
. Di ruangan pribadi Dinda, Nisa masih menangis, ia terus meminta Dinda untuk mengingatnya, namun Dinda hanya tersenyum melihat Nisa yang kesal karena dirinya.
"Kalau begitu, apa kebiasaanku disini?" Nisa mulai menghentikan tangisnya, ia mengatur nafas setelah mendengar pertanyaan dari Dinda.
"Kakak selalu melamun, menulis sesuatu, lalu merangkai bunga sendirian meskipun tak ada yang membeli."
"Benarkah? Apa kau tahu alasanku datang ke kota ini karena apa?" Sejenak Nisa terdiam dan berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Dinda.
"Karena kau tak mau di jodohkan denganku." Ucap seseorang dari ambang pintu, ketiga perempuan yang berada di dalam ruangan pun menoleh ke arahnya dengan menyipitkan mata mereka.
"Apa maksudmu Al?" Avril yang tak tahu apa-apa disini hanya menyimpan sebuah pertanyaan di benaknya.
"Tepat saat kepergian Dinda dari rumahnya, saat itu aku sedang menemui rekan bisnis yang mengundangku makan malam, kemudian beliau bilang, dia ingin mengenalkan putri sulungnya padaku dan berniat menjadikanku menantu jika aku dan putrinya saling menyukai satu sama lain. Namun, yang datang saat itu hanya putri bungsunya saja, Yasmin." Mata Dinda membulat, setelah sadar kemarin, ia di beritahu kembali nama-nama anggota keluarganya. Jika yang di maksud Aldi adalah Yasmin, maka kakak yang kabur itu memang dirinya.
"Tapi, kenapa aku kabur?" Tanyanya dengan ekspresi yang begitu polos.
"Entah. Aku saja tak tahu. Harusnya kau yang punya jawaban itu. Aku hanya menebak kau tak mau di jodohkan denganku karena aku seorang duda anak satu, atau mungkin rumor aku kencan setiap hari dengan wanita yang berbeda." Kali ini, tatapan Dinda berubah sinis. Ia tak menyangka jika Aldi seorang pria yang suka berganti perempuan.
"Tapi, setiap aku menemui anak dari kenalan mama, saat itu juga aku menolak mereka. Yang aku butuhkan bukan hanya sekedar seorang istri, tapi juga seorang ibu untuk putraku." Tutur Aldi kemudian berhasil menyimpulkan senyum di bibir Avril.
"Sejujurnya, aku juga hendak menjodohkan kalian saat itu, tapi aku mendengar masing-masing dari kalian susah punya pacar. Dan aku kira, pacar yang dimaksud adalah orang lain. Tapi setelah tahu kau dan Aldi bersama, aku merasa lega dan aku bersyukur karena Aldi mendapatkan pendamping yang baik sepertimu" Avril berkata dengan sedikit menunduk. "Dinda. Apa kau juga lupa bunga kesukaanku?"
__ADS_1
"Tulip?" Avril yang yang semula pesimis pun berubah berbinar setelah mendengar jawaban Dinda. Ia merasa tak percaya jika Dinda mengingat jenis bunga favoritnya.
"Ah aku kesal Dinda. Kenapa kau hanya mengingat bunga kesukaanku saja?" Lirih Avril dengan embun berderai dari pelupuk matanya. Dinda meraih kepalanya perlahan seraya memperjelas apa yang terlintas di pikirannya.
"Maafkan aku Avril. Aku juga tak tahu mengapa aku menjawab pertanyaan darimu." Tutur Dinda meraih Avril dengan perasaan bersalah dalam dirinya.
"Hanya saja, aku ingin tahu kenapa aku kecelakaan, tapi kalian semua terus diam tanpa memberitahuku yang sebenarnya." Lanjutnya membuat Aldi beranjak dari tempatnya, sehingga Dinda menoleh sedikit pada Aldi yang sudah membelakanginya.
"Apa kau akan terus menyembunyikannya dariku Al?" Aldi kembali berhenti, namun ia enggan berbalik dan menghadap pada Dinda.
"Untuk apa aku memberitahumu? Kau saja tak ingat sedikitpun padaku atau bahkan pada tempat-tempat yang pernah kau temui."
"Tapi mungkin saja, jika aku mencoba mengingat kejadian kecelakaannya, siapa tahu aku bisa ingat."
"Kau ini bagaimana Al... aku kan amnesia mana mung-kin.... akh...." rintihnya tiba-tiba terhuyung dan segera meraih kepalanya. Mobil malaju kencang, pandangan kabur, lalu seorang pria memeluk kepalanya namun pria itu tak terlihat wajah aslinya, terlihat buram dan ada ayahnya berada di depan orang tersebut. Lagi-lagi Dinda meringis mendapati memori hitam putih yang tak tahu dari mana ia dapat.
"Apa ini?" Lirihnya berpikir keras tentang apa yang terus terngiang di telinganya. "Al...." Belum sempat berkata lagi, tiba-tiba Aldi memeluknya dengan erat seraya menenangkan Dinda dengan hati yang sesak, ia menduga Dinda mendapati beberapa memori kenangannya dengan Emilio.
"Kenapa ingatanku ini menakutkan Al?" Lirihnya lagi sehingga Aldi memeluknya semakin erat.
"Tak heran. Dia mantan pacarmu sebelum kau bersedia menikah denganku." Aldi tak kalah lirih menjawab kalimat yang menjadi pertanyaan dari Dinda.
__ADS_1
"Maaf. Tapi bisakah kau mempertemukanku dengannya?"
"Bukannya aku tidak mau Dinda. Dia sudah meninggal, nyawanya tak tertolong karena lukanya lebih parah darimu."
"Aku kecelakaan dengannya? Apa kau tahu mengapa aku bisa dengan dia?" Dinda kembali bersemangat dan menatap harap pada Aldi, ia berharap jika Aldian bisa menjelaskan apa yang terjadi sebelum dirinya amnesia, mungkin ia akan sedikit mengerti.
"Sejujurnya aku tak tahu, saat sampai di parkiran aku hanya melihat kau terpental dan kata terakhir sebelum kau tak sadar, kau bilang bahwa kau berhasil menjaganya, dan kau tidak memberikannya pada Lio. Entah apa yang kau maksud itu, aku masih belum mengerti sepenuhnya."
"Aku kesal Al."
"Kita pulihkan sama-sama. Aku yakin, kau akan ingat nanti." Meski hatinya tak bisa berbohong bahwa ia menginginkan Dinda pulih secepatnya. Namun, jika terlalu di paksakan, justru itu akan membahayakan kesehatan otak Dinda sendiri.
"Al, Dinda, sudah waktunya aku pulang. Maaf... suamiku sudah menunggu. Nanti aku ajak kau ke tempat lain oke." Ujar Avril setelah ia menatap layar ponselnya beberapa saat. Setelah itu, Avril bergegas karena tak ingin membuat Alvi menunggu lama di luar toko. Sementara Nisa kembali ke pekerjaannya dan Dinda masih dengan Aldi di dalam ruangan. Dinda menatap sendu pada Aldi yang kini duduk di seberangnya dengan fokus memainkan ponsel.
"Al.... jika amnesiaku tidak pulih juga, apa kau akan tetap bersamaku?"
"Apa itu menjadi alasan untuk aku meninggalkanmu? Aku sudah bilang, kita pulihkan sama-sama. Jangan memaksakan, aku tak ingin jika kondisi otakmu akan bermasalah nanti."
"Tapi aku masih ragu pada perasaanku Al."
"Kalau begitu, ikuti kata hatimu saja. Kau masih lajang, dan banyak yang ingin menjadi pendampingmu. Aku tak akan memaksa orang yang tidak menginginkanku." Dengan tanpa menatap mata Dinda, Aldi berkata dengan terus menunduk menatap dalam pada ponsel yang sudah redup di tangannya. Namun, secara tak terduga, Dinda meraih wajah Aldi lalu mengecup bibirnya sedikit lama.
__ADS_1
"Jika sedari dulu ayah setuju, dan aku pun tak menolak, untuk apa aku memilih yang lain?" Ucap Dinda meyakinkan Aldi.
-bersambung