
Aldi masih berlutut di hadapan Avril dengan menunduk lesu. Rasanya bicara pun akan sia-sia saja sebab ia adalah orang yang paling bersalah. Bahkan ia sendiri mengakui jika dirinya tak pantas disebut seorang ayah oleh Reifan. Aldi menoleh perlahan pada Alvi yang tengah menimang Zeeya di kamar tamu. Sungguh pemandangan yang sangat membuat iri. Ia semakin merasa bersalah pada Avril yang sedari dulu begitu menyayangi Reifan layaknya anak sendiri.
"Sebaiknya kau pergi! Aku sudah tak ingin melihat wajahmu lagi. Bawa jauh-jauh anakmu, jangan pernah kau pertemukan aku dengannya lagi. Jangan pernah kau ingatkan Rei tentangku lagi. Dan jangan pernah--"
"Cukup Avil. Cukup! Sudah jangan di teruskan. Aku sudah cukup merasa bersalah. Jadi aku mohon, jangan bicara begitu."
"lalu? Aku harus bicara bagaimana?"
"Sungguh aku minta maaf Avil." Avril tak langsung menanggapi ucapan Aldi tersebut, ia menghela nafas dalam sesaat dengan masih menatap datar pada Aldi.
"Apa kau tak punya otak Al?" Sontak Aldi langsung terhenyak mendengar suara dingin Avril yang terasa membekukan suasana. Aldi merasa direndahkan, ia beranjak dan membalas tatapan Avril tak kalah tajam.
"Avril. Jangan karena aku bersedia berlutut di hadapanmu, lalu kau seenaknya merendahkan aku begini."
"Kau merasa direndahkan? Kalau begitu, cepat pergi dari rumahku. Aku tak rela rumahku ini di pijak oleh orang gila sepertimu. Aku menyesal sudah membantumu membesarkan Rei. Aku juga menyesal sudah bersedia menjadi ibu pengganti untuknya. Kalau tahu begini jadinya, aku tak akan mau menggantikan peran Syifa, dan seharusnya aku membiarkanmu menderita sendirian saja. Cih.. aku heran, kenapa Baren masih bertahan denganmu. Aku yakin mereka juga sudah muak denganmu."
"Cukup Avril! Aku tak tahu masalahmu apa sebenarnya. Kau marah karena panggilan Rei yang berubah padamu, atau kau memang membenciku karena hal lain?" Namun, Avril hanya mendelik menghindari kontak mata dengan Aldi. Ia tak tahu juga harus mengatakan apa yang terus memenuhi pikirannya sampai ia sendiri merasa kesal pada Aldi.
Melihat keributan di ruang tengah, Alvi segera memberikan putrinya pada Siska yang ia panggil lewat pelayan lain. Dengan cepat, Alvi menghampiri Aldi dan istrinya yang membuat suasana kian mencekam. Apa lagi saat ini Aldi terlihat seperti tengah marah pada Avril. Dan saat itu juga, Alvi langsung merangkul pundak Avril agar keduanya tak sampai lebih jauh. Alvi membawa Avril memasuki ruangan lain, sedangkan di sana Aldi merasa bahwa hadirnya benar-benar sudah terlupakan.
Melihat betapa acuhnya Alvi, Aldi memutuskan untuk pergi dari rumah presdir perusahaan D itu. Di perjalanan, ia menatap kosong ke arah jalanan yang kebetulan sedang padat merayap.
"Syifa.. aku harus apa? Keputusanku menjauhkan Rei dari Avril itu benar kan? Aku tak ingin Avril kerepotan karena Rei, kau tahu sendiri Avril sudah merawat Rei semenjak kepergianmu. Sekarang, Avril sudah memiliki anak, dan aku hanya ingin meringankan bebannya saja. Lalu dimana letak salahnya?" Lirih Aldi berbicara sendiri di dalam mobil. Tak lama dari itu, ponselnya berbunyi dan berhasil membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Hallo Ayah." Ucapnya setelah menggeser layar sebagai penerima panggilan.
"Al... Ibu mertuamu dan Yasmin akan ke rumahmu. Mereka sudah sampai di bandara. Bisakah kau menjemputnya? Atau supirmu? Ayah tadi meneleponmu, tapi tak ada jawaban." Mendengar ucapan Hadi dari seberang, saat itu juga Aldi melihat bagian atas layar ponselnya, dan benar saja, ada sebuah notifikasi panggilan tak terjawab. Dan saat ia memastikan dari siapa saja, ia memijit dahinya pelan saat melihat nama Ayah mertuanya.
"Maaf Ayah. Tadi ponselku tertinggal di mobil."
"Ya sudah tak apa. Yang penting sekarang sudah tersampaikan. Dan tadi Ayah menelepon Dinda, tapi tidak di jawab. Apa Dinda baik-baik saja?"
"Saat aku tinggalkan tadi, dia baik-baik saja, Ayah."
"Syukurlah. Tolong jaga ya! Meskipun Ayah sudah sangat mempercayaimu, tapi terkadang Ayah juga khawatir dan merindukannya."
"Iya Ayah. Pasti! Aldi pasti melindungi Dinda."
"Dan kau juga. Jangan memaksakan bekerja. Jaga kesehatanmu. Untuk sekarang, kau harus banyak istirahat."
"Tak apa nak. Kebetulan juga Ayah ada rekan bisnis yang bersedia memberikan saham dalam jumlah besar." Sontak Aldi terkejut mendengar apa yang di katakan Hadi. Rekan bisnis? Siapa? Apa mungkin Alvi? Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul di benak Aldi saat ini.
"Dari luar negeri?"
"Bukan." Jawab Hadi dengan tanggapan yang sangat mudah ditebak. Aldi tahu kalau saat ini Hadi tengah merasa gembira dengan kabar yang sedang ia dapatkan.
"Siapa? Apa aku kenal?" Tanya Aldi sudah tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Apa kau kenal pengusaha muda bernama Sean Alfa Danish? Pemilik perusahaan terbesar di kotanya. Ayah merasa beruntung bisa bekerja sama dengannya, Al. Aya berencana untuk mengajukan kerja sama antara kah dengan Sean. Bagaimana?" Tanya Hadi dari seberang, setelah ia menjelaskan alasan kegembiraannya. Sedangkan Aldi hanya diam membisu mendengar kabar baik yang disampaikan Hadi padanya. Namun baginya, ini merupakan kabar buruk, sebab ia tahu Sean tengah mengincar istrinya.
"Ayah... ada yang ingin aku bicarakan. Tapi aku merasa tidak sopan jika lewat telepon." Hadi yang semula tersenyum sumringah pun mendadak memudarkan senyumnya tatkala mendengar ucapan Aldi yang begitu serius.
"Ada apa Al? Apa ada sesuatu? Kau dan Dinda baik-baik saja kan? Perusahaanmu juga tak ada masalah kan?" Pertanyaan beruntun itu berhasil terucapkan dari Hadi yang mendadak khawatir pada kondisi Putri dan menantunya.
"Ada beberapa masalah, tapi itu tidak besar, Ayah. Hanya salah faham saja."
"Kau dan Dinda bertengkar?"
"Tidak Ayah. Aku dan Dinda baik-baik saja. Tapi aku ada masalah dengan Alvian."
"Baiklah. Nanti kalau pekerjaan Ayah sudah selesai, Ayah akan menyusul Ibumu ke sana."
"Baiklah Ayah. Kalau begitu Aldi tutup teleponnya. Aldi akan menjemput Ibu dan Yasmin ke bandara."
"Terima kasih nak." Setelah kalimat itu terucap, sambungan telepon akhirnya terputus, dan Aldi merubah arah tujuannya menuju bandara.
Sampai di bandara, Aldi melihat Ibu mertua dan adik iparnya sudah menunggu.
,"Bu. Maaf Aldi baru mendapat kabar."
"Tak apa nak. Ibu dan Yasmin belum lama sampai." Dengan lembut, Salma menepuk bahu Aldi untuk meyakinkan agar Aldi tidak merasa bersalah. Ketiganya kemudian berlalu meninggalkan bandara menuju kediaman Aldi.
__ADS_1
Di samping itu, Dinda dan Dewi tengah menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Salma.
Bersambung