
. Setelah menemani Dinda seharian, Bagas masih belum bisa pulang, karena Dinda memintanya untuk menginap malam ini. Dan atas persetujuan Aldi, akhirnya Bagas memilih menginap di hotel agar Aldi tak salah mengira jika ia menginap di rumah Dinda. Rutinitas setiap malamnya, Dinda selalu menelepon Aldi untuk sekedar memastikan keadaannya saja. Dan Dinda pun selalu curhat tentang hari-harinya, dari hal yang paling sepele, sampai yang menurutnya masalah besar.
"Emm Al. Saat aku fitting, katanya kalau bisa kau harus datang juga." Ucap Dinda kali ini melakukan panggilan video dengan Aldi.
"Aih.... emm baiklah. Kira-kira kapan?"
"Kau setuju?" Raut wajah Dinda mendadak berbinar mendengar pertanyaan dari Aldi ini.
"Bukankah kau yang minta?"
"Hehe iya. Lusa bagaimana? Apa kau sibuk?"
"Lusa ya? Nanti tanya sekertarisku dulu."
"Baiklah. Sampai jumpa lusa ya!" Melihat Dinda yang begitu bahagia, Aldi hanya tersenyum menanggapinya. Ia bahkan baru sadar posisinya kali ini memperlihatkan foto pernikahannya dengan Syifa. Dan jika Dinda menyadarinya, Dinda pasti merasa sedikit cemburu. Sehingga Aldi mengubah posisi duduknya kini membelakangi meja kerjanya.
"Eh? Apa itu teman-temanmu?" Tanya Dinda saat ia salah fokus pada sebingkai foto yang terpajang di atas meja kerja.
"Ohhhh itu? Iya. Mereka Avil, Demira dan Baren." Jawab Aldi seraya menunjuk foto yang di maksud Dinda.
"Baren?" Tanya Dinda terdengar penasaran pada pemilik nama itu, dan mengapa kedua temannya tidak Aldi sebutkan?
"Iya Baren. Bagas dan Reno." Jawab Aldi lagi kini membuat Dinda mengerti lalu ia tertawa kecil karena nama Bagas dan Reno bisa di singkat menjadi Baren.
"Circle mu lucu ya."
"Lucu apanya Dinda? Aku di buat pusing oleh kelakuan mereka."
"Tapi dulu kau jatuh cinta pada Avril kan?"
"Iya dulu. Sekarang aku sudah jatuh cinta pada gadis yang.... emmm apa ya. Ah sial. Aku tak bisa menemukan kekuranganmu di pikiranku. Rasanya kau terlalu istimewa untuk keluargaku Dinda."
"Kau terlalu memujiku Al." Ucapnya terlihat jelas ia begitu salah tingkah.
"Hahaha... kau salah tingkah sayang."
__ADS_1
"Al... jangan mengejekku."
"Tapi wajahmu lucu." Dan, sambungan panggilan terputus. Dinda terlihat marah, namun sebenarnya ia merasa hatinya berbunga.
[Maaf sayang. Aku sangat suka melihatmu begitu.. hahahaha] isi pesan yang baru saja Dinda terima.
"Awas kau yaa... kalau bertemu aku akan memukulmu nanti." Gerutu Dinda yang ternyata memasukkannya ke dalam pesan.
[Wahhh takutnyaa... kalau bertemu, aku akan memakanmu nanti.] ~Aldi
"Sialahkan saja kalau bisa." ~Dinda
[Bagiku, apa yang tidak bisa?] ~Aldi
"Hemmmm... oh tuan. Aku takut." ~Dinda
[Aku merindukanmu bunda.] ~Aldi
"Tapi aku tidak." ~Dinda
[Kau jahat.] ~Aldi
"Bunda juga merindukan kalian." Lirihnya yang langsung menutup mulut, ia tak sadar mengatakan bunda pada dirinya sendiri karena refleks melihat foto Reifan. Dinda menutupi tubuhnya dengan selimut lalu memaksa matanya untuk segera terlelap.
. Esok ya, sesuai jadwal penerbangan, Bagas kembali pulang ke kotanya. Dinda yang ikut bertanggung jawab pun mengantarkan Bagas sampai ke bandara. Ia tak ingin memakai jet pribadi milik Dinda ataupun Aldi dengan alasan tak mau membayar jasa dengan gajinya. Hal itu hanya membuat Dinda tertawa kecil, padahal ia tak akan meminta bayaran apapun meski Bagas menggunakan jet pribadi ayahnya. Bagas melirik pada Maira yang ikut mengantarnya ke bandara. Wajahnya masih terlihat acuh dan seakan enggan bertegur sapa dengannya.
"Hei. Gadis kaku." Panggil Bagas membuat Maira menyernyit dan terlihat kesal.
"Siapa yang kau panggil gadis kaku hah?" Protes Dinda namun tak membuat Bagas merubah raut wajah datarnya.
"Kau yang protes, berarti kau yang aku panggil tadi."
"Ihhhh awas kau ya." Maira mencoba ingin menyerang Bagas, namun dengan cepat Dinda menahan Maira agar tak bersikap lebih jauh. Ia akan malu di lihat banyak orang jika Maira dan Bagas sampai baku hantam. Bagas berlalu dengan tertawa puas meninggalkan Dinda dan Maira yang masih menyaksikannya pergi di tempat yang sama.
"Kalau bertemu lagi, aku cincang dia." Geram Maira masih kesal menatap tajam pada punggung Bagas.
__ADS_1
"Dia pasti memakiku lagi. Punggungku terasa panas." Ucap Bagas bergumam dan ia menghentikan tawanya, hingga wajahnya kini lebih suram dari pada saat tadi.
. Setelah kepergian Bagas, Dinda dan Maira sepakat untuk mencari tempat yang bagus untuk nongkrong dan ngopi. Keduanya pun memilih cafe yang baru di buka, dan mereka memesan beberapa camilan beserta kopi kesukaan mereka.
"Jadi? Bagaimana dengan Lio?" Tanya Maira memulai pembicaraan.
"Sudah jelas Mai. Lio selalu saja terlambat. Dia sempat menemui ku, dan dia bilang kalau dia akan melamarku malam itu. Tapi, kau sendiri menyaksikan perbedaan Lio dengan Aldi. Aldi bertindak sesuai apa yang dia katakan. Tapi Lio? Dia terus berjanji, tapi tidak pernah menepati. Dan itu membuatku mengerti mengapa ayah tak memberi restu pada Lio. Sedangkan Aldi, ayah sangat senang saat tahu calon menantunya adalah Aldi. Selain rekan bisnis ayah, ternyata Aldi juga menantu teman ayah. Dan aku baru ingat, om Hasan itu adalah ayah temanku, Annisa. Bodohnya aku yang tak tahu nama lengkap Annisa dan tak mengenali wajah dewasanya di foto pernikahan Aldi dengannya. Saat aku tanya pada Aldi, Annisa itu memanglah Syifa."
"Apa saat pernikahannya dengan Aldi, kau tidak di undang?"
"Sepertinya tidak, ahhh aku tak ingat Mai."
"Sejujurnya aku juga kurang setuju jika kau dengan Lio." Tutur Maira dengan sedikit mengecilkan suaranya.
"Tak apa Mai. Mungkin saat itu aku hanya dibutakan cinta saja."
"Din... apa kau mencintai Aldi?"
"Kenapa kau bertanya Mai?"
"Karena aku melihat Aldi sangat mencintaimu Din. Meskipun memang jika hanya pelampiasan, tapi sikapnya saat memperlakukanmu sangat jauh berbeda dengan Lio."
"Kau jahat sekali menyebutku hanya pelampiasan."
"Hehe maaf Dinda. Tapi serius Din."
"Ah entahlah Mai. Aku tak tahu perasaanku bagaimana, tapi aku selalu merasa biasa saja pada Aldi. Tapi aku selalu cemburu saat mendengar hal yang tak aku sukai, seperti nama Syifa, nama Avril, atau mendengar ada gadis lain yang mengidolakannya."
"Hemmmm.... tapi seleramu bagus juga Din. Kau suka duda!" Ejek Maira dengan tawa kecil mengiringi ucapannya.
"Hei Mai. Jangan mengejekku begitu. Aku tidak melihat statusnya Mai. Aku hanya mengikuti apa yang hatiku rasakan saja."
"Aih. Aku kira kau menerima Aldi karena dia sudah berpengalaman."
"Berpengalaman apa?" Pekik Dinda.
__ADS_1
"Berkeluarga Din." Jawab Maira membuat Dinda menghela nafas lega.
-bersambung