RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
64


__ADS_3

. "Kalian sudah mau pergi lagi?" Meski sudah tahu Hasan dan Linda sudah berkemas, namun Aldi tak bisa menahan pertanyaannya kanya dalam benak saja. Apa lagi, mereka baru beberapa hari menginap disana dan bertemu dengan Reifan pun tak lama.


"Ayah ada urusan ke kota S. Jadi, sekalian pulang. Kapan-kapan, bawa Rei ke rumah kami. Meskipun jauh, tapi setidaknya Rei tahu dimana rumah kakeknya." Tutur Hasan menepuk pundak Aldi.


"Iya ayah. Akan Aldi usahakan untuk berkunjung ke sana."


"Kalau begitu, kami pamit ya!" Ucap Linda pada Dewi yang mengantarkan mereka sampai depan teras saja.


"Hati-hati. Maaf tidak mengantarkan ke bandara." Ujar Dewi memberi pelukan perpisahan.


"Tak apa. Di antarkan oleh supir sampai bandara pun kami sudah berterima kasih. Dan Aldi... jangan terlarut pada kepergian Syifa. Dia susah tenang. Mulailah hidup baru agar kau tak merasa bersedih." Linda beralih menoleh pada Aldi.


"Iya bu... ibu hati-hati. Masalah itu, akan Aldi pikirkan lagi." Linda hanya tersenyum mendengar ucapan Aldi. Ia sendiri merasa ingin mencarikan istri untuk Aldi agar tak lagi merasa kesepian.


Hasan dan Linda berangkat diiringi lambaian tangan mungil Reifan yang membuat Linda tak bisa menahan air matanya. Ia tak menyangka, cucu semata wayangnya tumbuh menjadi anak yang pintar di bawah asuhan Avril yang jelas belum berpengalaman menjadi seorang ibu.


. Selepas kepergian kedua mertuanya, Aldi memilih untuk mengunjungi toko bunga milik Dinda. Di sana hanya ada Nisa dan beberapa pelayan lainnya.


"Nis. Apa ada kabar dari Dinda?" Tanya Aldi yang terlihat sudah akrab dengan pelayan-pelayan di toko itu.


"Tak ada kak. Terakhir saat 3 hari yang lalu, kak Dinda meneleponku dan dia bilang toko ini untukku saja. Karena kak Dinda tak akan kembali ke kota ini lagi. Apa kak Aldi dan kak Dinda bertengkar hebat sampai kak Dinda tak mau kembali ke kota ini?" Sejenak Aldi terdiam mendapati pertanyaan dari Nisa.


"Ahh.... intinya dia salah faham. Dinda mengira aku dan Avril adalah suami istri. Entah kenapa, Dinda sampai membenciku begitu. Padahal aku sudah menjelaskannya pada dia."


"Kak Dinda sangat mengagumi kakak. Sedikit-sedikit dia bercerita tentang kakak. Bahkan aku sampai menaruh harapan tinggi kalian akan menikah dalam waktu dekat. Dan kak Avril sangat baik. Dia satu-satunya teman dekat kak Dinda yang ada di kota ini. Selebihnya hanya angin lalu saja."


"Awalnya saat pertama kali aku melihat Dinda dan tahu kepribadiannya, aku merasa sedang bersama mendiang istriku. Tapi, semakin lama aku bersama Dinda, maka perbedaan diantara mereka semakin terlihat. Aku tak begitu memahami Syifa, karena kebersamaan kami hanya satu tahun pasca menikah. Dia melahirkan, dan meninggal beberapa saat setelahnya. Aku dan Syifa menikah awalnya karena perjodohan, meski akhirnya aku pun mencintai Syifa. Dan sekarang aku pun merasa aku mencintai Dinda tanpa unsur paksaan dari siapapun. Lebih tepatnya, aku mencintai Dinda seperti aku mencintai mantan kekasihku yang pertama." Jelas Aldi yang perlahan menatap langit yang cerah.

__ADS_1


"Aku merindukannya Nis." Lirih Aldi semakin lekat menatap salah satu awan yang bergerak mengikuti arah mata angin.


"Aku juga kak." Nisa ikut menatap awan namun bedanya ia menangis perlahan karena merindukan Dinda.


. Setiap harinya, Aldi yang mulai menjalani hari-hari seperti bisanya pun tampak tak seperti biasa. Ia lebih banyak murung dan tak bersemangat. Bagas pun yang berada di dekatnya setiap saat tak bisa membujuk Aldi. Avril yang di larang Alvi untuk bekerja karena hamil pun jarang bertemu dengan Aldi. Jika bukan untuk menitipkan Reifan, mungkin Aldi tak akan menemui Avril sedikitpun.


. Di waktu yang sama, Hasan tengah menyantap jamuan rekan kerjanya sedari dulu. Mereka baru bertemu lagi setelah beberapa tahun yang lalu Hasan harus pindah kota.


"Ini anak gadismu?" Tanya Hasan dengan menatap kagum pada Dinda.


"Iya. Sudah 25 tahun." Jawab Hadi menyunggingkan senyum tipis di bibir Dinda.


"Seumuran dengan anakku ternyata. Siapa namamu nak?" Tanya Hasan beralih pada Dinda.


"Dinda Om." Jawabnya sedikit malu.


"Sekarang putri tante dimana?"


"Dia susah pulang. 3 tahun yang lalu." Dinda tak mengerti maksud Linda, ia menyernyitkan alisnya menatap Linda seraya berpikir sendiri.


"Dia sudah meninggal." Lanjut Linda seakan menjawab teka-teki di kepala Dinda.


"Maaf tante." Lirih Dinda menunduk menyesal.


"Tak apa nak. Oh ya. Tante boleh bertanya?" Kini Linda berubah antusias dengan obrolannya.


"Boleh tante. Silahkan!"

__ADS_1


"Apa kau sudah punya calon suami?" Mendengar pertanyaan itu, Dinda terdiam seketika. Ia melirik ayahnya dan berharap ayahnya saja yang menjawab.


"Kebetulan dia baru putus dari pacarnya. Dan aku berniat untuk mengenalkannya pada seorang pengusaha muda. Dan itu juga tergantung Dinda sendiri. Jika dia setuju, maka aku akan mengenalkannya. Tapi jika tidak, mau bagaimana lagi. Dinda sendiri yang akan menjalani hidupnya. Bukan kita." Tutur Hadi menjawab pertanyaan Linda tersebut.


"Jika kau ragu, bagaimana dengan putra kami saja? Dia pria yang baik. Kami yakin dia pasti akan membahagiakanmu." Ucap Hasan yang tak di bantah sedikitpun oleh Hadi maupun Dinda.


"Kau punya putra yang sudah dewasa?" Tanya Salma yang mengingat kembali bahwa Hasan tak punya anak lain selain Syifa.


"Sebenarnya bukan putra kandung. Dia sudah kami anggap sebagai anak kami. Dan kami pun berencana untuk mewariskan bisnis kami padanya." Jelas Hasan ditanggapi anggukan oleh Hadi dan Salma.


"Bagaimana? Apa lamaran kami di terima? Maaf jika mendesak, hanya saja waktu kami hanya sebentar di sini. Dan mungkin beberapa hari setelahnya kami akan pulang. Tapi, sebelum kepulangan kami ke Kalimantan, kami ingin mempertemukan kamu dengan dia." Tutur Linda menatap harap pada Dinda yang sudah pasrah menerima keputusan sang ayah.


"Kalau aku, ikut keputusan Dinda saja." Jawab Hadi.


"Dinda akan ikut keputusan ayah. Apapun yang ayah putuskan, Dinda akan terima." Ujar Dinda membuat Hadi tersenyum lega.


"Baiklah. Kapan dia akan menyusul? Agar aku membatalkan perjodohan Dinda dengan pilihanku."


"Kalau bisa, besok atau lusa dia sudah harus kesini." Ucap Hasan.


"Baiklah sudah di tentukan." Selepas mengatakan hal tersebut, Hadi dan Hasan saling berjabat tangan sebagai tanda persetujuan.


. Malamnya, Aldi mendapati panggilan telepon dari Hadi. Aldi seakan menemukan titik terang kesempatannya dengan Dinda akan bersama lagi.


"Aldi... sebelumnya om minta maaf. Soal perjodohan kamu dan anak om, dibatalkan." Semula senyum Aldi yang mengembang, kini merubah sendu mendengar berita buruk ini.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2