
. Aldi terdiam sesaat mendengar fakta bahwa perjodohannya dengan Dinda batal. Ingin sekali bertanya apa alasannya, namun ia yang sedari awal tidak memberitahu Hadi bahwa ia dekat dengan Dinda pun memilih untuk bungkam.
"Maaf ya nak Aldi. Bukannya om mempermainkan kamu. Tapi, ada perjanjian antara om dan putri om yang mengharuskan om membatalkan perjodohan kalian. Dan, om harap kamu tidak memutus ikatan silaturahmi kita. Dan om juga berharap, kau jangan menyimpan perasaan dendam terhadap om atau keluarga om." Tutur Hadi yang menyadari kekecewaan Aldi karena beberapa saat Aldi menjadi diam.
"Ahaha om ini kenapa? Tak apa om. Aldi tidak pernah berpikir akan menjauhi om. Kita masih rekan bisnis. Dan Aldi menganggap om seperti ayah Aldi. Terima kasih om." Ucap Aldi terdengar tertawa namun pada kenyataannya ia begitu sesak. Hatinya kini sudah benar-benar mati untuk mencintai seorang wanita. Jika semisal ibunya akan menjodohkannya pun, kini ia akan setuju saja. Setelah dirasa cukup untuk berbincang, Hadi memutus panggilan dan menyisakan Aldi yang murung terduduk di kursi kerjanya.
"Tidak bisakah kau mengembalikan salah satu diantara mereka yang sudah membawa semua perasaanku? Tuhan. Aku hanya meminta Dinda untuk kembali jika Avril dan Syifa sudah tak kau takdirkan bersamaku. Dosa apa yang aku perbuat sampai semua orang yang aku cintai kau bawa pergi? Papa, kak Amel, Syifa, dan sekarang Dinda kau jauhkan dariku setelah dia begitu dekat dan membawa pergi harapanku dan Rei." Aldi tak henti menyalahkan takdir yang meruntuhkan hidupnya ini. Gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta setelah pedihnya kehilangan, sekarang malah pergi dan jelas tak akan bisa ia gapai lagi.
Di tengah renungannya, terdengar kembali ponselnya berdering, Aldi segera menjawab panggilan masuk yang ternyata dari mertuanya.
"Hallo. Ayah." Sapanya dengan mengatur nafas dan suaranya.
"Ah tersambung. Tadi ayah menelepon tapi tidak tersambung. Kau sedang sibuk?" Tanya Hasan terdengar begitu sopan.
"Ah tidak juga ayah. Tadi kebetulan ada yang menelepon. Emmm ada apa ayah menelepon malam-malam?" Aldi balik bertanya karena merasa penasaran, tak biasanya Hasan menghubunginya seperti sekarang.
"Begini nak. Sebelumnya ayah minta maaf jika lancang tak meminta persetujuanmu lebih dulu." Mendengar jawaban ini, Aldi semakin dibuat penasaran.
"Persetujuan? Tentang apa?" Tanya Aldi lagi.
"Ayah dan ibu melamarkan seorang gadis untukmu. Dia sangat baik, cantik, sopan dan sepertinya keibuan, ayah yakin dia akan menyayangi Rei, ayah berharap kamu setuju. Tapi kau jangan berpikir yang tidak-tidak. Ayah melakukan ini karena ayah rasa kamu harus mendapatkan pendamping lagi nak. Ayah tidak tega jika melihatmu terus terlarut dalam kesedihan dan menutup hati kamu untuk gadis lain. Masalah di setujui atau tidaknya, itu terserah kamu. Tapi sebelum itu, kamu harus datang kemari untuk bertemu langsung dengannya. Dan itu akan menentukan keputusanmu." Lanjut Hasan menjelaskan dengan hati-hati. Ia takut jika menantunya ini akan menolak mentah-mentah dan menjauhinya sehingga Hasan tak bisa bertemu dengan Reifan lagi.
__ADS_1
"Ayah minta maaf. Sungguh ayah tak bermaksud apa-apa. Ayah hanya--"
"Baiklah ayah. Aku akan kesana. Kapan dan dimana?" Aldi menyela penyesalan Hasan dan akhirnya berhasil membuat Hasan tersenyum penuh haru.
"Besok di kota S. Apa kau bisa?"
"Akan aku usahakan ayah." Setelah mendengar jawaban Aldi, Hasan begitu gembira dan ia memutus panggilan setelah berbincang beberapa saat.
"Kota S? Apa ini takdirmu Tuhan? Aku tak bisa mendapatkan Dinda, tapi aku akan di jodohkan dengan gadis yang satu kota dengannya." Ucap Aldi bergumam sendiri.
Esoknya, Aldi bersiap membawa Reifan untuk menemaninya. Rencananya ia buat untuk memastikan keluarga si gadis akan menerima Reifan atau tidak. Karena yang ia inginkan adalah seorang ibu untuk anaknya, bukan hanya seorang istri untuk dirinya saja. Dewi yang tak bisa berpergian jauh karena harus menggantikan Aldi meski sedikit usaha yang ia kerahkan, tapi setidaknya bisa membantu Bagas menyelesaikan pekerjaannya. Dan di tambah bantuan Alvi dan Galih bisa meringankan bebannya dalam mengatur pekerjaan di kantor.
. Di kota S, Dinda tengah sibuk mempelajari beberapa dokumen mengenai hal-hal berbau bisnis untuk memperlancar usahanya dalam menjalankan tanggung jawab yang ia tanggung di pundaknya. Kini berita presdir baru yang masih muda, cantik dan baik hati sudah menyebar ke seluruh kalangan pebisnis muda lainnya. Banyak dari mereka yang menghubungi perusahaan untuk sekedar menentukan jadwal pertemuan dengan Dinda. Namun, tak ada satupun dari mereka yang di setujui oleh Dinda.
"Mungkin kebetulan." Ucapnya menghilangkan rasa percaya diri yang menggebu di dalam dirinya. Aldi turun dari mobil setelah supir membukakan pintu untuknya. Segera ia menggendong Reifan dan memasuki rumah dengan sedikit ragu. Tatapannya beradu dengan saling terkejut saat ia dan Salma saling berhadapan.
"Nak Aldi?" Sapanya penuh tanya.
"Tante... apa saya salah alamat? Ayah Hasan menyuruh saya untuk datang ke alamat ini. Apa rumah ini alamatnya?" Tanya Aldi dengan memperlihatkan sebuah alamat yang tertera di layar ponselnya.
"Iya benar nak. Dan kamu anaknya Hasan?" Tanya Salma tak kalah ingin tahu banyak tentang Aldi.
__ADS_1
"Sebenarnya saya menantunya tante. Saya menikah dengan mendiang putrinya." Jawabnya penuh keraguan.
"Apa ini putramu?" Aldi mengangguk seraya menyuruh Reifan untuk menyapa Salma.
"Hai... sayang. Siapa namamu?" Tanya Salma beralih pada Reifan.
"Eifan." Jawab Reifan dengan polos.
"Eifan? Nama yang bagus." Puji Salma mencubit pipi Reifan dengan gemas.
"Namanya Reifan tante. Tapi Rei selalu memanggil dirinya dengan Eifan."
"Boleh tante gendong?"
"Tentu saja. Silahkan."
"Uuuu sini nak. Oma gendong. Kamu umur berapa?" Salma terus merayu Reifan seraya berjalan ke dalam rumah. Hadi tak kalah terkejut mendapati Aldi yang datang ke rumahnya sebagai tamu yang di maksud Hasan.
"Ini putramu?" Tanya Hadi pada Hasan dengan masih berekspresi terkejut.
"Tidak. Sebenarnya dia menantuku." Jawab Hasan dengan penuh senyum. Hadi merasa lega jika memang Aldi yang di maksud Hasan untuk mendampingi hidup putrinya. Terlihat Dinda turun setelah Yasmin memberitahu tamunya sudah datang.
__ADS_1
"Bunda..." teriak Reifan langsung berlari menghampiri Dinda dan menyisakan beribu pertanyaan di benak orangtuanya.
-bersambung