
. Aldi mematung seketika, ia kemudian tertawa melihat Dinda yang tak mengenalinya.
"Haha sayang. Jangan bercanda. Kau tidak mengenaliku?" Namun, Dinda menggeleng membuat Aldi menjadi sendu.
"Jadi ini efeknya?" Lirih Aldi yang mengingat kembali kejadian tragis tempo hari. Dinda melihat cincin yang melingkar di jari manisnya sama persis dengan yang melingkar di jari manis Aldi.
"Kau suamiku?" Tanya Dinda dengan ragu. Kemudian ia beranjak dan merentangkan tangannya, sehingga Aldi mendekat dan memeluknya.
"Apa aku melukai hatimu karena aku tidak mengenalimu?" Aldi yang tak membalas pelukan Dinda pun hanya memilih diam.
"Kita bukan suami istri. Harusnya minggu depan kita menikah." Jawab Aldi yang menahan dadanya yang terasa sesak.
"Siapa namamu?"
"Aku Aldian."
"Nama yang bagus. Lalu, kita sudah berpacaran berapa tahun?"
"Kita tidak pacaran. Kita di jodohkan."
"Aih... berarti kita tidak saling mencintai." Keluh Dinda terdengar begitu kecewa. Aldi berdecih lalu ia beralih meraih kedua bahu Dinda dengan menatapnya kasar.
"Tolong jangan. Bahuku sakit." Rintih Dinda yang tak bisa menahan linu di bahunya.
"Kau benar-benar tak mengingatku?"
"Kau pikir aku bercanda? Kalau aku mengingatmu, aku tak mungkin bertanya tentang siapa dirimu." Terdengar pintu terbuka dan memperlihatkan Salma dan Hadi memasuki ruangan. Di susul oleh Yasmin di belakang, dan raut wajah Dinda pun berubah seperti tadi. Dinda meraih tangan Aldi menatap orang tuanya dengan ketakutan. Salma tak kuasa menahan haru dan ia langsung memeluk erat putri sulungnya.
"Dinda... syukurlah nak..."
__ADS_1
"Anda ibu saya?" Sontak pertanyaan itu berhasil menghentikan tangis Salma dan membuatnya melepaskan pelukan dari Dinda.
"Aldi... Dinda kenapa?" Tanya Salma beralih menatap Aldi yang memalingkan wajahnya dari mereka.
"Dinda amnesia bu. Dia juga tidak mengenaliku." Dan setelah mendengar jawaban Aldi, Salma yang tak percaya akhirnya ambruk tak sadarkan diri. Sehingga Yasmin dengan cepat memanggil dokter.
Setelah dokter memeriksa ibu dan anak itu, dokter kembali memberi penjelasan pada Hadi tentang kondisi Dinda. Hadi hanya bisa pasrah, ia tak bisa mengubah apa-apa sekarang. Yang harus ia lakukan hanyalah berusaha agar ingatan Dinda pulih.
Avril yang mendengar kabar itu pun tak bisa berbuat apa-apa, kehamilannya semakin terlihat dan hal itu membuat Alvi lebih posesif. Bahkan untuk ke rumah ayahnya pun, Alvi selalu beralasan takut terjadi apa-apa.
. Setiap hari, Aldi selalu menemui dan menemani Dinda seharian penuh. Hal itu ia lakukan dengan harapan agar Dinda bisa mengingatnya dengan cepat. Namun, sudah 1 pekan berlalu setelah Dinda sadar, tak ada tanda-tanda Dinda mengingatnya. Hingga hari ini adalah hari dimana Dinda pulang dari rumah sakit, dan bertepatan dengan hari pernikahan mereka yang seharusnya di selenggarakan sesuai rencana. Namun meski Dinda mempertanyakan alasan Aldi yang enggan melanjutkan pernikahan mereka meski kondisi Dinda yang tak bisa mengingat apapun, namun Aldi memilih bungkam. Ia terdiam membisu ketika sudah membahas tentang pernikahan. Dinda dan Aldi kini tengah duduk di ruang tamu, Dinda yang tahu akan perasaan tulus Aldi pun merasa jika memang Aldi bukan orang yang hanya di jodohkan saja.
"Al. Padahal kita bisa menikah sekarang. Kondisi tubuhku sudah stabil." Ucap Dinda memulai pembicaraan.
"Tapi tidak dengan ingatanmu Din. Aku ingin memulihkan dulu ingatanmu, baru kita menikah."
"Untuk masalah itu, tanyakan saja pada hatimu." Sontak Dinda terdiam mendengar jawaban Aldi yang secara tak langsung memberinya sebuah tugas untuk mencari jawaban sendiri.
"Lalu, apa kau masih akan menerimaku? Aku ragu, baru seminggu saja kau terlihat murung." Aldi mencengkram kepalan tangannya sendiri menahan agar emosinya tidak meluap. Bagaimana tidak murung, tinggal selangkah lagi keduanya menikah, tapi malah di hadapkan dengan tragedi macam begini. Bisa saja Aldi melanjutkan pernikahannya, tapi apa mungkin ia akan menerima Dinda sepenuhnya sedangkan saat ini gadis didepannya terasa bukan Dinda lagi. Aldi memeluk Dinda begitu erat dengan rasa sesal yang terus menghantui pikirannya.
"Maaf. Maafkan aku Dinda. Andai saja aku menemukanmu sedikit lebih cepat, kejadian ini tak akan terjadi." Dinda termangu, ia hanya bisa membalas pelukan Aldi dengan perasaan sendu.
"Tak apa Al. Sudah jalannya. Sekarang, bantu aku untuk mengingat semuanya." Tutur Dinda menghentikan perasaan frustasi Aldi. Ia merasa yang berada di pelukannya ini adalah Dinda yang dulu.
"Terima kasih. Sudah bertahan dan hidup. Aku tak tahu hidupku akan bagaimana jika kau juga pergi dari kehidupanku."
"Ini karena doa mu juga Al."
Dari ruangan lain, terlihat Hadi dan Salma menatap sendu pada Dinda dan Aldi. Mereka sependapat bahwa yang lebih bersedih pada kejadian ini hanyalah Aldi. Dan Salma tak bisa membayangkan jika nanti Dinda pun tak mengenali Reifan.
__ADS_1
"Mas. Sore ini mbak Dewi jadi ke sini kan?" Tanya Salma memastikan kabar bahwa Dewi dan Reifan akan ke rumahnya.
"Aku dengar dari Aldi iya. Mereka akan sampai sore ini. Dan aku harap, Dinda akan sedikit ingat jika melihat Reifan."
"Iya mas. Aku juga berharap begitu."
. Sesuai yang di harapkan, Dewi dan Reifan sampai di landasan. Aldi dan Dinda menjemput mereka meski Dinda merasa penasaran ia akan bertemu dengan siapa. Saat Dewi sudah berada di hadapan Dinda, Dewi langsung memeluk Dinda dengan erat.
"Syukurlah kau selamat nak. Mama mendengar kabarmu dari Aldi. Dan maaf karena baru sekarang mama menemuimu." Ucap Dewi yang tak di tanggapi hangat oleh Dinda.
"Ini mama ku Din. Calon mertuamu." Aldi memberitahunya setelah ia lihat kebingungan di wajah Dinda. Apa lagi, ia sangat heran melihat anak kecil yang memeluk kakinya saat ini.
"Bunda. Bunda sehat?" Tanya Reifan dengan mendongak.
"Dia putraku Reifan."
"Putra?" Terlihat Dinda begitu terkejut mendengar ucapan Aldi yang ini. "Maksudnya, kau sudah punya anak? Kau tak bilang Al." Protes Dinda selanjutnya.
"Mama dan Rei duluan saja. Aku ingin bicara dulu dengan Dinda." Ucap Aldi ditanggapi anggukan oleh ibunya. Dewi segera berlalu dari hadapan Aldi meski Reifan sempai tak ingin lepas dari Dinda.
"Al... dia anak kita? Tapi... aku masih..."
"Iya. Kau memang masih lajang. Dan aku seorang duda." Tegas Aldi menyela Dinda yang semakin terlihat keheranan.
"Tapi... Al. aku masih tak paham. Ayah menjodohkanku denganmu yang sudah memiliki anak? Kau yakin aku mencintamu?" Mata Aldi menyipit melihat senyum merendahkan yang tersungging di bibir Aldi.
"Sebelum di jodohkan, kita sempat dekat. Bahkan kau salah faham pada temanku yang mengira aku adalah suaminya. Menurutmu marah sampai kabur itu artinya apan jika bukan mencintai?"
-bersambung
__ADS_1