap lorong untuk mencari Dinda.
. Dinda yang merasa sudah aman dari kejaran Emilio, siapa sangka Emilio sudah berada di belakangnya. Emilio meraih tangan Dinda dan kali ini Emilio tidak menarik atau mencium Dinda dengan paksa. Ia membawa Dinda ke tengah jalur dan keduanya berdiri disana.
"Kita mati bersama." Ucap Emilio berhasil membulatkan mata Dinda. Namun ia tak mengerti maksud Emilio apa, dan tak lama setelah berkata demikian, terlihat mobil melaju kencang ke arah mereka. Dinda semakin panik saat Emilio hanya diam dan memeluknya di tempat itu. Emilio benar-benar berniat membawanya ke alam baka bersama.
"Jika aku tak bisa memilikimu, maka siapapun tak boleh ada yang memilikimu Dinda." Tutur Emilio dan keduanya terpental berbeda arah. Emilio sedikit mendorong tubuh Dinda tepat ketika mobil menghantamnya. Namun efek yang di alami Dinda tak kalah parah dari Emilio. Dinda membentur ujung tembok dengan keras dan tubuhnya terseret karena pentalan yang cukup keras. Aldi mematung menyaksikan kejadian tragis tersebut di depan matanya sendiri. Ia benar-benar tak bisa bergerak melihat Dinda yang terkapar di dekat sebuah mobil dengan darah dimana-mana. Melihat Aldi yang gemetaran, Hadi menepuk pundaknya untuk menyadarkan Aldi dan Hadi berlari ke arah Dinda lalu meraihnya. Aldi pun memaksa tubuhnya untuk bergerak dan ikut menyusul Hadi. Ia melirik sekilas pada Emilio yang sudah tak bisa ia kenali. Rasa takut mulai menjalar di tubuhnya ketika melihat darah yang membuatnya merinding. Hadi membiarkan Aldi memangku kepala Dinda yang sudah terlelap. Namun saat ia sentuh, terlihat matanya terbuka perlahan. Dinda mencoba mengangkat tangannya lalu dengan cepat Aldi meraih tangan Dinda dan membawanya ke pipi untuk Dinda raih. Terlihat senyum Dinda mengembang dengan air mata yang berderai. Aldi tak kuasa menahan tangisnya lalu memeluk Dinda dengan terisak.
"Jangan pergi. Jangan meninggalkanku. Aku tak ingin kehilangan seseorang untuk yang kesekian kalinya. Aku mohon... jangan pergi Dinda." Lirih Aldi kian erat memeluk pujaan hatinya.
__ADS_1
"A-ku berhasil Al. A-aku ti-dak melakukan apa-apa dengan Lio. A-ku tidak memberikannya pada Lio." Ucap Dinda dengan terbata dan sangat pelan nyaris tak terdengar oleh Aldi.
"Jangan banyak bicara. Kuatkan dirimu. Dan aku akan menghentikan pendarahan di kepalamu untuk sementara." Tutur Aldi kemudian kembali memberikan Dinda pada Hadi. Ia membuka kemejanya lalu merobeknya sebagai ganti perban.
"Ayah... aku masih...." belum sempat mengatakan semuanya, Dinda kembali terlelap membuat Aldi tak bisa menahan tangisnya lagi. Aldi meraih tangan Dinda setelah ia memasang perban di kepala Dinda. Tangannya masih hangat, namun ketakutan kehilangannya masih tak bisa ia sembunyikan.
. Setelah Dinda di bawa ke rumah sakit, Aldi dan Hadi berada di luar ruangan menunggu proses operasi yang dilakukan dokter. Andra memberi kabar bahwa Emilio tidak selamat. Kemudian Andra memberikan jasnya pada Aldi yang hanya memakai kaos. Kemejanya sudah rusak ia robek-robek di parkiran. Setelah menunggu lama, tepat saat Salma dan Yasmin datang, dokter keluar dari ruangan operasi dengan wajah sendu.
"Kondisi pasien sangat kritis. Butuh perawatan ekstra karena ada kerusakan di organ otaknya. Jika pasien selamat, kemungkinan pasien mengalami gegar otak." Jelas Dokter menjawab pertanyaan dari sorot mata keluarga Dinda.
. Setelah kejadian itu, Aldi tak kembali ke kotanya, ia memilih menetap di sana sampai Dinda sadar. Sudah hampir 3 pekan Dinda koma dan tak menunjukan akan segera sadar. Hari ini, Aldi tertidur di samping Dinda yang mulai membuka mata. Dinda meraih kepala Aldi sehingga Aldi terbangun.
"Dinda..." lirihnya meraih tangan Dinda.
"Anda siapa?"
__ADS_1
-bersambung