RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
42


__ADS_3

. "Dinda... maaf ya. Aku belum bisa menemui orang tuamu. Pekerjaanku belum selesai." Ucap Aldi sembari melahap makanan yang dibawa Dinda.


"Pelan-pelan. Nanti tersedak." Tegur Dinda sambil menyeka noda makanan di sudut bibir Aldi. Sontak Aldi terdiam, ia menatap lekat wajah Dinda. Samar terlihat bayangan Syifa dan terasa lebih nyata. Mata Aldi mulai berkaca-kaca, ia perlahan semakin dekat pada Dinda hingga Dinda di buat gugup olehnya.


"A-Al." Ucapnya dengan suara sedikit gemetar. Aldi terhenyak dan matanya membulat ketika menyadari bahwa yang di hadapannya adalah Dinda.


"Ma-maaf." Ucapnya berpaling dan melanjutkan makan dengan menghadap ke arah lain.


"Ada apa denganku? Sudah jelas Syifa pergi 3 tahun yang lalu." Batin Aldi menyeka embun di kelopak matanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Dinda dengan meraih pundak Aldi.


"Ah... iya." Jawab Aldi dengan melempar senyum untuk meyakinkan Dinda.


"Emmm apa orang tuamu akan setuju jika aku yang sudah pernah menikah dan punya seorang anak?"


"Sebenarnya.... aku mau di jodohkan oleh ayah. Dan dia juga duda. Aku tak tahu bagaimana orangnya. Dan aku membuat perjanjian dengan ayah, jika aku bisa mendapatkan calon suami sendiri, maka perjodohannya tak akan terjadi." Mendengar jawaban Dinda, Aldi langsung menghentikan makannya. Ia kemudian menoleh pada Dinda dengan tatapan yang serius. Bahkan saat membicarakan hubungan mereka pun, tatapan Aldi tak seserius ini.


"Lalu, jika seandainya kita tak jadi menikah?"


"Aku harus bersedia menerima perjodohannya." Jawab Dinda mendadak lesu.


"Jadi kau menerimaku hanya terpaksa agar kau tak di jodohkan dengan pria lain?" Dinda mematung, ia tak menyangka Aldi akan berpikir hal demikian.


"Ma-maksudku bukan begitu Al. Ak-aku hanya..."


"Fffttt hahaha... kenapa kau jadi gugup? Lagi pula aku sudah mengerti maksudmu. Jadi, kau sudah benar-benar bersedia menjadi istri keduaku?" Goda Aldi mendekatkan wajahnya kembali pada Dinda. Perlahan wajah Dinda semakin merona karena jarak wajahnya dan Aldi terlalu dekat.


"Wajahmu seperti tomat matang bun." Ucap Aldi membuat Dinda semakin tak karuan. Dinda mendorong keras wajah Aldi untuk menjauh darinya. Telinganya mendadak panas saat mendengar kata 'bun' terlontar dari Aldi. Namun, panggilan itu terasa candu untuknya sekarang. Sangat berbeda dengan panggilan 'sayang' yang di lontarkan Emilio dulu.


"Eh... maaf." Dinda menutup sebagian wajahnya saat menyadari dorongan pada wajah Aldi terlalu kuat.

__ADS_1


"Apa wajahmu baik-baik saja?" Tanya Dinda selanjutnya dengan meraih wajah Aldi.


"Sedikit linu saja." Jawab Aldi mengusap tulang pipinya perlahan. Dinda beralih ikut mengusap tulang pipi Aldi dengan hati-hati. Aldi membiarkan Dinda memainkan jari lembutnya dan mengurangi rasa linu di pipinya. Dinda melirik mata Aldi yang sangat teduh. Bulu mata tebal lurus membuatnya semakin menawan. Pipinya kembali merona saat bola mata milik Aldi bergeser dan melirik ke arahnya. Namun, Aldi kembali memalingkan pandangannya untuk mengurangi rasa canggung. Tanpa disangka, 'cup' kecupan ringan terasa di pipi Aldi yang terkejut dibuatnya. Ia menoleh pada Dinda yang kini memalingkan wajahnya dengan pipi yang sudah merona. Manis, mungkin kata itu yang terlintas di pikiran Aldi saat ini. Aldi yang sudah lama tak merasakan kehangatan dari seorang wanita pun merasakan sesuatu yang tak biasa. Namun sebisa mungkin ia tak ingin membuat kesalahan dalam hidupnya. Aldi kemudian memalingkan wajahnya dan berusaha memikirkan hal lain agar tak membuatnya menjadi gelap mata.


"Aku ada meeting. Tak apa kan aku meninggalkanmu sendiri disini?" Aldi beranjak dan masih enggan menoleh pada Dinda.


"Em... i-iya. A-aku tunggu saja disini." Jawabnya sangat gugup. Aldi tak kalah gugup, ia melirik Dinda sejenak kemudian mulai berjalan menjauh.


"A-Al..." panggil Dinda masih canggung dan berhasil menghentikan langkah Aldi. Ia memilih untuk tidak menoleh ke belakang agar tak kembali gugup.


"Ada ap--" ucapannya terhenti saat Dinda tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Tangannya meraih kerah kemeja Aldi bagian belakang, lalu beralih ke dasi Aldi yang sedikit miring. Wajahnya begitu serius membenahkan pakaian Aldi seperti seorang istri pada suaminya.


"Mau meeting kan? Pakaianmu harusnya rapi. Jangan berantakan." Ucap Dinda di lanjutkan dengan mengusap kedua sisi jas Aldi dan sedikit melempar senyum.


"Nah... kan enak dilihat." Ucapnya lagi dengan senyum semakin mengembang. Aldi termangu akan paras Dinda yang begitu cantik. Tangannya perlahan melingkar di pinggang Dinda yang kembali gugup.


"A-apa yang--" Dinda terdiam ketika Aldi yang tiba-tiba meraih bibirnya. Semula Dinda terkejut, namun ia malah memejamkan matanya dan membiarkan Aldi bermain dengannya.


Setelahnya, Aldi mengecup kening Dinda dan bergegas pergi meskipun belum waktu meetingnya dimulai. Karena masih jam makan siang, Bagas terheran melihat Aldi berjalan sedikit cepat menuju lift. Bagas segera mengecek di dalam ruangan Aldi takutnya Dinda dan Aldi terlibat masalah. Namun ia heran karena hanya mendapati Dinda yang tengah membereskan alat makan Aldi seorang diri.


"A-ah i-iya. Katanya ada meeting." Jawab Dinda masih gugup.


"Meeting?" Bagas kembali menyernyit dan ia langsung melirik jam ditangannya, lalu menoleh kembali pada Dinda yang terlihat kebingungan.


"Oh... ahhh yaa... sepertinya sekarang waktunya. Huhfftt aku sampai lupa. Maaf aku terlalu sibuk, jadi lupa memberitahu Aldi ada rapat di jam ini." Ucap Bagas tertawa kikuk lalu kembali menutup pintu.


"Ada yang tidak beres si Aldi." Cetus Bagas dengan bergegas menuju ruang meeting.


"Woy Al." Teriaknya ketika membuka pintu dengan keras. Aldi terlonjak dan langsung beranjak dari duduknya.


"Bagas sialan. Kau mengejutkanku."

__ADS_1


"Kau yang gila. Jadwal meeting masih setengah jam lagi, tapi kau sudah meninggalkan Dinda sendirian."


"Kau tak mengerti Gas."


"Dinda anak orang. Meskipun nantinya akan jadi istrimu, tapi sekarang-"


"Sut diam Gas. Aku ingin menenangkan diriku dulu."


"Menenangkan? Memangnya apa yang kau--"


"Ku bilang diam Gas..." tegas Aldi kini mendelik kesal.


"Iya iya. Dasar pemarah." Ejek Bagas kemudian berlalu meninggalkan Aldi sendiri di dalam ruangan.


"Apa yang aku lakukan? Sial. Aku tak bisa mengendalikan diriku. Setiap menatap wajah Dinda, kenapa selalu ada bayangan Syifa? Dan lagi, aku merasa sedang bersama Syifa." Batin Aldi menghela nafas dalam seraya menutup matanya.


"Syifa... jangan terus menggangguku. Biarkan aku hidup dengan tenang setelah kepergianmu."


---


. "Bagaimana Noah? Avril baik-baik saja kan? Calon anakku juga?" Tanya Alvi ketika Noah tepat keluar dari kamar pasien.


"Kau peduli juga pada Avril ternyata." Ucap Noah terdengar begitu menyindir.


"Apa maksudmu?" Alvi mengelak karena tak mengerti dengan maksud ucapan Noah.


"Kau dulu pernah bilang, hanya lelaki bodoh yang tak jatuh cinta pada Avril. Tapi sekarang, kau salah satu dari lelaki bodoh itu, bahkan lebih bodoh karena berani mengkhianati wanita seperti Avril. Kurang apa dia? Sampai kau berani selingkuh darinya." Kini, bukan hanya suara Noah yang mulai menahan kesal, tangannya pun meraih dan mencengkram kemeja Alvi dengan kuat.


"Jangan menuduhku sialan. Kau tak tahu yang sebenarnya. Avril hanya salah faham. Aku tak pernah berselingkuh dengan siapapun."


"Lantas, apa yang kau lakukan dengan Emira?"

__ADS_1


"Emira bukan siapa-siapa untukku. Avril dan anakku lebih berarti sekarang." Alvi tak kalah geram sembari menegaskan ucapannya.


-bersambung.


__ADS_2