RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
93


__ADS_3

. Aldi mengunci pintu segera dan kembali menghampiri Dinda di ranjang. Mengetahui pintu terkunci, Dinda akhirnya leluasa membuka selimut dan ia beralih mengintimidasi Aldi lewat tatapan sinisnya yang tajam dan menusuk. Aldi yang mengerti arti tatapan itu hanya tersenyum lalu membalasnya dengan angkuh.


"Apa?" Tantang Aldi.


"Awas kau ya. Aku akan beri pelajaran." Ancam Dinda mendelik kesal kemudian beranjak dan Aldi secepatnya menarik tangan Dinda sehingga istrinya itu terjatuh ke dalam pelukannya. Dinda meronta-ronta ingin lepas dari Aldi, namun Aldi sesegera mungkin menyambar bibir Dinda dan membuatnya diam tak lagi melawan. Tangan Dinda sudah terlepas dari cengkraman Aldi, namun kini ia meraih pundak suaminya dan perlahan turun ke dada bidangnya. Aldi merasakan sesuatu yang tak bisa di ungkapkan. Ia perlahan membuka satu persatu kancing piyama Dinda dan masih bermain dengan bibir Dinda. Sampai saat Dinda ada di bawahnya, keduanya tanpa sadar sudah menanggalkan pakaian mereka. Aldi menatap dalam wajah Dinda yang terengah karena mulai sesak nafas. Wajahnya mendadak sendu meski sebenarnya wajah Dinda begitu menggoda. Apa lagi saat Dinda menggigit bibir bawahnya menahan rasa panas di tubuhnya.


"Syifa. Maafkan aku. Bukannya aku membagi cintamu." Batin Aldi seraya menyentuh Dinda dengan pikirannya yang terbayang pada Syifa. Meski Syifa sudah lama meninggal, dan perasaannya mulai memudar, namun, saat ia menyentuh gadis lain, rasanya Aldi sudah mengkhianati cinta Syifa untuknya.


. Malam sudah sangat larut, bahkan sudah mau memasuki waktu dini hari, dan Dinda masih terisak di dalam pelukan Aldi. Meski matanya terpejam, namun tangisnya masih terdengar.


"Aku sudah berapa kali meminta maaf. Jangan menangis! Ayolah maafkan aku." Bujuk Aldi terus memberi kecupan di dahi dan kepala Dinda seraya mengelus rambut Dinda dan membelai wajahnya.


"Aku bilang pelan ya harus pelan." Rengek Dinda seakan tak berniat menghentikan tangisnya.


"Iya maaf. Sudah aku bilang juga tadi."


"Apa? Kau tak mendengarkan aku."


"Aihh sudah. Pokoknya aku minta maaf."


"Tak mau. Aku tak mau memaafkanmu."

__ADS_1


"Tak boleh begitu. Kan tadi aku juga tanya dulu. Kau jawab iya."


"Tapi tidak begitu."


"Ya harus bagaimana?"


"Aku kan baru pertama kali. Harusnya kau mengerti aku itu tidak seperti Syifa." Mendengar nama Syifa, sejenak Aldi tak membalas perdebatannya dengan Dinda. Ia menghela nafas dalam sesaat lalu mengecup kening Dinda dengan begitu dalam.


"Sekarang, tak ada nama lain di hidupku selain dirimu. Jangan membawa masa laluku lagi, itu sudah berlalu. Aku hanya perlu mengingatnya, tapi tidak untuk terus di ungkit. Biarkan Syifa tenang di sana. Rei sudah bahagia bersamamu. Jadi, jangan lagi membahas masa lalu. Aku tak suka." Tutur Aldi menghentikan rengekan Dinda, bahkan isak tangisnya tidak lagi terdengar. Dinda memaksa menghentikan tangisnya seketika mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya. Benar! Sekarang Aldi adalah suami sahnya. Baik itu agama, dan negara. Nama mereka sudah tertera jelas di buku nikah. Dan juga, Dinda pun punya masa lalu.


"Maaf." Kini giliran Dinda yang meminta maaf lalu ia memeluk Aldi meski sesekali ia meringis menahan linu di bagian tubuhnya. Aldi tersenyum kemudian ia mendekatkan wajahnya pada telinga Dinda dan membisikkan sesuatu.


"Terima kasih ya!" Lirih Aldi menyelipkan sebuah kecupan di kepala, dahi dan pipi Dinda yang mulai terlelap.


Aldi menarik selimut yang hanya menutupi tubuh mereka sampai pinggang, kini ia tutupi sampai leher agar istrinya tidak kedinginan.


. Paginya, mentari sudah menampakkan sinarnya. Aldi mengerjap sesaat lalu ia melirik jam di dinding. Dengan santainya ia kembali memejamkan mata dan bahkan memeluk istrinya lebih erat. Namun, beberapa saat kemudian ia terbangun paksa dan kembali mengerjapkan matanya melihat dengan jelas pada jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 8:30.


"Meeting dengan investor!" Ucapnya dengan nyawa yang seperti melayang dari tubuhnya. Dinda yang samar mendengar Aldi mengumpat, ia perlahan menggeliat dan membuat selimutnya tersingkap. Aldi menghela nafas berat melihat Dinda yang sudah bangun dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bun. Ayah dulu ya yang mandi. Ayah buru-buru ada meeting. Ini juga sudah terlambat." Pinta Aldi mencoba untuk membujuk istrinya yang berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Tidak boleh! Aku dulu." Tegas Dinda terus berusaha berjalan dan ia tak ingin memberi kesempatan pada Aldi yang mungkin akan merebut kamar mandi darinya. Tanpa di duga, Aldi beranjak dan saat itu juga Dinda langsung menutup matanya dengan paksa.


"Tidak tahu malu." Cetus Dinda seraya terus berjalan, dan tiba-tiba tubuhnya melayang sehingga ia membukanya ingin mencari tahu. Dan benar saja, Aldi membawanya masuk bersama ke dalam kamar mandi, lalu ia di turunkan di bathtub.


"Mau air hangat." Rengek Dinda saat Aldi hendak mengisinya dengan air bersuhu normal. Aldi menyingkapkan selimut yang masih membalut tubuh istrinya lalu ia mengisi bathtub dengan air hangat sesuai permintaan dari istri tercinta. Dinda memalingkan wajahnya dari Aldi seraya menutupi bagian khusus dari tubuhnya.


"Kenapa di tutupi?" Tanya Aldi berbisik dengan bersandar santai pada bathtub tanpa busana.


"Ya karena aku punya malu. Tidak sepertimu." Batin Dinda dengan wajah yang semakin memerah.


"Disini, disini, disini, dan disini." Dinda terhenyak saat tiba-tiba Aldi menyentuh bagian-bagian tubuh yang ia beri tanda dan menunjukkannya sendiri. Dinda bukannya tak tahu dan tak sadar, namun ia memilih diam karena sudah malu pada Aldi.


"Mau disini?" Kembali Aldi berbisik dan kali ini wajah Dinda sudah merah padam, dan dengan tak di duga, Dinda menampar Aldi dengan keras.


"Dasar laki-laki tidak tahu malu. Kenapa kau begitu santai tak memakai baju di depanku?" Pekik Dinda dengan nafas yang terengah.


"Aih kenapa malu? Ada dua alasan yang tak bisa kau pungkiri mengapa aku santai begini. Pertama, kita sudah menikah. Kau istriku, dan aku suamimu. Dan kedua, bukankah kau sudah melihat semuanya? Dan aku pun sama. Dan tanda itu buktinya." Dinda benar-benar di buat terbungkam oleh jawaban Aldi. Ia tak bisa mengelak dengan kedua alasan itu yang logis dan masuk akal. Terlebih lagi adanya tanda tanpa nama yang di buat Aldi di sembarang tempat. Ia sendiri terlalu malu untuk mengakui nya. Mendadak Dinda terdiam, ia mengingat panggilan dirinya dan Aldi beberapa saat yang lalu.


"Ayah bunda? Apa aku tak salah dengar? Ayah?" Batinnya kemudian melirik sinis pada Aldi.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2