
. Bagas yang sudah menyimpan kekesalannya pada Ken, akhirnya ia sendiri yang meringkus Ken dengan tangannya. Setelah menunggu, polisi datang dan mengamankan semua orang yang terlibat. Tak terkecuali Aldi yang menjadi pelaku penganiayaan atas Aulian. Setelah Dinda menjelaskan, akhirnya polisi bisa mempertimbangkan dan hanya membawa Aulian saja. Selepas polisi pergi, Dinda menunduk di samping Aldian yang tengah menunggu Bagas mengambil mobil dari parkiran.
"Al..." lirih Dinda masih menunduk.
"Hmmm?"
"Apa kau percaya saat itu aku tak melakukan apa-apa dengan Lio?" Mendengar pertanyaan Dinda tersebut, Aldi terbelalak lalu meraih kedua bahu Dinda sehingga keduanya saling bertatapan.
"Kau berkata Lio? Berarti...." Dinda mengangguk seraya tersenyum seakan menjawab hal yang ingin Aldi tanyakan.
"Aku ingat Al. Tapi maaf. Yang pertama aku ingat adalah Lio. Itupun karena situasinya sama. Bahkan aku melihat Emilio di sana, bukan Lian. Kalau boleh aku memilih, aku ingin yang lebih dulu aku ingat itu kau. Sekali lagi aku minta maaf Al... aku--" celotehannya terhenti karena Aldi yang tiba-tiba mendekapnya.
"Syukurlah." Lirih Aldi begitu menenangkan hati Dinda. Ia pikir Aldi akan tersinggung jika ia mengatakan hal ini secara jujur. Namun ternyata, Aldi tak mempedulikan alasannya, ia begitu bahagia mendengar berita yang jelas sudah lama ia tunggu.
"Entah apa yang harus aku ungkapkan sekarang. Aku menyalahkan keadaan yang terus membawamu pada bahaya, tapi keadaan itu juga yang membuatmu mengingat hal yang kau lupa." Ujar Aldi kembali.
"Maaf Al. Tapi tidak sepenuhnya." Aldi tersenyum menanggapi ucapan Dinda yang terucap lirih, ia melepas rangkulannya dan menatap Dinda dengan dalam.
"Mau mengembalikannya bersama?" Seketika itu Dinda mengangguk dengan antusias menanggapi pertanyaan Aldi. Ia benar-benar merasa beruntung bisa mendapatkan laki-laki seperti Aldi.
Setelah lama menunggu, akhirnya terlihat juga mobil yang di kendarai Bagas untuk membawa mereka pulang. Aldi dan Dinda segera masuk ke dalam mobil dan mereka bergegas pulang ke rumah. Selama perjalanan, Dinda yang hendak memberitahu Hadi tentang kembalinya ingatan Dinda yang sempat hilang, niatnya urung seketika saat melihat sikap ayahnya yang seperti tengah memikirkan sesuatu.
. Setibanya di rumah, Yasmin langsung memeluk Dinda dengan erat, terlihat pula ibunya ikut menyusul dan lebih memilih menyambut Aldi yang baru keluar dari mobil.
"Bu...."
__ADS_1
"Terima kasih nak." Salma tak bisa menahan air matanya yang memaksa untuk terus berderai, namun bibirnya tersenyum lega melihat Aldi dan putrinya baik-baik saja. Ia merasa terharu dengan apa yang sudah Aldi lakukan pada putrinya.
"Tak apa bu... Dinda juga sudah menjadi tanggung jawab saya." Salma kembali tersenyum lega mendengar tanggapan Aldi tersebut.
"Aldi. Om ingin bicara denganmu." Dan seketika Aldi menoleh pada Hadi yang terlihat begitu serius, kemudian Hadi berlalu menuju ruang kerjanya dan di ikuti Aldi dari belakang. Setelah keduanya masuk, Hadi duduk dan bersandar di sofa dan menyuruh Aldi duduk di seberangnya, sehingga Aldi pun merasa penasaran akan apa yang ingin di sampaikan Hadi padanya.
"Begini. Maaf jika ini sangat mendesakmu. Tapi Om tak mau melihat putri Om dalam bahaya seperti tadi." Tutur Hadi memulai topik pembicaraan.
"Apa Om berniat membatalkan pertunangan saya dengan Dinda?" Tanya Aldi yang sudah menebak arah pembicaraan mereka.
"Lebih tepatnya mengakhiri." Mendengar jawaban tersebut, Aldi terdiam membisu, dan ia menunduk tak tahu harus berkata apa. Di saat seperti ini, Hadi malah membahas hal yang jelas mustahil ia lakukan. Berpisah dengan Dinda? Sungguh itu hal yang sangat berat baginya.
"Apa kau siap menikahi Dinda besok?"
"Sudah Om katakan. Maaf jika ini mendesak. Tapi Om tak mau jika Dinda terus dalam bahaya. Jadi Om pikir, jika Dinda sudah menikah dan ikut denganmu, mungkin dia akan aman. Untuk resepsi, kita bicarakan nanti saja. Bawa Dinda bersamamu dan beri Om waktu untuk mempersiapkan resepsi pernikahan kalian yang sempat tertunda. Jika kau bersedia, besok kita akan melakukan pernikahan secara keluarga. untuk persyaratan lainnya, kau bisa memberitahu ibumu sekarang." Aldi masih mematung tak paham maksud semua penjelasan Hadi. Ia masih tak percaya jika tiba-tiba ia harus menikah tanpa ada persiapan apapun. Ia memang berharap bisa menikah dengan Dinda dalam waktu dekat, namun jika mendadak dan hanya di beri waktu satu malam untuk persiapan, ia mana siap?
"Tapi Om... Aldi... ini sudah larut malam. Kita tak ada waktu untuk membuat persyaratan yang di butuhkan."
"Kau belum siap?"
"Bu-bukan begitu Om. Ma-maksudnya.... kalau mendadak, apa sempat?"
"Kalau kau tak yakin, beritahu Bagas!"
"Eh? Em... baiklah. Sebentar Om." Meski ragu, namun Aldi mengikuti saran dari Hadi untuk memanggil Bagas ke ruang kerja.
__ADS_1
"Hah? A-A-Aldi menikah?" Pekik Bagas setelah Hadi menjelaskan hal yang ia rencanakan. Terlihat Bagas mendadak panik dan ia yang lebih gugup dari Aldi yang akan menjalani proses pernikahan dadakan itu. Bagas meraih ponselnya lalu memanggil Reno dengan tangan yang gemetar.
"Re-Re-Ren. Al-Al-Aldi... kau bisa membuat beberapa berkas untuk besok? Harus siap jam 8 pagi, dan kau ke sini pakai pesawat Alvi ya!"
"Kenapa Gas? Ada apa? Kalian baik-baik saja kan? Jangan membuatku cemas."
"Tidak Ren. Kami baik-baik saja."
"Jadi, apa yang kau minta."
"Surat-surat yang di perlukan untuk pernikahan beda kota dan provinsi. Kau bisa? Jam 8 harus selesai."
"Siapa yang mau menikah? Mengapa mendadak? Besok aku ada meeting dengan Om Andre." Pekik Reno membuat Bagas merinding seketika saat mendengar nama Andre di sebutkan oleh Reno.
"Om Andre akan aku urus. Kau siapkan saja keperluannya."
"Oy. Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa yang mau menikah?"
"Aldi. Pastikan datanya sesuai." Setelah mengatakan itu, Bagas langsung memutuskan panggilan dan beralih kembali fokus pada kedua orang yang ia anggap sebagai beban pikirannya malam ini.
"Apa mereka sadar dengan rencana yang mereka buat? Aku ingin istirahat Al. Harusnya kau paham situasiku. Aku sudah menghajar si Ken habis-habisan, dan yang ku inginkan sekarang itu waktu istirahat, bukan waktu bekerja lembur." Keluh Bagas dalam hatinya terus bergumam.
Singkatnya, di pagi hari, setelah Aldi mendapat kabar bahwa berkas yang ia butuhkan sudah di siapkan Reno dalam waktu yang singkat, ia segera mengenakan baju terbaiknya yang sudah di sediakan Hadi untuknya. Aldi menatap dirinya dari pantulan cermin dengan sendu, ia seakan merasa di sampingnya ada Syifa yang tengah menggandeng tangannya.
-bersambung
__ADS_1