RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
88


__ADS_3

. Aulian yang merasa di rendahkan oleh Dinda pun hanya tersenyum menyikapinya. Ia merasa bagaimana mungkin ia akan terpojok oleh seorang gadis.


"Kalau begitu. Saya permisi tuan. Urusan kita sudah selesai bukan?" Dinda beranjak seraya memasukkan ponsel ke dalam tasnya setelah ia mengirim sebuah pesan singkat kepada seseorang tanpa ada yang menyadari.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi?" Bersamaan dengan pertanyaan bernada ancaman dari Aulian, Ken berjalan menghampiri Dinda yang mendadak khawatir pada situasi saat ini. Yang membuatnya semakin panik ialah perginya satu persatu tamu, hingga tersisa hanyalah 3 meja. Itupun mereka berpakaian yang sama dengan ajudan Aulian.


"Kau memang licik Aulian. Pantas saja ayah sangat membencimu."


"Ohhhh jadi benar? Yang membuatmu membatalkan kerja sama denganku adalah ayahmu? Yahhh si tua itu selalu saja menghancurkan semua usahaku."


"Jaga mulutmu Lian." Tegas Dinda seraya menyiramkan air kepada Aulian. Karena sama-sama terkejut, Dinda mundur beberapa langkah menghindari kemungkinan Aulian akan membalas. Namun, tiba-tiba Ken membekapnya dan seketika itu ia teringat pada insiden yang di lakukan Emilio kepadanya. Meski mencoba untuk terus sadar, namun pandangannya semakin kabur saat ia menyadari ada sebuah benda yang menusuk di lengan atasnya. Setelah Dinda terlelap, Ken melemparkan suntikan berisi obet bius itu ke sembarang arah. Ponsel Dinda berdering sehingga Ken menghancurkannya agar tak seorangpun bisa menghubungi Dinda.


. Dinda mengerjapkan matanya dan mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Dinda beranjak lalu ia melirik ke arah pria yang berada di sudut ruangan. Dinda seketika meraih kepalanya, ia merasa kejadian ini tak asing dan terasa pernah mengalaminya. Ketika Aulian beranjak dan semakin dekat menghampirinya, Dinda tiba-tiba menjauh dan ia berlari dari ranjang menuju pintu keluar. Dinda menekan beberapa angka untuk membuka kunci, namun sudah beberapa kali ia mencoba, ia tak kunjung bisa membukanya.


"Hanya aku yang tahu kuncinya." Ucap Aulian dari arah belakang Dinda dengan bersandar pada tembok dan memangku tangan. Dinda menoleh ke belakang, pemandangan di hadapannya ini bukanlah Aulian dan kamar yang tengah ia tempati. Tapi memori saat ia di jebak oleh Emilio beberapa bulan lalu. Dinda meraih kepalanya yang terasa sakit dengan amat sangat. Rasa sakit itu membuatnya ambruk dan terduduk di lantai tak kuasa menahan tubuhnya untuk berdiri.


"Lio..." lirihnya menyipitkan mata Aulian yang mendengarnya.


"Ahhh kau mengingat adikku?" Aulian berjalan menghampiri Dinda yang semakin terlihat memprihatinkan. Ia sudah tak bisa menahan sakit di kepalanya saat semua ingatan memaksa berputar terasa tepat di depan matanya. Apa lagi saat adegan di parkiran, Dinda terasa ikut terbawa panik saat mobil melaju keras ke arahnya. Kemudian Dinda ambruk saat ingatan mobil tersebut menghantamnya dan ia pun terlelap seketika.

__ADS_1


"Aih.. tak harus di bius pun dia pingsan sendiri." Ucap Aulian yang begitu santai, lalu membawa Dinda ke atas tempat tidur.


"Kau memang cantik Dinda." Aulian perlahan membelai wajah Dinda dengan penuh kelembutan.


Aulian memfokuskan telinganya mendengar suara gaduh yang samar dari luar. Ia merasa curiga dengan situasi di luar sehingga ia mengecek sendiri dan memastikan tak ada yang perlu di khawatirkan. Tepat saat ia membuka pintu, sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Aulian sehingga Aulian terhuyung. Tak cukup hanya memukul, Aldi menghajar Aulian habis-habisan tanpa ampun seakan ia sudah tak sadar pada apa yang terjadi.


"Bunuh! Bunuh! Ku bunuh kau!" Teriak Aldi semakin menggila. Tetesan darah sudah terlihat dimana-mana, dan Aldi tak sedikitpun memberi celah pada Aulian untuk sekedar berucap.


"Saat Aldi hampir mendaratkan pukulan berikutnya, kepalan tangannya di raih seseorang, lalu tubuhnya di peluk hangat sehingga ia mematung seketika.


"Jangan Al. Sudah hentikan. Jangan di lanjutkan!" Pinta Dinda semakin erat memeluk Aldi. Ia yang baru sadar dari pingsannya, merasa begitu terkejut mendapati pemandangan mengerikan yang terjadi di depannya.


"Al... sadarlah. Ini bukan kau." Kembali Dinda mencoba untuk menenangkan Aldi, namun tetap saja tak ada pengaruh apapun.


"Dia melukaimu, dan aku harus membunuhnya!" Teriak Aldi sekuat tenaga menyingkirkan Dinda dari hadapannya. Dinda yang terpental pun membentur tembok seketika. Dan ia benar-benar tak menyangka bahwa Aldi akan mengamuk seperti ini saat tahu dirinya dalam bahaya. Dinda mencoba bangkit dan ia berusaha menahan Aldi agar tak bertindak lebih jauh. Dinda sudah tak kuat menahan Aldi yang terus-terusan berniat melayangkan pukulan pada Aulian, ia merasa lengannya sudah terasa sakit semua. Hal itu menjadi kesempatan untuk Aldi kembali menyerang Aulian yang sudah tak berdaya.


"Aldi!" Tegas seseorang dari arah pintu berhasil menghentikan pukulan Aldi yang nyaris mengenai wajah Aulian. Hadi dan Bagas segera menghampiri Aldi untuk menenangkan amarah Aldi yang terus meluap.


"Apa dia sudah gila? Bagaimana cara menghajarnya?" Batin Bagas menoleh pada Aulian dan Aldi secara bergantian. Aldi beralih memeluk Dinda dengan begitu erat, dan Dinda sendiri terdiam sesaat lalu membalas pelukan Aldi.

__ADS_1


"Aku tak apa Al. Aku baik-baik saja." Lirih Dinda meyakinkan agar Aldi bisa lebih tenang.


"Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal kau akan menemui bajingan ini?"


"Maaf....."


"Kalau terjadi apa-apa yang lebih buruk padamu bagaimana?"


"Maaf Al..."


"Nasib baik aku langsung menyusulmu setelah kau mengirimku pesan."


Mendengar kekesalan Aldi, Dinda memilih untuk diam dan tak ingin membuat Aldi semakin kesal karenanya. Dinda melirik pada Bagas yang babak belur, ia yakin bahwa Bagas ikut terlibat dalam masalah ini. Di balik ketegangan situasi saat ini, Dinda menyembunyikan perasaan senangnya karena memorinya yang hilang akhirnya kembali. Dinda yang masih di peluk Aldi mendadak keseimbangannya hilang dan ia ikut ambruk tertimpa tubuh Aldi yang tiba-tiba terlelap begitu saja.


"Al... kau kenapa? Al..." Dinda mencoba memanggil dan mengguncangkan tubuh Aldi, ia berharap pria ini akan bangun dari atas tubuhnya.


"Bagas. Tolong!" Teriak Dinda melambaikan tangannya dan memukul punggung Aldi karena nafasnya sudah merasa sesak. Bagas segera meraih Aldi lalu memindahkannya ke samping tempat tidur. Sedangkan Hadi masih berada di dekat Aulian yang mulai sadar. Terlihat Aulian terkejut mendapati Hadi yang berada di sampingnya, dan ia segera meraih wajahnya yang terasa linu di bagian-bagian yang terkena pukulan Aldi.


"Apa kau tidak jera setelah kau di penjara?" Tegas Hadi berhasil memalingkan wajah Aulian darinya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2