
. Hari-hari berikutnya, Aldi selalu menjemput Dinda untuk sekedar berjalan-jalan mengelilingi kota. Tak jarang mereka joging bersama di taman yang merupakan tempat awal mula mereka dekat. Aldi pernah menanyakan tentang ingatan Dinda perihal peristiwa yang terjadi diantara mereka, namun hasilnya tetap sama, Dinda tak mengingat apapun yang terlintas di benaknya.
Hari ini, Dinda dan Aldi berjalan-jalan di sebuah mall seperti pasangan yang masih kasmaran. Usia yang masih 25 membuat Aldi terlihat lebih muda dari seharusnya. Ia terlihat tidak seperti duda beranak satu.
"Maira." Lirih Dinda ketika melihat ada pelayan gerai pakaian bermerk di mall tersebut.
"Kau berkata sesuatu?" Tanya Aldi yang samar mendengar ucapan Dinda.
"Al... melihat pelayan itu kenapa aku teringat nama Maira ya?" Mendengar pertanyaan Dinda, Aldi tersenyum tipis seraya mengacak rambut Dinda dengan asal.
"Ihhh berantakan Al." Ucapnya manja.
"Nanti juga ingat." Tak seperti biasa, Dinda merasa heran dengan sikap Aldi yang terkesan santai dari sebelumnya ketika mendengar Dinda yang tak mengingat apapun. Ketika keduanya tengah berkeliling dan bercanda, langkah Aldi terhenti saat ia saling berhadapan dengan Emira.
"Al." Sapa Emira dengan tersenyum ramah. "Dinda. Apa kabar? Aku dengar kau kecelakaan, tapi sepertinya kau sudah lebih baik sekarang." Lanjutnya beralih bertanya pada Dinda yang menatapnya dengan penasaran.
"Al... siapa?" Tanya Dinda berbisik pada Aldi.
"Ohh ini kak Emira. Teman mendiang kakakku dulu. Dan kebetulan ternyata kak Emira ini mantan istri dari Aulian Prayoga, kakak Emilio." Jelas Aldi menjawab pertanyaan Dinda, namun hal itu membuat Emira menyipit dengan penuh rasa penasaran di benaknya.
"Emilio yang mantan pacarku itu?" Pertanyaan Dinda ini semakin membuat Emira benar-benar terheran. Bagaimana mungkin Dinda secepat itu melupakan siapa Emilio.
"Dinda mengalami amnesia kak. Hanya bahasa dan pengetahuannya saja yang masih melekat. Dia tidak mengingat satupun orang terdekatnya, termasuk aku dan keluarganya." Jelas Aldi yang menyadari arti dari tatapan Emira yang penuh tanya.
"Pantas saja. Lalu, apa benar Lio meninggal?" Mendadak Aldi menunduk sendu lalu mengangguk pelan dengan wajah menyesal.
"Begitu ya? Aku mendengarnya dari Lian." Emira ikut menjadi sendu, bagaimana pun hanya Emilio yang dekat dengannya selama ia masih menjadi istri Aulian.
"Bagaimana kabar Aulian kak?" Tanya Aldi membuyarkan lamunan Emira seketika.
"Yaaa orang di penjara tak mungkin baik-baik saja. Dia menjadi sangat pemarah sekarang, terlebih om Amar tidak pernah menjenguknya ke sel. Mungkin karena om Amar kecewa pada Lian. Alih-alih menjadi pimpinan yang baik dan bisa membuatnya bangga, Lian malah terjerat kasus hanya karena dia merasa tersaingi olehmu."
"Kak. Apa benar Aulian yang membuatku kecelakaan?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu pasti Al. Yang aku dengar dari setiap makiannya, dia selalu bilang bahwa rekaman CCTV sudah di rekayasa oleh Ken."
"Ken?" Aldi menyernyit dan mulai penasaran pada siapa pemilik nama yang di sebut oleh Emira.
"Ken itu seorang peretas, atau jaman sekarang mungkin di sebut hacker. Kemampuan meretas yang baik membuat semua yang ia rekayasa seakan tak meninggalkan jejak."
"Apa dia juga di penjara?"
"Sayangnya tidak Al. Saat mengepung Lian di gudang itu, Ken sudah melarikan diri dan tak ada jejak sedikitpun."
"Berbahaya juga. Entah kenapa, aku jadi khawatir pada kak Galih."
"Hati-hati saja Al. Kita tak tahu apa yang Ken rencanakan. Karena setahuku, Ken itu lebih berbahaya dari majikannya sendiri. Dia terlalu setia pada Lian, dan aku yakin Ken sedang menyusun rencana untuk membebaskan Lian secepatnya." Dinda yang tak tahu arah pembicaraan keduanya hanya bisa menyimak saja.
"Emmm apa Lian itu sangat berbahaya? Siapa dia? Dan kenapa kalian terlihat waspada?" Tanya Dinda di sela obrolan Aldi dan Emira.
"Sangat berbahaya Din. Dia rela mencelakai calon suamimu ini karena dia kalah saing. Dia yang kalah dari Aldi karena Aldi bisa dengan mudah bekerja sama dengan ayahmu, sedangkan Lian tidak."
"Apa kecelakaan yang di maksud kakak ini, kecelakaan yang itu Al?" Dinda yang seperti anak kecil, bertanya dengan polos membuat Aldi gemas dan mencubit pipinya sedikit keras.
"Aih? Aku pernah menolakmu?"
"Pernah lah. Di bawah hujan pula."
"Lalu, apa kau menangis?"
"Tidak."
"Bohong."
"Iya tidak bohong." Aldi terkekeh kemudian merangkul pundak Dinda yang ikut tertawa kecil menanggapinya.
"Al... kalau begitu, aku duluan ya!" Ucap Emira undur diri merasa tak nyaman jika berada di antara pasangan yang sedang kasmaran. Setelah Aldi mempersilahkan, Emira berlalu dengan senyum simpul di bibir manisnya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Amel. Kalau kau yang melihatnya sendiri, kau pasti ikut bahagia melihat adikmu sekarang sudah bahagia." Batin Emira menoleh kembali pada Aldi yang sudah berjalan menjauh dari tempat yang tadi mereka gunakan untuk berbincang.
. Menjelang sore, Aldi mengajak Dinda untuk ke rumahnya dan menemui Reifan sebelum Dinda pulang. Di pertengahan jalan, Dinda merasa ingin membelikan sesuatu untuk Reifan, ia meminta Aldi untuk berhenti di sebuah toko kue.
"Rei suka apa ya? Apa dia suka coklat?"
"Yaaa suka. Daddy nya juga suka."
"Ehhhh bunda tidak tanya."
"Emmm bunda jahat ya...."
"Sudah Al. Ih kau seperti anak manja."
"Kau yang memulai."
"Iya iya selalu aku yang salah."
"Baiklah. Aku saja yang salah. Bunda jangan marah yaa...." sontak Dinda tertawa kecil menanggapi candaan Aldi.
"Aku mulai mengerti kenapa ayah memilih Aldi, dan kenapa dulu aku memilihnya." Batin Dinda semakin dalam menatap mata Aldi dari samping yang kini tengah fokus memilih kue di depan etalase.
"Yang ini aja ya sayang." Ujar Aldi dengan tiba-tiba menoleh pada Dinda yang masih menatapnya dengan sedikit tersimpul senyum di bibirnya.
"Ada apa di wajahku?" Tanya Aldi kemudian mendekatkan wajahnya pada Dinda yang enggan memalingkan pandangannya.
"Kita menikah Al." Ucapnya begitu saja. Terlihat wajah Aldi sedikit memerah, bisa-bisanya ia di lamar oleh perempuan, rasanya sedikit malu meskipun keduanya sudah lama bertunangan dan memiliki rencana lagi untuk menikah. Aldi menjauhkan wajahnya dengan berpaling menyembunyikan wajahnya yang merona.
"A-apa kau sudah siap?" Tanya Aldi dengan gugup membuat Dinda kembali tertawa kecil melihat Aldi yang begitu malu.
"Haha kau lucu sekali Al." Ejek Dinda lalu memesan kue yang di maksud Aldi. Setelah bertransaksi, keduanya bergegas pulang untuk menemui Reifan di rumah.
Sampai di depan rumah Aldi, Dinda bersiap untuk segera keluar dari mobil, namun tangannya di tahan oleh Aldi dan tiba-tiba Aldi memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Berjanjilah jangan pernah meninggalkanku."
-bersambung