RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
59


__ADS_3

. Beberapa hari kemudian, meskipun Avril sudah membaik, namun ia tak bisa bertemu dengan Reifan. Selain karena berbeda lantai, peraturan untuk anak di bawah 5 tahun pun menjadi alasan mengapa Reifan tak boleh di bawa ke ruang inapnya.


Suatu ketika, Avril di anjurkan untuk memeriksa kandungannya ke poli kandungan yang berada di lantai bawah. Karena Alvi ada pekerjaan, terpaksa Ray menemani Avril menggantikan Alvi. Ketika di meja pendaftaran, Avril dengan tak sengaja berpapasan dengan Dinda yang tak kalah terkejut melihat kondisi Avril.


"Avril? Kau kenapa?" Tanya Dinda dengan mendadak panik.


"Aku.... kecelakaan." Jawab Avril terpaksa berbohong, karena ia tak ingin Dinda tahu bahwa dirinya di culik dan hampir mati. Kemudian Dinda melirik pada Ray yang mendorong kursi roda Avril. Sontak Avril ikut menoleh pada Ray setelah ia mendapat kode dari Dinda seakan berkata 'ini suamimu?'


"Oh... ini bukan suamiku Din..." ucap Avril tertawa kecil.


"Bukan? Ya ampun aku salah sangka. Maaf.".


"Saya asisten nona Avril." Ucap Ray ramah.


"Lalu, suamimu kemana?" Tanya Dinda selanjutnya.


"Dia..."


"Avril Vania." Panggil perawat menyela obrolan Avril dan Dinda.


"Din.. maaf aku harus masuk."


"Iya Avril.. kita lanjut mengobrol lagi di lain waktu. Cepat sembuh ya." Balas Dinda pun ikut berlalu setelah Avril memasuki ruang pemeriksaan. Saat Dinda sudah berjalan jauh, ia baru teringat bahwa ruangan yang Avril masuki adalah ruang pemeriksaan ibu hamil.


"Semoga kau sehat-sehat saja Avril." Ujar Dinda semakin cepat melangkah menuju kamar Aldi. Aldi yang harus menjalani operasi kecil tempo hari, membuatnya masih harus berada di rumah sakit lebih lama.


. "Al... aku ingin bertanya serius." Ucap Dinda memasang wajahnya tak kalah serius dari ucapannya.


"Apa?"


"Maaf jika waktunya tidak tepat. Tapi aku ingin memastikan apa kau benar-benar menyukaiku atau tidak." Suara Dinda kian menjadi lirih dengan wajah merona karena malu.


"Apa karena aku yang belum menemui orang tuamu sampai kau ragu dengan keseriusanku?"


"Bohong jika aku berkata tidak Al. Tapi disisi lain, aku tidak memaksamu untuk cepat-cepat menemui ayahku. Hanya saja aku butuh kepastian."

__ADS_1


"Aku serius Dinda. Tak perlu aku berjanji, jika sudah waktunya, aku akan menemui ayahmu. Kapanpun itu."


"Hemmm tapi apa aku boleh memperkenalkanmu pada temanku?"


"Siapa?"


"Ya nanti saja. Bukan kejutan kalau di beritahu sekarang."


"Teman perempuan?"


"Iya. Aku tak punya teman laki-laki."


"Benarkah?"


"Serius... hanya kau saja."


"Ohhh begitu?"


"Memang begitu."


Keluarga Aulian benar-benar tak habis pikir. Mereka mendatangi pengadilan untuk menyaksikan terhukumnya anak sulung Amar Sanjaya. Emilio pun turut serat menyaksikan kakaknya mendapat hukuman berlapis. Emilio melirik ke arah Emira yang ikut menghadiri sidang mantan suaminya, wajahnya sangat sendu, tapi bukan karena Aulian akan di penjara, tapi karena Emira sudah kehilangan janinnya akibat perlakuan Aulian tempo hari.


. Setelah di rasa selesai, Emilio menghampiri wanita yang ia kira masih menjadi kakak iparnya itu.


"Kak Liana." Panggil Emilio menghentikan langkah Emira yang hendak menghampiri Alvi.


"Ada apa Lio?"


"Kakak apa kabar?".


"Tidak baik Lio."


"Maaf. Tapi kenyataan kakakku begitu ternyata membuatmu terpukul, padahal kalian menikah karena--"


"Terpaksa? Kau benar Lio. Harusnya aku tak bersedih kehilangan calon anakku karena aku menikah dengan ayahnya hanya terpaksa saja." Mendengar penuturan Emira, Emilio membeku seketika.

__ADS_1


"Kakak hamil?"


"Sudah tidak Lio. Kakakmu yang membuatnya pergi." Kini pecah sudah tangis Emira yang sudah mereda beberapa jam sebelum ia kemari.


"Kak... maaf--"


"Aku dan kakakmu sudah bercerai. Jadi aku bukan kakak iparmu lagi Lio." Ucap Emira lagi kemudian berlalu meninggalkan Emilio yang masih mematung tak percaya. Ia begitu menyayangkan Emira telah bercerai dengan kakaknya. Ia tahu sebaik apa Emira pada keluarga Aulian. Terlihat Emira menghampiri Amar dan istrinya yang ternyata tengah menunggunya. Terlihat pula Emira kembali menangis ketika menjelaskan sesuatu. Di ikuti oleh ibunya Emilio yang menangis lalu memeluk Emira dengan erat. Emilio menebak bahwa Emira tengah membicarakan tentang perceraiannya dengan Aulian.


. Alvi kembali menemui Avril di rumah sakit. Di loby, ia berpapasan dengan Dinda. Dinda terhenti lalu menoleh pada Alvi yang semakin jauh.


"Sepertinya aku pernah melihat wajah itu." Ucap Dinda bergumam sendiri. Kemudian ia mengingat wajah yang terpampang di sebuah surat kabar. Dimana Alvi merupakan pengusaha muda yang berhasil dan sukses di kota ini.


"Aku jadi ingat ayah. Ayah mau menjodohkan ku dengan siapa ya? Ayah bilang dengan presdir. Apa dia orangnya?" Dinda terus bergumam sendiri, kemudian ia memilih untuk segera berlalu dari rumah sakit menuju toko miliknya.


Di pertengahan jalan, Dinda mendapat pesan. Ia segera membaca dan raut wajahnya merubah saat mendapati siapa yang mengirimnya pesan.


[Cafe B, meja 8.] Hanya itu yang tertera, namun Dinda langsung mengerti akan maksud pesan itu. Meski tak ingin lagi bertemu dengan mantan kekasihnya ini, namun Dinda tetap menemuinya untuk menghargainya saja. Emilio sudah menunggunya datang, dan tak baik jika ia tak menemui Emilio.


Dengan langkah yang malas, Dinda berjalan menghampiri Emilio yang tengah menatap keluar jendela. Namun tatapan itu pudar saat Dinda datang dan duduk di seberangnya.


"5 menit. Aku sedang sibuk." Ucap Dinda dengan ketus.


"Din... apa masih tak ada tempat untukku?"


"Lio... maaf. Aku sudah menentukan pilihanku."


"Dan Aldian yang menjadi pilihanmu? Kenapa Dinda? Dia duda dan punya anak."


"Lalu? Urusannya dengan status apa? Kau perjaka tapi kau tak punya pendirian. Aldi lebih baik darimu."


"Bukankah kau kabur dari rumah karena mau di jodohkan dengan seorang duda?"


"Tapi Aldian berbeda Lio." Geram Dinda mulai kesal sendiri. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Emilio yang putus asa karenanya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2