RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
118


__ADS_3

"Bunda... Eifan mau Mommy..." teriakan dan tangisan Reifan membuat Dinda kini merasakan stres yang tak bisa di sembunyikan. Bagaimana tidak, kondisinya yang tengah hamil muda harus menghadapi Reifan yang tak bisa di kendalikan. Meski pengasuhnya sudah membawa Reifan menjauh darinya, namun Dinda masih merasa pening. Entah kenapa pagi ini hatinya terasa sakit mendengar Reifan terus merengek ingin bertemu dengan Avril, padahal ia Ibu tirinya. Saat ia tengah memijit dahinya, ponselnya berdering mengharuskannya bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo." Ucapnya setelah mengetahui nama yang tertera di layar ponselnya.


"Sayang. Avril sudah baik-baik saja dan kondisinya sudah stabil. Kebetulan aku dan Mama akan langsung pulang sekarang. Kau mau sesuatu? Barang kali ada sesuatu yang kau inginkan."


"Aku hanya ingin kau cepat pulang Al. Rei menangis terus ingin bertemu Avril. Aku tak tahu lagi bagaimana cara membujuknya."


"Baiklah. Kau jangan khawatir. Aku akan segera pulang." Mendengar ucapan penenang dari suaminya, Dinda akhirnya bisa menghela nafas lega meski hanya sesaat. Ia kembali stres saat melihat Reifan yang masih menangis di pangkuan pengasuhnya.


"Aku juga Ibumu Rei. Bukan hanya Avril." Lirihnya perlahan menangis pelan sebab ia merasa tak dihargai keberadaannya.


"Ada apa Al? Istrimu dan Rei baik-baik saja kan?" Tanya Dewi yang mendadak khawatir saat mendengar Aldi yang menjadi terburu-buru.


"Rei menangis Ma. Katanya mau bertemu Avril. Mungkin Dinda tak tahu harus membujuk Rei bagaimana. Secara kan dia harus menjaga pikirannya agar tak stres. Kandungannya masih rentan Ma." Benar kata Aldi, Dewi hanya bisa mengiyakan jawaban Putranya saat ini. Ia tahu bagaimana saat hamil muda. Emosi yang harus ditahan, dan mental yang tak boleh berantakan. Atau kandungannya akan semakin melemah. Emosi seorang ibu sangat berpengaruh pada janin yang baru berusia beberapa minggu.


Setelah sampai di pekarangan rumahnya, Aldi segera turun dan meninggalkan Ibunya di dalam mobil. Bukan karena tak menghormati, namun Dewi sendiri yang meminta Aldi untuk meninggalkannya dan segera menemui Dinda.


Benar saja, Aldi melihat Reifan saat ini tengah menangis keras dan terduduk di lantai dan tantrum yang parah. Sehingga pengasuh dan Dinda pun sudah kewalahan. Aldi semakin merasa sendu saat melihat Dinda menangis tanpa suara saat membujuk Reifan. Dengan sesegera mungkin, Aldi meraih dan memeluk Dinda untuk menenangkan.


"Sudah... jangan di pikirkan lagi. Rei memang sulit di kendalikan." Ucap Aldi mengelus rambut Dinda dan berharap istrinya itu akan cepat merasa tenang.


"Daddy..... huaaaa" teriak Reifan seraya merentangkan tangannya ingin dipeluk oleh Aldi.

__ADS_1


"Berhenti menangisnya!"


"Tapi Eifan mau peluk Daddy... hiks hiks."


"Daddy tak akan peluk kamu kalau kamu menangis terus. Lihat Bunda! Lihat kak Ima. Mereka sudah lelah membujukmu."


"Tapi Eifan mau Mommy..."


"Kau selalu begitu. Disini ada Bunda kenapa harus Mommy? Mommy sudah punya anak dan tak akan peduli lagi padamu." Tanpa memikirkan apapun, kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Aldi. Ia sudah benar-benar geram dan pikirannya sudah ikut kacau melihat Reifan yang menguras kesabarannya. Dan seketika itu juga, Reifan berhenti menangis lalu menghampiri Aldi dan Dinda di sofa.


"Mommy tak sayang Eifan lagi? Sudah ada adik bayi?" Pertanyaan polos Reifan tersebut sangatlah sulit dijawab oleh Aldi. Sejujurnya ia tak ingin menjauhkan Reifan dari Avril, namun jika begini terus, Reifan akan selalu menginginkan Avril sebagai Ibunya daripada Dinda.


"Iya. Mommy sudah punya adik bayi, dan Mommy akan lebih sayang pada adik bayi. Jadi mulai sekarang, jangan panggil Mommy lagi, tapi Aunty Avril dan Uncle Alvi."


Dinda yang mendengarnya, ia hanya bisa terdiam sebab hal ini mungkin akan menimbulkan masalah antara Aldi dan Avril nantinya. Melihat Reifan sudah bisa diatasi, Aldi merangkulnya dan memeluk Istri dan anaknya dalam dekapan. Dewi yang mendengar dan menyaksikan hal tersebut pun menghentikan langkahnya dan ia memilih untuk kembali ke ruang tamu menyembunyikan perasaan sesalnya karena keputusan Aldi yang sudah ia duga akan berakhir begini.


Singkatnya, 2 hari kemudian, Dinda membawa Reifan ke sebuah taman bermain dan Aldi menyusul mereka setelah pekerjaannya selesai siang ini. Reifan terlihat begitu ceria dan beberapa kali mengajak Dinda untuk bermain kejar-kejaran.


"Tidak Rei. Bunda tak bisa berlari. Kamu saja ya!"


"Aahhhh Bunda tidak seru. Padahal Eifan mau bermain dengan Bunda."


"Iya Bunda juga mengerti. Tapi bagaimana dengan adik bayi kalau Bunda berlari. Nantinya adik bayi tak akan bertemu denganmu."

__ADS_1


"Kenapa tak boleh berlari Bunda? Kan adik bayinya masih disini. Tak apa kan?"


"Tak boleh sayang. Jangan. Tunggu Daddy saja, nanti Rei kejar-kejarannya dengan Daddy ya!" Dengan lesu, Reifan mengangguk mengiyakan bujukan Dinda yang terus menolak permintaan Reifan.


Tak lama, terlihat Aldi menghampiri mereka dengan terburu-buru sebab waktu yang ia habiskan terlalu banyak dan sudah lewat dari jam pertemuan.


"Yeee ayo Daddy main kejar-kejaran dengan Eifan." Tanpa ingin melihat Aldi istirahat meski sebentar, Reifan segera meraih tangan Aldi lalu menariknya dan kembali melepaskannya saat ia tiba-tiba berlari kencang. Terlihat pula Aldi melepaskan jasnya dan memberikan pada Dinda saat melewatinya.


"Hayooo mau kemana...." Aldi sengaja melambat-lambatkan langkahnya dan sesekali mengejutkan Reifan dengan berlari sedikit kencang.


"Bunda tolong.... ada monster...." teriaknya sambil terus berlari ke arah Dinda. Namun, 'bugh' Rwifan terjatuh membuat Aldi dan Dinda terdiam dan....


"Daddy......" akhirnya Reifan menangis memegangi lututnya yang memar.


"Ehhh anak Daddy tak boleh menangis. Malu sama adim bayi tuh. Kamu kan sudah mau jadi kakak." Dan seketika itu juga, Reifan berusaha menghentikan tangisnya mendengar bujukan dari Aldi.


"Adik bayinya kapan bertemu Eifan bunda?" Sontak, Dinda tertawa kecil mendengar pertanyaan Reifan yang terasa tiba-tiba.


"Nanti sayang. Sekitar 7 bulan lagi. Masih lama."


"Yahhhhh padahal Eifan sudah mau bertemu dengan adik bayi. Eifan mau adik bayinya laki-laki. Boleh ya Bunda?" Kali ini, Dinda terdiam dan melirik pada Aldi yang sama-sama mengulum senyum.


"Mau laki-laki atau perempuan, yang penting sehat dan sayang pada Reifan kan?" Dengan lembut, Aldi meraih kepala Reifan dan membuatnya mendongak.

__ADS_1


"Kalau perempuan, nanti tidak bisa main bola Daddy." Aldi sudah tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban polos Reifan tentang hal itu.


Bersambung


__ADS_2