RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
61


__ADS_3

. Beberapa hari kemudian, Avril yang sudah mulai pulih kini mendatangi toko Dinda. Dinda yang merasa merindukan Avril pun langsung memeluk Avril dengan erat.


"Kau kemana saja? Mengapa nomormu tidak bisa di hubungi?" Keluh Dinda terdengar kesal namun terharu.


"Maaf... ponselku rusak karena kecelakaan kemarin."


"Tapi syukurlah kau baik-baim saja. Apa yang sakit? Dan sebenarnya kecelakaan apa Avril? Apa lukamu fatal?" Mendengar pertanyaan beruntun dari Dinda, Avril menggeleng seraya tersenyum.


"Tak ada yang fatal Din. Hanya saja kemarin kaki yang sempat patah, tulangnya retak lagi. Tapi sudah di tangani oleh dokter, dan sekarang hanya menunggu pulih saja. Dan tenggorokanku baru sembuh."


"Tenggorokan? Kau panas dalam?"


"Tidak Dinda. Bukan panas dalam. Tapi di-- oh maksudku memang sakit." Jawaban Avril yang satu ini sedikit menimbulkan kecurigaan Dinda. Ia merasa Avril tengah menyembunyikan sesuatu. Seketika Dinda meraih kedua bahu Avril dan menatapnya begitu lekat.


"Katakan Avril. Sebenarnya kau kenapa? Kau berkata demikian, tapi matamu tidak. Ada yang kau sembunyikan dariku. Avril, kau teman dekatku di kota ini, jika kau tak memberitahuku masalahmu, aku merasa tidak di anggap olehmu." Tutur Dinda membulatkan mata Avril. Avril merasa yang di hadapannya ini adalah Syifa. Bukan Dinda.


"Ah Din. Kau mengingatkanku pada temanku. Kalian terasa sama, tapi jelas berbeda. Din... apa kau punya pacar?"


"Avril. Jangan mengalihkan pembicaraan!"


"Tapi aku serius... apa kau punya pacar? Bagaimana dengan yang kemarin kamu ceritakan? Apa kalian akan menikah? Atau putus? Kalau kau belum juga mendapat kepastian, sebaiknya kau menjadi istri temanku saja. Aku yakin kau akan bahagia dengannya, tapi sayangnya dia duda yang di tinggalkan oleh istrinya. Dan dia punya anak kecil. Aku tak yakin kau mau." Ucap Avril panjang lebar mengoceh sendiri. Yang semula melemparkan pertanyaan beruntun, namun akhirnya malah mengeluh dengan sendirinya.


"Avril. Orang yang dekat denganku juga seorang duda dan dia punya anak. Tapi jika aku menerima tawaranmu sementara aku dan dia masih dekat, rasanya itu jahat Avril. Apa lagi aku dan anaknya sudah dekat. Meskipun selalu memanggil nama ibu lain yang tidak aku tahu siapa dia." Kini giliran Dinda yang ikut mengeluh.


"Kalau begitu dengan temanku saja. Anaknya baik, pintar, dan kau pasti menyukainya. Sudah aku duga kalau kau bersikap keibuan Dinda. Dan dari awal aku sudah yakin jika dia bersamamu, dia dan anaknya akan merasa senang."

__ADS_1


"Maaf Avril. Tapi aku ingin memastikan ucapannya dulu. Jika tidak terbukti, aku akan coba menerima tawaranmu. Tapi bukan berarti aku wanita gampangan ya? Aku melakukannya karena aku tak ingin di jodohkan oleh ayah."


"Aih? Kau mau di jodohkan?" Tanya Avril kini terlihat penasaran.


"Iya. Dan kami membuat perjanjian. Jika aku punya pacar, maka perjodohannya batal. Tapi jika aku tidak punya pacar, maka dengan terpaksa aku harus menerima perjodohan dari ayah. Ahhhh Avril aku tak mau menikah dengan orang yang tidak aku kenali. Kata ayah, dia juga duda. Kenapa hidupku di kelilingi duda Avril?" Kali ini, Dinda lebih terdengar geram dan kesal sendiri. Ia seperti tengah menyalahkan hidupnya yang di kelilingi seorang duda.


"Mau perjaka? Ada. Aku masih punya teman lain."


"Sudah Avril.. jangan lagi menawari ku laki-laki yang tidak aku tahu."


"Hahaha baiklah." Avril terus tertawa seakan mengejek Dinda. Sementara Dinda sendiri hanya protes namun keduanya tetap berdebat perihal masalah tersebut.


"Avril. Aku ingin mengenalkan dia padamu. Kapan kau ada waktu luang?" Tanya Dinda saat keduanya berada di ruang pribadi Dinda.


"Wahhh kau beruntung Avril. Justru aku mau punya suami seperti itu. Dia dingin pada wanita lain, tapi sangat manis pada istrinya sendiri." Mendengar hal itu, Avril hanya tertawa kecil menanggapi. Ia malah mengingat tingkah menyebalkan Alvi bukan tingkah manisnya.


"Emmm nanti aku tanya suamiku dulu kapan dia luang ya." Tutur Avril kemudian.


"Baiklah. Tapi pastikan kau tak merusak ponselmu lagi ya." Ucap Dinda dengan sedikit menyindir Avril yang terkekeh dan menutupi wajahnya.


. Singkatnya, menjelang sore Avril yang sudah berada di rumah pun hendak meminum vitamin untuk kehamilannya. Namun, ia terlupa bahwa vitamin itu sudah habis. Dengan mengeluh, Avril meminta Alvi untuk pulang cepat atau setidaknya Alvi bersedia membelikan vitamin untuknya.


"Maaf sayang. Aku masih ada jadwal meeting lagi. Ini lebih penting. Tentang proyek itu. Kau tahu kan keuntungannya sebesar apa?" Ucap Alvi di seberang telepon.


"Ya sudah Al. Tak apa. Aku akan minta Bagas saja siapa tahu dia sedang tidak sibuk."

__ADS_1


"Baiklah. Hati-hati ya! Dan katakan kalau dia bawa mobilnya seperti di kejar hantu, nanti aku hajar dia." Sontak Avril tertawa mendengar ucapan Alvi yang berubah geram saat mendengar nama Bagas. Meski demikian, ternyata yang meminta Bagas mengantar Avril itu Alvi sendiri, ia segera menghubungi Bagas sebelum Avril menghubungi lebih dulu. Avril berdecak kesal karena nomor Bagas sedang sibuk. Tak lama, terlihat Alvi kembali meneleponnya dan mengatakan bahwa yang mengantarnya sekarang adalah Aldi.


Setelah beberapa saat menunggu, terdengar suara mobil dan Avril segera keluar rumah menghampiri Aldi.


"Jangan lari-lari Vil." Tegur Aldi dengan khawatir melihat Avril berlari kecil menghampirinya.


"Sudah sore Al."


"Kalau sore kenapa? Apotik rumah sakit kan buka 24 jam."


"Iya. Tapi aku mau beli kue dulu nantinya."


"Aihhhhh ya sudah ayo cepat. Aku juga mau beli untuk Rei." Dengan riang Avril memasuki mobil Aldi dan sesegera mungkin Aldi melaju dengan sedikit cepat menuju rumah sakit. Setelah sampai, Aldi mengantar ke dalam layaknya seorang suami pada istrinya.


Setelah dirasa selesai, Avril dan Aldi pun segera bergegas kembali ke mobil dan keduanya sudah sepakat untuk membeli kue sebelum pulang. Ketika sudah di depan toko kue, Aldi membukakan pintu mobil untuk Avril. Di luar dugaan, seorang gadis di seberang jalan membeku menatap pemandangan yang membuatnya sesak nafas. Jantungnya berdegup kencang dan terasa ingin meledak. Dengan langkah berat, Dinda memasuki kue toko tersebut. Ia memperhatikan dari jauh kedua orang yang tengah memilih kue dan terdengar keduanya bercanda bersama.


"Rei suka coklat." Ucap Avril tak ingin kalah dari Aldi.


"Sekali-sekali coba vanila."


"Jangan Al. Nanti tidak di makan." Keduanya terus berdebat tanpa menyadari keberadaan Dinda di toko itu.


"Jangan keras kepala seperti ibumu ya!." Ucap Aldi ke perut Avril.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2