
. Waktu bergulir begitu cepat, kini sudah masuk minggu ketiga dari terakhir kali Avril berkunjung ke rumah Aldi. Dan selama itu juga, ia tak lagi bertemu Reifan. Berkali-kali Aldi mencoba menemui Avril namun tak pernah diberi kesempatan. Avril selalu memberi alasan agar dirinya tak bertatap muka dengan Aldi. Hingga suatu hari, Aldi yang mengetahui jadwal pemeriksaan Avril pun bergegas menyusulnya ke rumah sakit. Ia pergi tanpa didampingi siapapun, bahkan Bagas sendiri ia tugaskan untuk menggantikannya. Aldi semakin leluasa karena tak ada tanda-tanda Alvi mengantar Avril.
Avril duduk di kursi tunggu dengan memainkan ponselnya. Ia tak menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.
"Sampai kapan kau akan menghindariku?" Mendengar suara Aldi, Avril terhenyak dan ia langsung mendongak menatap manik tajam yang mengarah padanya.
Sempat ingin beranjak, namun Aldi lebih cepat menahan Avril agar tetap duduk di tempatnya.
"Kenapa kau menghindariku Avil?" Kembali ia bertanya dengan tegas membuat Avril semakin panik. Belum sempat Avril melontarkan sebuah kata, sayangnya sebuah panggilan dokter mampu membuat Avril merasa lega.
"Maaf Al. Aku harus masuk." Ucapnya dengan terburu-buru. Aldi hanya bisa menghela nafas berat menyaksikan Avril berlalu dari hadapannya.
"Bagaimana aku bisa move on? Mengetahui kau dengan sengaja menghindariku saja aku sudah tidak tenang Avil. Jika boleh memilih aku ingin kau yang menjadi pengganti Syifa. Dan andai kata kita ditakdirkan bersama, mungkin sekarang aku bisa menemanimu masuk kedalam sebagai ayah dari janin yang ada di kandunganmu. Andai.. andai... andai kau tak bertemu dengan Alvi, mungkin kau bisa kembali padaku Avil." Batin Aldi yang tak memalingkan pandangannya dari pintu ruangan.
Didalam, Avril tak bisa menghentikan kegugupan dan detak jantungnya terus berdetak keras.
"Relaks ya bunda..." titah bu dokter dengan begitu ramah sehingga Avril bisa sedikit lebih tenang.
"Apa bunda ingat ini minggu keberapa?" Tanya bu dokter kemudian.
"Kalau tak salah minggu ke 8 dok." Jawab Avril kemudian menggigit bibir atasnya karena masih merasa gugup.
"Baiklah. Kita periksa." Setelah mengatakan hal itu, bu dokter langsung menempelkan transducer ke perut Avril dan dengan pelan menggerakkan untuk menemukan janin yang tumbuh di rahim Avril.
"Suami bunda tidak ikut?" Dokter itu terus bertanya untuk mencairkan kegugupan Avril yang jelas sangat terlihat.
"Tidak dok. Suami saya sedang bekerja." Jawabnya mulai terdengar tenang. Namun, beberapa kali bu dokter memeriksa, tak ada tanda-tanda janin di rahim Avril. Avril yang menyaksikannya pun merasa terkejut kemana calon anaknya? Mungkin itu yang langsung terlintas di benak Avril.
"Apa tak ada yang salah dok? Terakhir saya USG itu jelas terlihat meskipun sangat kecil." Protes Avril menampik fakta yang ia terima.
__ADS_1
"Bunda sendiri sudah melihat bagaimana saya memeriksanya. Bunda juga melihat tak ada tanda-tanda janin di rahim bunda. Dan maaf apakah bunda pernah mengalami pendarahan?"
"Sebelum melakukan USG terakhir kemarin, perut saya memang sempat sakit dan ada flek, tapi apa mungkin dok saya....." Avril tiba-tiba terhenti, ia tak sanggup mengutarakan kata menyakitkan yang tak pernah terbayangkan akan di alami seumur hidupnya. Dokter itupun ikut terdiam, bahkan ia pun tak tahu harus bicara atau tidak. Mungkin keguguran adalah mimpi buruk bagi semua ibu yang menantikan buah hati.
"Jika bunda ragu, bunda bisa memeriksa ke tempat lain. Takut jika alat kami yang--"
"Tak apa dokter. Terima kasih. Dan... apa saya boleh pulang?" Avril cepat menyela, bahkan ia tak sanggup mendengar suara dokter di depannya ini. Setelah dokter mengizinkannya pergi, Avril segera bergegas keluar dari ruangan. Ia termangu menatap Aldi yang masih ada di tempatnya. Aldi menggerakkan alisnya seolah bertanya kenapa dan ada apa. Avril hanya menggeleng dan langsung berlalu tanpa ingin menghampiri Aldi terlebih dahulu. Segera Aldi mengejar dan menyusul Avril untuk memastikan apakah Avril baik-baik saja atau tidak. Seberapa keras pun usaha Aldi untuk mengetahui keadaannya, Avril terus diam dan tak berniat membuka mulut. Ia hanya menangis tersedu-sedu sampai di pintu utama rumah sakit.
"Antarkan aku pulang Al." Lirihnya menarik ujung jas Aldi. Ia hanya bisa menurut tanpa tahu alasan Avril menangis. Hanya tebakan-tebakan negatif yang terus muncul di benaknya.
"Aku keguguran Al." Ucap Avril ketika mobil tengah melaju cepat menembus jalanan. Aldi mendadak lemas mendengar berita buruk yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Aku takut, Alvi akan kecewa padaku Al. Aku takut untuk pulang dan bertemu Alvi. Aku tak bisa melihat wajah kecewanya." Lirihnya terus terisak keras dan menutup seluruh wajah dengan tangannya. Kini Aldi yang memilih diam. Ia tak tahu harus bicara apa. Menguatkan dengan kata-kata saja rasanya tidak cukup.
"Alvi tidak seperti itu Vil. Aku yakin Alvi akan menerima kenyataannya. Dia sangat mencintaimu." Mungkin hanya kalimat itu yang bisa terlontar dari Aldi.
"Bagaimana jika kekhawatiranku terjadi Al."
"Kau tak mengerti."
"Iya aku tak mengerti."
Sampai di rumah Avril, Aldi memilih untuk kembali ke kantornya dan membiarkan Avril menghabiskan waktunya menangis seharian. Namun, siapa yang menyangka, bukannya menangis di kamar, Avril langsung mengambil kunci mobil dan bergegas pergi. Tanpa disadari, Aldi yang terfokus pada jalanan dan tak mengira Avril akan keluar dengan mobilnya, hanya melirik sesaat dan kembali acuh.
"Ray.... apa Alvi didalam?" Tanya Avril ketika sampai di depan ruangan Alvi.
"Masih di lantai 10 nona. Sedang ada tamu dari luar negeri." Jawab Ray dengan sangat sopan.
"Apa jadwalnya padat?"
__ADS_1
"Tidak terlalu nona."
"Kalau begitu atur jadwalnya denganku setidaknya 30 menit saja setelah Alvi kembali sekarang.!" Titah Avril jelas sangat tidak sabaran. Ray mengangguk ragu dan berpikir mengapa Avril begitu berbeda. Terlihat matanya begitu sembab dan wajahnya memerah menahan amarah dan tangis.
"Sebaiknya nona tunggu di ruangan tuan." 'Bam' baru satu detik Ray terdiam, matanya terpejam dengan paksa karena suara pintu yang di banting keras.
"Nona? Apa anda salah makan atau mengidam ingin memakan tuan Alvi?" Gumam Ray yang tak bisa menyembunyikan rasa herannya.
Selesai dari pekerjaannya, Alvi segera menuju ruangan saat ia melihat pesan dari Ray bahwa istrinya tengah marah di ruangannya.
"Sayang? Kenapa kesini?" Tanya Alvi setelah ia menutup pintu. Namun bukannya menjawab, Avril malah memeluk suaminya dengan erat dan kembali terisak keras.
"Kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Atau ada yang membuatmu kesal?" Pertanyaan beruntun Alvi lontarkan karena ia begitu khawatir pada sang istri.
"Apa kau akan meninggalkanku jika aku memberitahumu?"
"Jawab dulu jangan malah melempar pertanyaan tanpa menjawab."
"Tapi aku takut."
"Takut kenapa? Aku disini sayang. Katakanlah."
"Kau janji tak akan meninggalkanku atau selingkuh atau mencari yang lain?"
"Kau ini bicara apa? Aku tak mengerti. Kenapa aku harus selingkuh sementara aku punya istri sesempurna dirimu."
"Aku tidak sempurna Al."
"Bagiku kau sangat sempurna sayang."
__ADS_1
"Tak mungkin aku keguguran jika aku sempurna." Avril setengah berteriak sembari memperkuat cengkramannya pada jas Alvi. Alvi mematung seketika setelah mendengar berita buruk yang begitu tiba-tiba. Bagaimana bisa? Saat USG pertama, ia melihatnya sendiri ada calon anaknya di rahim Avril.
-bersambung