
. Karena malam semakin larut, Avril terpaksa menginap di rumah Dinda atas permintaan tuan rumah yang merasa senang dan tidak keberatan. Avril memilih istirahat karena Alvi yang terus memintanya tidur. Sedangkan Alvi sediri memilih untuk begadang bersama Baren dan Aldi di luar. Obrolan mereka semakin malam menjadi semakin random. Hadi tersenyum melihat Dinda yang memilih tidur di kamar tamu dan menemani Reifan. Terlihat Dinda seperti ibu dari Reifan sendiri, karena keduanya begitu terlihat sangat akrab.
"Takdir memang bisa di ubah, tapi ketentuan-Nya tetap mutlak. Mau bagaimana pun jalan mereka akan berpisah, tapi jika sudah di tentukan untuk bersama, pasti ada saja jalan yang menuntun mereka bertemu." Batin Hadi berlalu meninggalkan putrinya yang sepenuh hati menjaga anak yang mungkin akan menjadi bagian keluarganya. Hadi mengakui bahwa Reifan memang pintar di usia yang masih sangat kecil. Dan tak bisa di pungkiri, Reifan sangat patuh pada Avril.
. Esoknya, karena Alvi dan Baren masih banyak pekerjaan, mereka memilih untuk pulang. Aldi mengantarkan mereka sampai tempat dimana pesawat mereka berada.
"Aku akan merindukanmu Dinda." Ucap Avril ketika keduanya saling berpelukan.
"Aku juga Avril." Balas Dinda tak kalah erat memeluk Avril.
"Maaf ya! Rei aku bawa pulang."
"Iya tak apa Avril. Aku mengerti. Dan Rei! Kau jangan nakal ya. Jangan membuat mommy Avil marah." Ucap Dinda beralih pada Reifan yang berada di pangkuan Alvi.
"Iya bunda." Reifan menanggapi dengan tersenyum membuat Dinda semakin gemas.
"Mama terima kasih ya." Ucap Dinda beralih pada Dewi.
"Justru mama yang terima kasih. Kau sudah mau menerima Aldi." Menanggapi hal itu, Dinda hanya tersenyum dan tak berniat menjawab dengan kata-kata.
Dengan berat hati, Dinda melepaskan mereka pergi dari hadapannya. Benar-benar singkat namun sangat berkesan. Memang mempunyai teman itu tidak perlu banyak, tapi berkualitas. Dinda menoleh pada Aldi di sampingnya, lalu pada Maira yang ada di sisi lain.
"Apa dia dan masa lalunya sudah selesai?" Batin Dinda menatap lekat pada Maira.
"Apa?" Tanya Maira yang menyadari sedari tadi Dinda terus memperhatikannya.
"Tidak. Aku hanya heran saja padamu. Kau sangat terbuka denganku, tapi kenapa kau sangat kaku pada Bagas?" Seketika wajah Maira memerah mendengar pertanyaan Dinda tersebut.
__ADS_1
"Ya.. ya... a-aku kan be-belum mengenalnya. Ka-kau kan su-sudah kenal lama denganku." Jawabnya begitu terbata dan berhasil membuat Dinda tertawa kecil.
"Bagas orangnya baik looo!!!" Ejek Dinda membuat wajah Maira semakin memerah.
"A-aku mau pulang. Tugasku sudah selesai kan? Mengganggu saja." Ucapnya terdengar kesal dan berbalik mendahului Dinda.
"Jangan memakiku di jalan, nanti kau tersandung." Lagi-lagi Dinda mengejek sehingga Maira semakin kesal di buatnya.
"Kau ini. Bagaimana kalau Maira marah?" Tegur Aldi yang sedari tadi hanya menyaksikan sikap Dinda.
"Aku sangat suka menjahilinya Al." Jawab Dinda dengan begitu riang.
"Hemmm... jadi, kenapa aku tak boleh pulang?" Tanya Aldi yang baru sadar mengapa ia di minta untuk berada di sana sedangkan keluarga dan teman-temannya sudah bisa pulang.
"Sebelum kau pulang dan sebelum kau bekerja keras lagi, aku mau mengajakmu jalan-jalan dulu disini. Ayo. Sekarang bersiap! Aku ingin ke suatu tempat." Dinda menarik tangan Aldi kembali ke rumah. Suasana hatinya begitu gembira sampai Aldi pun enggan untuk sekedar protes.
. Di mall, Dinda hanya berkeliling saja, tak ada satupun barang yang ia beli meskipun sudah mencobanya. Aldi sempat menegurnya, namun ini malah membuat Dinda semakin merasa senang. Setelah lelah berkeliling di mall, Dinda mengajak Aldi untuk makan siang di sebuah restoran. Keduanya memilih menu dan Aldi meminta Dinda menunggunya karena ia ingin ke toilet. Dengan bergegas dan tak ingin Dinda menunggu lama, Aldi cepat-cepat berlalu dan meninggalkan ponselnya di meja. Dinda merasa penasaran apa yang ada di dalam ponsel itu, dan apa Aldi masih menyimpan foto Syifa atau tidak. Di tengah rasa penasarannya, ia merasakan seseorang duduk di kursi depan.
"Memang kau kira siapa?" Tanya Emilio dengan penasaran.
"Sedang apa kau disini?" Dinda balik bertanya tak kalah penasaran.
"Makan."
"Lalu, kenapa kau duduk disini?"
"Karena kau hanya sendiri, dan aku ingin bicara." Dinda mendelik, jelas terlihat ia sudah tak ingin membahas apapun dengan mantan pacarnya ini. Emilio berusaha meraih tangan Dinda yang berada di atas meja dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Aku ingin kembali." Ucapnya tak sedikitpun membuat hati Dinda luluh.
"Maaf Lio. Sebaiknya kau lupakan aku." Dinda segera menarik tangannya karena takut jika Aldi akan salah faham jika Aldi melihatnya begini.
"Tapi kenapa Dinda? Apa karena Aldi?" Sejenak Lio menghela nafas berat dan tak mendapati jawaban dari Dinda. "Dinda... aku akan melamarmu sebelum Aldi. Kali ini aku sungguh-sungguh. Aku tak ingin kehilanganmu." Mendengar penuturan Emilio, Dinda hanya tersenyum sinis.
"Sebelum bicara dan berjanji, pastikan kau tidak terlambat."
"Baiklah! Nanti malam aku akan ke rumahmu."
"Bukan itu maksudku Lio." Seketika itu, Lio menyernyit penasaran apa maksud dari Dinda berkata demikian.
"Maaf sayang. Aku lama." Tutur seseorang yang datang dan berdiri di samping Emilio, Dinda tersenyum menanggapi Aldi. Emilio membeku mendengar panggilan 'sayang' begitu ringan di lontarkan oleh saingannya ini.
"Tuan Emilio. Kebetulan sekali, anda mau makan siang bersama? Bagaimana kalau saya yang mentraktir anda..." Aldi berjalan ke kursi di samping Dinda dan duduk dengan santai menatap Emilio.
"Maaf tuan Aldian, tapi uang saya masih cukup untuk makan di restoran ini."
"Maksud Aldi bukan untuk merendahkanmu Lio." Ucap Dinda merubah posisi tangannya sehingga kini jelas terlihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Emilio sadar dan ia langsung melirik ke arah tangan Aldi yang kini tengah memainkan ponselnya. Sejujurnya Emilio tak percaya, namun entah mengapa dadanya terasa sesak.
"Kapan kalian menikah?" Tanya Emilio tiba-tiba.
"Emmm sekitar satu bulan atau dua bulan lagi ya sayang?" Dinda menjawab namun juga bertanya pada Aldi di sampingnya.
"Aih kau tak dengar semalam ayah bicara apa?" Aldi balik bertanya dengan jelas sedikit mengejek Dinda.
"Aku lupa Al. Oh... maaf Lio, bukannya aku menolak, tapi aku sudah bertunangan dengan Aldi." Tutur Dinda yang kini beralih pada Emilio.
__ADS_1
"Oh. Baiklah. Selamat ya! Dan maaf sudah salah mengira." Emilio beranjak dengan perasaan sendu, ia benar-benar merasa hancur hari ini.
-bersambung