
. Bagas datang dengan berlari di saat semua masalah sudah selesai, dan ia di hadapkan dengan tatapan tajam dari Aldi. Sedangkan Maira sendiri tengah berbincang dengan seseorang yang ia hubungi dari saluran telepon.
"Kenapa kau ke sini?" Aldi bertanya dengan lirikan yang masih sinis.
"Aku mau memastikan Maira baik-baik saja." Jawab Bagas tak kalah sinis dan mengabaikan Aldi dengan memilih menghampiri Maira yang terheran dengan sikapnya. Sesegera mungkin Maira memutuskan sambungan teleponnya dan beralih menghadapi Bagas di sampingnya.
"Kenapa kau membuka pintu padahal kau tahu aku sudah pergi." Jauh dari kata khawatir, Bagas lebih terdengar seperti seseorang yang marah karena membenci Maira. Dari nada bicaranya sampai tatapan matanya. Maira yang semula menatap Bagas, kini menunduk dan sedikit memalingkan wajahnya menghindari tatapan Bagas.
"Tadinya aku kira itu kau." Lirih Maira namun masih terdengar oleh Bagas.
"Lain kali hati-hati. Aku tak bisa mengawasimu sepanjang waktu." Ucap Bagas mengacak rambut Maira dengan gemas sehingga Maira sendiri tersipu dengan perhatian Bagas.
"Gas. Aku duluan. Aku titip Dinda ya! Tolong nanti antarkan dia ke kamarku." Ucap Aldi seraya berlalu dari kamar Maira.
"Mau kemana Al?" Tanya Bagas yang penasaran kemana perginya Aldi yang tak menjawab pertanyaannya. Meski demikian, ia mau-mau saja di titipkan istri orang, karena jika itu istrinya Aldi tak akan jadi masalah.
"Din... sudah larut. Sekarang saja ke kamarnya. Maira nanti akan aku awasi lagi." Tutur Bagas berubah tegas dan dingin, terasa ia berubah dalam sekejap mata dari peran teman menjadi bodyguard. Posisi sigap dan siaganya, serta tatapan matanya menunjukkan Bagas memanglah berubah peran. Dinda yang sudah tahu akan sikap Bagas, ia tak terkejut sama sekali. Bahkan ia mengangguk dan mengikuti Bagas dari belakang meninggalkan kamar Maira.
Bagas sudah berlalu ke depan lift, sedangkan Dinda masih berpamitan kepada Maira.
"Aku pergi ya! Besok aku temui kau lagi!" Ucap Dinda setelah memeluk Maira sebelum ia benar-benar pergi. Dinda bergegas menyusul Bagas, ia terlalu takut jika bodyguardnya ini akan marah dan merajuk lagi padanya. Bagas membiarkan Dinda masuk lebih dulu dan ia mengawalnya di depan Dinda. Karena kamar Maira berada di lantai rendah, dan Dinda di lantai tertinggi. Baru beberapa lantai mereka lewati, lift terbuka dan menampakkan Sean berdiri di luar. Sean termangu sesaat melihat Dinda berada di dalam lift dan seseorang berdiri tegap di depannya dengan menatap ke arahnya. Sean masuk dan berdiri tepat di samping Dinda setelah ia menekan nomor lantai yang ia tuju. Bagas menatapnya dari pantulan bayangan di lift dan Sean hanya memalingkan wajahnya merasa heran ada orang asing yang mengintimidasinya.
__ADS_1
"Kau menginap di sini juga?" Tanya Sean memecah keheningan. Dinda hanya mengangguk seraya tersenyum tipis sesaat, lalu ia kembali menatap ke depan agar Bagas tidak berpikir yang negatif.
"Apa akhir pekan ini kau ada waktu?" Tanya Sean lagi.
"Maaf tuan. Nona saya sedang sibuk untuk satu bulan ke depan." Bagas menjawab sebelum Dinda, ia terlihat risih mendengar ada yang merayu istri temannya. Di tengah suasana tegang yang di ciptakan Bagas, lift kembali terhenti dan pintu terbuka memperlihatkan sosok yang membuat Bagas menghela nafas lega. Aldi masuk dengan memperhatikan satu persatu wajah yang ada di dalam lift.
"Dari mana?" Tanya Bagas saat Aldi sudah di sampingnya. Aldi sengaja tidak menyelinap ke belakang, ia seakan membiarkan istrinya berada di belakangnya dengan Sean.
"Dari ruang CCTV." Jawab Aldi kemudian memainkan ponselnya sampai lift terhenti dan saat itu Sean bergegas keluar lift.
"Permisi." Ucapnya seraya berjalan melewati Aldi. "Aldian. Adikku menitipkan salam untukmu." Ucap Sean sebelum pintu lift kembali tertutup. Aldi melirik ke arah istrinya yang ternyata sudah meliriknya dengan tajam.
"Kau salah faham lagi?" Bukannya menjawab, Dinda malah memalingkan wajahnya dengan kasar tanda ia merajuk pada suaminya. Bagas mengulum senyum, ia menahan tawa dengan tingkah keduanya.
"Apa Al? Kau selalu saja menindas ku." Protes Bagas ikut merajuk seperti Dinda.
Saat lift terhenti, Dinda cepat-cepat keluar dan memasuki kamar meninggalkan Aldi. Sementara Bagas memutuskan untuk pulang saja. Ia rasa tugasnya selesai setelah mengantarkan Dinda dan menyuruh bawahannya untuk mengawasi Maira.
"Sayang! Hei, kau salah faham lagi?" Sesegera mungkin Aldi meraih tangan Dinda agar Dinda mau mendengarkan penjelasannya.
"Menurutmu? Dapat salam dari Shana. Yang cantik, manis, presdir sukses pula. Kau senang kan?"
__ADS_1
"Arggghhh kau ini kenapa? Kalau aku memang berniat mencari yang lain, mungkin saat kau kecelakaan dan saat kau amnesia. Harusnya itu jadi kesempatan bagus untukku meninggalkanmu. Tapi nyatanya, aku susah payah berusaha memulihkan ingatanmu agar bisa ingat padaku. Dinda! Dengan aku menikahimu, itu sudah menunjukkan bahwa aku sangat, sangat, sangat mencintaimu. Aku tak ada niat mencari yang lain. Bahkan aku tak ada selera melihat wajah-wajah perempuan lain yang aku temui. Di pikiranku, yang terlintas hanya wajahmu saja setiap melihat wanita lain. Ayolah Dinda. Harus dengan cara apa lagi agar kau percaya padaku?" Mendengar Aldi yang semakin mengeluh, Dinda merasa tak tega dan ia pun memeluk suaminya dengan harapan agar ia bisa tenang.
"Ya sudah. Maafkan aku. Aku hanya takut aku berpaling. Apa lagi, Shana kan lebih cantik dan menarik dariku."
"Ya siapa juga yang mau berpaling?" Aldi menunduk tak membalas pelukan Dinda, dan ia seperti sengaja bersikap manja agar Dinda tidak lagi merajuk.
"Kan aku takut."
"Ya jangan takut."
"Janji ya. Kalau aku berubah nanti, kau jangan tergoda oleh wanita lain."
"Berubah apanya? Memangnya kau ultraman harus berubah?"
"Bukan begitu Al. Kan katanya kalau nanti sudah hamil, terus punya anak, kebanyakan orang selalu berubah. Dari wajah, atau postur tubuh."
"Hemmm jadi sudah siap punya adiknya Rei?" Aldi berubah bersemangat dengan senyum yang mengembang.
"Aku khawatir Al. Rei sangat senang mendengar Avril akan memberikannya adik, meski bukan adik kandung, tapi aku melihat kebahagiaan yang teramat sangat dari Rei. Rei seperti sangat menantikan seorang adik. Dan aku takut jika dia punya adik dariku, tapi Rei sudah terlanjur menyayangi anaknya Avril."
"Apa yang kau khawatirkan? Rei tak akan begitu. Dia sudah besar dan dia juga pasti sudah mengerti. Jikalau pun memang Rei menyayangi keduanya, Aku tak keberatan. Lagi pula, bukankah lebih baik Rei berlatih menjaga anak Avril sebelum menjaga adiknya sendiri?" Meski masih khawatir, namun Dinda sendiri membenarkan ucapan Aldi tersebut.
__ADS_1
Bersambung