RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
08


__ADS_3

. Hadi menggebrak meja kerjanya saat para bawahannya tidak menemukan Emilio. Ia mengira bahwa Dinda memang di bawa kabur oleh pacarnya itu. Namun, salah satu bawahan memberitahu bahwa Dinda pergi ke kota J dan tidak ada nama Emilio di setiap daftar penumpang pesawat. Mereka hanya menemukan nama Dinda saja. Meski begitu, Hadi masih merasa khawatir karena jarak antara kota mereka begitu jauh.


Hadi kemudian memutuskan untuk mengutus beberapa bawahan untuk menemui Dinda dan membujuknya pulang.


. Waktu kembali berlalu, tanpa disadari, semakin lama, Avril dan Dinda menjadi teman dekat. Suatu hari, Dewi menyuruh Aldi untuk mengambil pesanan bunganya dari Dinda. Karena cerita Avril tentang Dinda, Dewi merasa sedikit bersemangat untuk membuat Aldi dan Dinda menjadi dekat.


Tapi, bukannya menuruti perintah Dewi, Aldi malah menyuruh Avril untuk mengambilnya.


"Maaf Al.... Alvi sedang sakit, jadi aku tak bisa meninggalkannya. Katakan saja itu pesanan mama Dewi." Ucap Avril menjelaskan agar Aldi mengerti situasinya.


"Huffttt ya sudahlah." Aldi pasrah dan menghela nafas berat menanggapi permintaan maaf Avril.


Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Aldi bergegas menuju toko bunga yang di maksud Avril. Saat ia turun, semua karyawan Dinda langsung mematung menatap Aldi dengan tanpa berkedip.


"Permisi... saya mau mengambil pesanan." Ucapnya tak mengubah keadaan yang menjadi hening karena kehadirannya.


"Permisi.... mbak...!" Aldi melambaikan tangan dan membuyarkan tatapan semua karyawan Dinda.


"Ma-maaf tuan... pe-pesanan yang mana?" Tanya salah seorang dengan gugup. Saat Aldi menyebutkan pesanan yang dimaksud, Dinda berjalan menghampiri Aldi yang termangu menatap Dinda.


"Eh? Tuan Aldian?" Sapa Dinda dengan ragu.


"Saya buru-buru. Bisakah anda memberikan pesanan saya sekarang?" Tanya Aldi begitu dingin hingga memudarkan senyum di wajah Dinda. Ia kembali ke dalam dan memberikan pesanan Dewi dengan masih bersikap sopan. Aldi beranjak melangkahkan kakinya tanpa berkata apapun karena Avril bilang bunga ini sudah dibayar.


"A-anu... tuan... terima kasih atas penginapannya tempo hari." Ucap Dinda menghentikan langkah Aldi dan berhasil membuatnya menoleh namun tidak merubah tatapannya yang dingin. Lalu, Aldi kembali melanjutkan langkahnya dan memasuki mobil. Ia bergegas melajukan mobilnya menembus jalanan dengan cepat.


Sepeninggal Aldi, saat Dinda hendak memasuki toko, sebuah mobil berhenti dan beberapa orang berpakaian hitam berjas rapi menghampiri Dinda. Dinda berbalik dan mendapati para bawahan ayahnya yang menyeret dirinya dengan paksa keluar dari toko.

__ADS_1


"Lepaskan aku..." teriak Dinda meronta-ronta agar ia dilepaskan meskipun mustahil.


"Jika aku terluka, aku pastikan kalian dipecat." Lagi, teriakan Dinda yang sia-sia memekik telinga.


"Nona harus ikut dengan kami kembali ke kota S." Tegas seorang bawahan yang paling kecil badannya namun yang paling ditakuti di divisinya.


"Tidak Andra. Aku tidak mau." Pekik Dinda menatap tajam pada Andra.


"Kak Dinda...." panggil Nisa dengan berlari membawa sapu untuk mencoba menyelamatkan majikannya. Namun, tetap saja, tenaga Dinda tak cukup kuat melawan dua bawahan yang mencengkram kasar lengannya.


Suara pelayannya kian menghilang saat mobil melaju cepat meninggalkan toko miliknya.


. Ponsel Aldi berdering dan menampilkan nomor tanpa nama tertera di layarnya. Seingatnya ini adalah nomor toko bunga yang baru ia tinggalkan.


"Hallo." Ucapnya masih dengan nada dingin.


"Tu-tuan tolong.... tolong kak Dinda. Sa-saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, karena tuan satu-satunya pelanggan pria yang kami tahu, jadi saya--"


"Kak Dinda, dia diculik tuan. Saya mohon tolong dia... mereka membawa kak Dinda ke arah tuan pergi, mungkin tuan--" belum selesai Nisa menjelaskan, Aldi menutup panggilannya saat ia melihat Dinda yang membuka kaca mobil tepat ketika mobil mereka berdampingan dan mobil bawahan Hadi menyalip Aldi. Segera Aldi menghubungi Bagas untuk menyusulnya ke titik dimana ia berada.


"Kau dimana Al?" Tanya Bagas yang terdengar keheranan.


"Sudah. Jangan banyak tanya. Kau datang saja. Bawa anak buahmu sekalian." Ucapnya yang langsung menutup panggilan. Mendapati Aldi yang terdengar panik, segera Bagas menyusul Aldi mengikuti arah kemana Aldi pergi.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita." Ucap Andra sesaat setelah menoleh ke belakang dan masih mendapati mobil Aldi berada di belakangnya. Kemudian Aldi mempercepat laju mobilnya dan menghalangi jalan sehingga bawahan Hadi menghentikan mobil dengan mendadak. Terlihat kedua mobil itu bersentuhan dan menyisakan sebuah goresan di mobil Aldi. Aldi turun dan tak membiarkan mereka pergi. Andra yang santai menghampiri Aldi dengan wajah dinginnya.


"Maaf tuan. Apa ada masalah? Mengapa tuan menghalangi jalan kami?" Tanya Andra bersikap seolah ia tak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Lepaskan gadis yang kau bawa." Tegas Aldi tak membuat Andra merasa terintimidasi. Sebaliknya, ia hanya merasa lucu bertanya-tanya siapa pria yang ada didepannya ini?


"Anda siapa dan mengapa anda berusaha menyelamatkan dia?" Tanya Andra menunjuk Dinda yang menatap harap pada Aldi. Belum sempat Aldi menjawab, Bagas dan anak buahnya sampai dan mengepung mobil Andra.


"Anda cepat bertindak rupanya." Ucap Andra menyeringai sinis.


"Lepaskan, atau kalian kami bawa ke pihak berwajib?" Tegasnya menekan dengan kedok negosiasi. Andra memberi kode agar bawahannya melepaskan Dinda dan membiarkan Dinda beralih ke belakang Aldi. Kemudian Andra tersenyum sinis dan berlalu dari sana dan meninggalkan sekelompok orang yang mengepungnya.


Aldi berbalik dan mendapati Dinda yang masih ketakutan. Ia melihat tangan Dinda yang merah akibat cengkraman mereka yang terlalu kuat. Dan terlihat sedikit goresan karena Dinda berontak.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Aldi menatap datar pada Dinda yang mulai pucat.


"Saya baik-ba--" belum selesai menjawab, Dinda terhuyung dan terlelap di pangkuan Aldi. Mungkin karena rasa takut dan panik yang berlebih membuat Dinda pingsan.


"Al..." panggil Bagas menghampiri Aldi yang menggendong Dinda dan membawanya ke dalam mobil. Segera ia menuju rumah sakit karena ia takut terjadi apa-apa pada gadis yang membuat jantung nya mendadak berdebar setelah Syifa dan Avril. Entah itu karena ia baru pertama kali menyentuh wanita setelah kepergian Syifa, atau karena ia ikut panik dalam kondisi Dinda yang tiba-tiba pingsan. Aldi memperhatikan wajah Dinda yang berada di pangkuannya saat ini. Ia merasa yang sedang terlelap ini adalah Syifa. Kenangan Syifa yang selalu tidur di pangkuannya seperti ini mulai berputar-putar kembali di benaknya. Tanpa sadar, air matanya menetes dan ia mengusap dahi hingga pangkal rambut Dinda dengan lembut.


"Al.... siapa mereka?" Tanya Bagas dari kursi kemudi berhasil membuyarkan lamunan Aldi.


"Aku tidak tahu." Jawab Aldi memalingkan wajahnya.


"Dan bukankah dia gadis yang kita temui di pesawat?" Tanya Bagas kemudian.


"Iya." Jawab Aldi singkat. Mendengar sesingkat itu, Bagas tak lagi bertanya karena tahu bagaimana Aldi.


. Sampai mereka di rumah sakit terdekat, segera Aldi membawa Dinda dalam pangkuannya. Bagas melihat kekhawatiran Aldi sama ketika Syifa akan melahirkan dulu. Mungkin Aldi merasa ini seperti saat itu.


"Tenang Al... dia baik-baik saja." Ucap Bagas menepuk pundak Aldi dan mencoba menenangkannya. Setelah diperiksa, dokter memberitahu bahwa Dinda baik-baik saja dan kebetulan sudah bangun. Segera Aldi menghampiri Dinda dan menatapnya begitu dalam.

__ADS_1


"Syifa..." lirihnya membuat Dinda menyernyit heran.


-bersambung


__ADS_2