
Malam tiba, meski Sean sudah stay di meja bersama Aldi dan Dinda, namun ia tak henti-hentinya memikirkan Emira dan rasa ingin meminta maaf dalam hatinya semakin membuatnya gelisah. Ia sudah salah mengira pada Emira yang ia tuduh sebagai penculik anaknya.
"Sean. Kau baik-baik saja?" Tanya Aldi membuyarkan lamunan Sean.
"Iya kak. Aku perhatikan, dari tadi kakak melamun terus." Timpal Dinda pun merasa heran akan sikap Sean yang tak seperti biasanya.
"Al.... aku ragu bertemu dengan wanita pilihanmu itu." Ucap Sean tanpa menoleh sedikitpun pada Aldi.
"Tapi.. setidaknya--"
"Maaf aku terlambat. Sudah lama kah Al?" Tanya Emira yang tiba-tiba sudah berada di belakang kursinya yang tersedia di sana.
"Tidak kak. Kami baru sampai. Sekitar 5 menit yang lalu." Jawab Dinda beranjak dan memberi sapaan lewat pelukan pada Emira. Meski Emira sudah berada di sana, namun Sean masih tak a memalingkan pandangannya dari objek yang tengah ia lihat sekarang. Bayangan wajah gadis bernama Liana masih memenuhi pikirannya saat ini.
Emira berubah dingin saat ia menoleh dan mengenali wajah Sean. Meski tak tahu namanya, ia ingat jika Sean adalah pria yang kemarin menuduhnya sebagai penculik. Emira seakan engga duduk sehingga Sean menoleh ke arahnya dan hal itu berhasil membuat Sean mematung tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kak Emira. Kenalkan ini Sean. Dan Sean, kenalkan ini kak Emira." Ucap Aldi memperkenalkan nama mereka. Sean beranjak dan menatap sayu pada Emira yang memalingkan pandangan darinya. Terlihat sangat jelas jika Emira begitu membenci Sean.
"Liana." Lirih Sean membuat Aldi mengernyit heran.
"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Aldi sekedar memastikan perasaan dan tebakannya saja.
"Iya!" Jawab Sean, dan "Tidak!" Jawab Emira yang diucapkan secara bersamaan. Hal itu membuat Aldi semakin dibuat heran. Ia tak mengerti mengapa kedua orang di depannya menjawab dengan bertolak belakang.
"Yang satu Ya, dan yang satunya Tidak. Jadi mana yang benar?"
__ADS_1
"Iya!" "Tidak!" Tegas keduanya kembali serempak. Aldi dan Dinda saling melirik lalu menyuruh Sean dan Emira untuk duduk.
"Aku tak peduli kalian sudah mengenal atau tidak, yang jelas malam ini aku mengajak kalian bertemu hanya untuk mengenalkan kalian." Jelas Aldi membuat Sean menunduk, sedangkan Emira mengernyit tak mengerti.
"Maksudnya apa Al?" Terselip sebuah kekesalan di balik pertanyaan Emira yabg terlihat tak setuju dengan maksud Aldi. Sebenarnya Emira sudah paham arah Aldi membawanya bertemu dengan Sean.
"Kakak kan sudah bercerai dengan suami kakak itu, terus Sean juga bercerai lama dengan mantan istrinya, dan juga kebetulan anaknya sangat mengharapkan kasih sayang seorang ibu. Dan aku lihat, kakak sangat bersikap keibuan. Apalagi saat bermain dengan Rei." Mendengar penjelasan Aldi tersebut, Emira tersenyum miring seakan mengejek Aldi secara tidak langsung.
"Maaf. Sifat keibuanku itu hanya untuk MENCULIK anak kecil. Puas?" Kata terakhir itu sengaja Emira tegaskan dengan melirik pada Sean.
"Kalau aku tahu kau Emira, aku tak akan menuduhmu begitu. Dan kenapa kau memperkenalkan diri pada Xaviera dengan nama Liana?" ~Sean.
"Itu memang namaku." ~Emira.
"Liana. Em maksudku Emira. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak tahu kalau kau--" ~Sean.
"Jadi, maksud dari pertemuan ini apa Al?" Tanya Emira kemudian menoleh pada Aldi. Suasana mendadak menjadi canggung karena sikap Emira yang berubah dingin dan auranya sangat menekan.
"Aku hanya ingin mengenalkan kalian saja." Jawab Aldi terdengar seperti orang yang tidak yakin.
"Hanya mengenalkan?" Tanya Emira lagi.
"Lebih dari itu kak." Dan kini jawaban Aldi terdengar sangat pelan. Emira hanya menghela nafas berat menanggapi setiap jawaban Aldi.
"Oke. Aku mengerti maksudmu, Al. Aku menghargai maksudmu yang mungkin baik untukku. Tapi maaf, jika kau ingin aku dekat dengannya, atau lebih dari itu, aku menolak! Sekali lagi maaf. Permisi." Tutur Emira kemudian beranjak dari duduknya. Sean refleks ikut beranjak dan ia sendiri tak mengerti kenapa ia begitu. Ia rasa, tubuhnya bergerak dengan sendirinya meski lidahnya mendadak kelu. Melihat Sean yang tak bicara, Emira berlalu begitu saja, dan dengan cepat Dinda mengejar Emira yang masih enggan kembali dan memilih terus berjalan keluar area restoran.
__ADS_1
"Kak... kakak marah? Aku dan Aldi tidak berniat membuat kakak kesal. Kak... maafkan aku dan Aldi ya!" Rengek Dinda yang masih mengikuti langkah Emira. Tak di sangka, Emira berhenti lalu ia duduk di sebuah kursi yang terletak di taman depan Lobby Hotel.
"Din... maaf ya! Kakak mengacaukan acaranya." Lirih Emira menunduk merasa bersalah.
"Tapi sebenarnya ada apa dengan kakak dan Sean?" Tanya Dinda dengan penuh rasa penasaran. Dengan ragu, Emira mulai menceritakan kejadian kemarin pada Dinda yang mungkin mulai memahami situasinya.
"Hemmm Xaviera juga begitu padaku kak. Dia sangat merindukan kehadiran seorang ibu. Sejujurnya Sean sempat berniat melamarku, karena dia tak tahu aku dan Aldi sudah menikah." Jelas Dinda membuat Emira semakin luluh. Apa lagi sat Dinda menceritakan tentang ibunya yang tak kunjung menemui Xaviera, terlihat jelas jika Emira mulai membuka hati untuk dekat dengan Sean, meskipun alasannya hanya menjadi teman bagi Xaviera.
"Kalau kakak setuju, kakak jangan pikirkan Sean, tapi pikirkan saja Xaviera. Kakak kehilangan anak, dan Xaviera merindukan kasih sayang ibunya. Kalian akan saling melengkapi nantinya."
"Tapi... aku butuh waktu Din. Aku ingin sendiri dulu."
"Baiklah." Setelah Dinda menanggapi, Emira kembali beranjak dan segera pulang meninggalkan Dinda sendirian di sana. Dinda bergegas kembali ke meja Aldi dan menjelaskan pada Sean bahwa Emira tidak marah sama sekali padanya.
"Jadi, dia mantan istri Aulian?" Tanya Sean begitu terkejut.
"Aku juga tak percaya." Balas Aldi.
"Sekali lagi maaf Al. Aku sudah mengacaukan semuanya. Padahal kau sudah repot mempersiapkan untuk malam ini." ~Sean.
"Sudah tak apa. Aku akan bicara pada kak Emira nanti. Semoga saja dia akan mengerti. Lagi pula, jika kau ingin mendekatinya, dekati saja. Sekarang sudah tak ada saingan yang akan menghalangimu." ~Aldi.
"Aku belum ada niat mendekati wanita Al. Apalagi situasinya seperti ini. Mungkin aku akan langsung ditolak mentah-mentah." ~Sean.
"Tidak. Dari cara bicaranya, kak Emira tidak marah lagi. Bahkan dia sempat memikirkan Xaviera. Aku yakin, kalau kalian berkomunikasi dengan baik, kali ini Xaviera akan punya seorang ibu. Kak Emira itu wanita baik." Tutur Dinda menimpali sesaat setelah ia datang dan kembali bergabung dengan Sean dan Aldi.
__ADS_1
Bersambung