
. Avril menutup pintu dengan keras lalu meletakkan map di meja Ray, kemudian ia bergegas pergi dan tak menghiraukan panggilan Ray yang mengejarnya.
"Ada apa Ra-- Avril." Alvi terbelalak setelah ia membuka pintu dan mendapati Ray sedang mengejar istrinya sampai depan lift.
"Ray.... kenapa kau tak bilang Avril kesini?" Tanya Alvi sembari menekan tombol lift beberapa kali agar ada yang terbuka. Namun, sayangnya setiap lift yang ia coba tak ada satupun yang terbuka.
"Maaf tuan. Saya juga tidak tahu. Dan nona pun tidak memberitahu saya sama sekali." Jawab Ray dengan penuh sesal.
"Ah sial. Dia pasti melihatnya."
"Melihat apa tuan?" Tanya Ray mendadak memasang wajah polos.
"Lupakan. Kau kembali saja bekerja gantikan aku meeting siang ini." Ucap Alvi sembari berlalu tepat ketika salah satu lift terbuka.
. "Apa aku boleh pulang dokter?" Tanya Aldi dengan terus menyindir Noah.
"Jika mau mati besok silahkan saja tuan Aldi...." jawab Noah sembari melempar senyum menyebalkannya.
"Kau jelek sekali dokter. Kenapa Demira bisa menyukaimu?"
"Pelet ku terlalu kuat. Kau puas?"
"Sangat puas. Jadi, seharusnya aku bisa pulang kan?"
"Sebenarnya bisa, tapi mengingat kau yang keras kepala, yang harusnya istirahat pasti kau malah bekerja. Tanganmu belum pulih sepenuhnya, perutmu juga masih harus di periksa rutin."
"Aku pengap berlama-lama disini." Keluh Aldi mendadak manja.
"Keluar saja jalan-jalan. Udara di luar masih segar bukan?" Aldi hanya mendelik mendapati sikap Noah yang tak menggubrisnya sama sekali.
__ADS_1
. Avril memberhentikan mobil tepat di depan rumah ayahnya. Nadia yang melihat Avril pun langsung menghampiri, namun Avril bergegas menolak sapaan Nadia.
"Apa ayah ke kantor?." Tanya Avril dengan panik.
"Avril... ada apa? Apa kau menangis?" Bukannya menjawab, Avril malah menggeleng sambil kembali menangis dan terus berlari ke ruang kerja ayahnya. Terdengar suara pintu terkunci dari dalam. Ruangannya sangat sepi, ayahnya yang sedang bekerja membuat ruangan itu terasa sunyi. Dan benar saja, tak lama, terdengar suara mobil yang berhenti tepat di belakang mobil Avril.
"Nad... Avril dimana?" Segera Alvi bertanya pada Nadia yang masih diam di tempatnya.
"Kalian kenapa lagi? Kenapa adikku menangis? Kau apakan dia?." Balas Nadia mendadak dingin dengan melemparkan beberapa pertanyaan.
"Nad... jangan dengarkan dia. Dia salah faham. Dia belum mendengar penjelasanku."
"Meskipun aku tak tahu masalah kalian, tapi aku tak rela jika Avril menangis apa lagi itu karena dirimu."
"Sudah kubilang dia salah faham. Kumohon Nad dimana Avril? Aku ingin bicara." Seketika, Nadia melirik ke arah ruang kerja Andre yang tertutup rapat. Dan segera Alvi menghampiri pintu dan mencoba membukanya. Namun, beberapa kali ia mencoba, pintu tetap terkunci. Dan di dalam, Avril mencoba menenangkan nafasnya, sebisa mungkin ia menetralkan emosinya agar tak terlalu stres.
"Avril... buka pintunya sayang. Dengarkan dulu penjelasanku." Namun, tak ada jawaban apapun dari Avril. Hening, dan sunyi yang terasa. Lalu Alvi mendobrak pintu beberapa kali dan hasilnya sama. Pintu masih tertutup sempurna. Dan 'ceklak' pintu perlahan terbuka memperlihatkan wajah Avril yang begitu datar tanpa ekspresi apapun. Di sudut mata dan seluruh pipinya masih terlihat bekas air mata.
"Avril...." lirih Alvi hendak memeluk Avril, namun Avril langsung berlalu melewatinya begitu saja.
"Dia itu temanku dan Amel. Di kesini juga karena mau berziarah ke makam Amel dan menjenguk Aldi." Ucapnya terus menjelaskan sambil mengikuti langkah Avril menaiki tangga. Dan tetap saja Avril seakan tak mendengarkan ocehan Alvi. Ia tak sedikitpun tertarik dengan pembahasan tentang ini. Dan ketika Avril memasuki kamarnya, ia langsung menutupnya rapat. Alvi hanya menghela nafas dalam dan menyandarkan kepalanya pada pintu.
"Sudah berapa kali aku katakan aku tak akan mengkhianatimu." Ucapnya sembari mencoba membuka pintu, dan kali ini pintu langsung terbuka. Segera Alvi masuk dan menghampiri Avril yang tengah membersihkan wajahnya di depan cermin. Tanpa ragu, Alvi memeluknya dari belakang dan tangannya tepat pada perut Avril. Namun Avril sendiri langsung melepaskan pelukan Alvi secepatnya. Rasanya ia tak rela jika Alvi tahu tentang kehamilannya. Semula ingin memberi kejutan, namun malah dirinya yang terkejut.
"Sayang. Kau salah faham. Jika kau tak percaya padaku kau bisa tanya pada Nadia. Nadia juga tahu tentang Emira. Bahkan Emira juga tahu tentangmu." Dan, Avril masih tetap diam, ia malah mencoba menghindari Alvi. Dan Alvi pun tak menyerah, ia terus mengikuti kemana pun Avril pergi. Hingga ketika Avril hendak membuka pintu balkon, Alvi segera menahannya. Ia takut jika Avril bertindak bodoh.
"Apa yang kau pikirkan Avril." Seketika, Avril pun menoleh sinis pada suaminya.
"Lalu? Apa yang kau pikirkan? Kau pikir aku sebodoh itu?"
__ADS_1
"Sayang..."
"Jangan pernah memanggilku begitu jika nyatanya masih ada wanita lain di hatimu."
"Aishh sudah ku katakan dia hanya teman."
"Apa teman selalu bersikap manis? Bersandar di bahumu, lalu kau pun mengelusnya dengan lembut seperti kau melakukannya padaku."
"Sayang. Aku hanya ingin menenangkan kesedihannya karena kepergian Amel."
"Kak Amel sudah lama meninggal. Dan dia baru bersedih sekarang? Itu tak masuk akan Al. Kau pikir aku gadis bodoh?" Teriak Avril yang semakin sinis menatap Alvi. "Atau apa karena aku yang sempat membuatmu kecewa yang belum siap memberimu anak? Dan kau malah begini di belakangku? Kau bilang sudah memaafkanku dan tak akan mempermasalahkannya lagi. Tapi... tapi... hiks... kau mengkhianatiku Al. Hatiku sangat sakit sekarang." Lanjut Avril tanpa memberi celah untuk Alvi membela diri.
"Avril... aku tidak menyalahkanmu karena itu. Aku menerima keputusanmu. Tak apa jika kau belum siap punya anak. Dan lagi pula aku tidak seperti yang kau tuduhkan. Emira kesini hanya ingin--"
"Yang mana yang harus aku percaya Al? Alasan yang kau ucapkan atau kenyataan yang aku lihat?" Seketika Alvi langsung terdiam, ia pun pernah merasakan hal serupa saat Avril dan Aldi terjatuh bersama di rumahnya dulu. Ia pun menuduh Avril selingkuh padahal hanya salah faham saja.
"Baiklah jika kau tak percaya. Yang jelas aku tak bermain api di belakangmu." Mendengar kalimat itu, Avril hanya memalingkan wajahnya dengan semakin sendu.
"Bahkan kau tak berusaha lebih keras untuk meyakinkan aku. Jadi benar dengan apa yang aku lihat? Dan kenapa anak ini hadir saat aku dan Alvi begini?" Batin Avril yang berbalik dan membukakan pintu untuk Alvi.
"Aku ingin istirahat. Jadi silahkan pergi."
"Kau mengusirku?" Lagi, Avril tak mau menjawab. Bahkan menoleh pun ia enggan. Alvi pun kembali menghela nafas dalam dan langsung menuruti keinginan Avril.
"Jika kau butuh waktu, akan aku beri, setelah itu aku ingin semua masalahnya selesai." Batin Alvi ketika terhenti tepat di depan Avril dan menatapnya sebentar.
"Beri tahu aku jika kau sudah tenang. Kita bicara lagi." Ucap Alvi dan langsung berlalu dengan ditutupnya pintu kamar oleh Avril. Dengan cepat Avril mengunci pintu agar Alvi tak bisa masuk kembali. Dadanya begitu sesak karena menahan tangis yang seharusnya ia keluarkan. Namun Avril memilih untuk tenang karena mengingat perkembangan janinnya yang harus kuat meskipun ibunya tengah menahan emosi yang ingin meledak.
-bersambung
__ADS_1