RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
98


__ADS_3

. Setelah Dinda sampai di rumah Avril, ia langsung di persilahkan masuk oleh bu Rumi. Terlihat Avril tengah duduk santai di ruang keluarga dengan mengelus perutnya seraya memperhatikan Reifan yang bermain bersama Ravendra. Dinda memberikan bingkisan yang berisi camilan untuk Avril, kemudian ia beralih duduk di samping mertuanya yang tak jauh dari tempat Avril diam.


"Bunda... mau itu." Teriak Reifan berlari menghampiri Dinda lalu menunjuk makanan yang ia bawa.


"Itu punya mommy sayang." Jawab Dinda mencoba membujuk agar Reifan mengerti.


"Tak apa. Sini Rei! Mau kan?" Ujar Avril seraya memanggil Reifan agar menghampirinya.


"Aihhh Rei..." keluh Dinda merasa tidak enak hati pada Avril. Ia yang membeli, namun Rei juga yang ikut makan.


"Kenapa Din? Bukankah kau membeli ini untuk di makan, tidak untuk di pajang bukan?"


"Iya memang... tapi..."


"Rei itu Putraku juga. Apa salahnya?"


"Ahh maaf bukan maksudku begitu Avril. Hanya saja... yahhh tapi kau benar. Rei itu putramu juga." Ucap Dinda mengalah pada perdebatannya. Ia tak cukup mengutarakan kata jika menyangkut ikatan Avril dan Reifan.


Ketika tengah berbincang dengan Avril dan Dewi, Dinda tiba-tiba mendapat sebuah telepon dari Nisa yang mengharuskan ia untuk ke toko. Dengan tergesa, Dinda bersiap untuk pergi dari rumah Avril.


"Bunda... Eifan ikut." Teriak Reifan berlari mengejar Dinda yang sudah berlalu sampai ruang tamu.


"Aih Rei. Kau mau ikut bunda?" Protes Dewi yang ikut menyusul cucunya mengejar Dinda.


"Iya Oma. Eifan mau ikut bunda." Jawab Reifan dengan serius lalu meraih tangan Dinda dan mulai mengajak ibu tirinya itu berlalu dari sana.


"Dadah Oma... dadah Mommy...." teriak Reifan selanjutnya seraya terus menarik tangan Dinda memasuki mobil. Avril yang tersenyum sembari melambaikan tangannya membiarkan Reifan pergi dengan Dinda.


. Di pertengahan jalan, Dinda yang masih terpikir pada makanan yang ia bawa untuk Avril, bukankah di inginkan oleh Reifan? Karena jalurnya yang melewati toko kue, Dinda memutuskan untuk membeli beberapa camilan untuk Reifan. Dinda turun dari mobil dan meninggalkan Reifan dengan supirnya. Ia membujuk agar Reifan tak ikut karena ia tak akan lama.

__ADS_1


"Mbak. Tolong yang ini ya!". Ucap Dinda bersamaan dengan seseorang di sampingnya. Mendengar suara berat pria itu, Dinda melirik sekilas lalu tersenyum kaku ketika si pria sama-sama melirik ke arahnya.


"Anda saja. Silahkan." Ucap Dinda yang memilih untuk mengalah.


"Apa tak masalah jika saya ambil?"


"Tidak Tuan. Tak apa. Emmm Mbak! Kue yang ini masih ada?" Dengan santun, Dinda bertanya pada pelayan.


"Maaf Nona. Sudah habis, dan hanya itu saja yang tersisa." Mendengar jawaban pelayan toko, Dinda menjadi bimbang memilih kue yang akan ia beli.


"Bagaimana ini? Rei paling suka dengan kue itu. Apa dia akan suka jika aku beli yang lain? Ahhh rasa berry saja mungkin." Batin Dinda seraya memilih kue apa yang akan ia beli akhirnya.


"Mbak. Yang ini saja." Dinda kembali menunjuk kue mana yang hendak ia beli.


Setelah melakukan transaksi, Dinda kembali tersenyum ramah ketika ia mendapati pria tadi masih ada di dalam toko.


"Maaf tadi kue nya saya ambil. Sepertinya anda sangat menyukai kue itu"


"Oh tak apa Tuan. Saya sudah menemukan penggantinya."


"Bukannya saya tidak mau mengalah, hanya saja itu kesukaan Putri saya." Kembali Dinda tersenyum menanggapi ucapan pria asing di depannya.


"Dia pikir Putraku juga tidak menyukainya?" Batin Dinda perlahan memudarkan senyum lalu berpamitan untuk segera pergi dari sana. Setelah kepergian Dinda, Sean tersenyum lalu ia beralih menghampiri Putrinya yang tengah bersama pengasuhnya.


"Ayah... tadi siapa?" Tanya Xaviera dengan polos.


"Tadi ayah membeli ini, dan ternyata kakak itu juga sama-sama mau beli."


"Hemmm seperti Bunda ya! Avi jadi rindu Bunda." Mendengar ungkapan Putri kecilnya, Sean mendadak sendu. Ia melihat secercah harapan dari tatapan Xaviera pada Dinda yang seakan menginginkan Dinda di sampingnya.

__ADS_1


"Sudah yu. Kita ke hotel. Pasti Aunty sudah menunggu." Sean memilih untuk mengajak Xaviera ke hotel dengan harapan Putrinya ini tidak terlarut dalam pikirannya karena terlalu merindukan ibunya yang sudah meninggalkannya sejak lama. Memiliki mantan istri yang bekerja sebagai model, membuat Sean merasa tidak pernah memiliki seorang istri. Ia hanya merasa mendapatkan seorang anak dari orang asing yang sudah meninggal. Ia menceraikan Ivana ketika Xaviera masih berusia 1,5 tahun. Ivana pergi di saat Xaviera tengah membutuhkan kasih sayangnya, dan sampai sekarang ia tak pernah memperlihatkan sehelai rambutnya pun pada Sean dan Xaviera. Menurut penelusuran dari asisten Sean, Ivana kini tengah berada di negara besar Amerika Serikat dan bekerja sebagai model di sana.


Pikirannya tak lepas dari Dinda, dan ia pun merasa heran mengapa Xaviera mengatakan hal itu ketika melihat Dinda. Padahal jika di pikirkan, usia terakhir Xaviera bersama Ivana saja masih terhitung mustahil jika Xaviera ingat. Meski demikian, ia akui jika memang Dinda mengingatkannya pada Ivana.


. Sampai di toko bunga miliknya, Dinda segera membawa Reifan ke ruangan pribadinya. Di sana ia membuka bingkisan berisi kue yang ia sendiri ragu Reifan akan memakannya atau tidak.


"Ini kue apa Bunda?" Tanya Reifan dengan polos menunjuk kue yang menurutnya begitu asing.


"Coba di rasa Rei. kue kesukaanmu habis, jadi bunda beli ini saja." Dengan menurut, Reifan mencicipi kue tersebut meski sedikit ragu. Namun setelahnya Reifan terlihat berbinar lalu melahap kuenya sedikit lebih besar.


"Pelan-pelan Rei. Nanti tersedak." Tegur Dinda seraya meraih Reifan yang tak bisa mengendalikan dirinya.


"Enak Bunda. Eifan suka." Ucapnya sembari mengunyah sehingga ucapannya tersebut tak jelas terdengar.


"Syukurlah kalau suka."


"Bunda... Aaaaa" Reifan menyodorkan kue ke depan Dinda, dan Dinda sendiri kemudian melahapnya sehingga Reifan tertawa kecil karenanya. Dinda terdiam, ia merasa bahwa Reifan benar. Kue itu terasa lebih enak dari kue kesukaan Reifan sebelumnya.


Ditengah keasyikannya mengemil bersama Reifan, Nisa memanggilnya dari luar dan mengatakan bahwa ada pembeli yang memesan rangkaian bunga buatan pemilik toko. Dinda segera menghampiri Dinda dan meninggalkan Reifan sendiri di dalam ruangan.


"Maaf Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Mendengar suara Dinda di belakangnya, Sean berbalik lalu menatap Dinda dengan tatapan yang berbinar.


"Hai... kau pemilik toko nya?" Dan Dinda hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Sean. Tak ingin kehilangan kesempatan, Sean mengulurkan tangan ke depan Dinda.


"Sean." Ucapnya.


"Dinda." Balas Dinda pun menjabat tangan Sean yang tersenyum karena kembali bertemu dengan Dinda.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2