RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
26


__ADS_3

. Dewi kembali dan melihat Bagas yang sedang bercanda dengan putranya, Dewi mematung di tempat ketika mendengar sayup-sayup suara Aldi. Ia perlahan berjalan mendekat, dan air matanya kembali berderai saat ia mendapati senyum Aldi yang terlempar dengan manisnya.


"Hallo ma..." sapanya penuh candaan. "Aku baik-baik saja ma.. jangan menangis. Aku tidak menyusul ayah dan kak Amel. Jadi mama tenang saja." Lanjutnya malah semakin membuat Dewi menangis keras.


"Berhenti bicara anak nakal." Lirih Dewi sambil memeluk kepala Aldi dan menciuminya.


"Aduh berhenti ma... aku sudah tua. Malu ada Bagas." Ucap Aldi lagi dengan terus bercanda.


"Syukurlah..."


"Sudah ma... aku masih hidup."


"Tidurmu lama." Dewi mencubit pipi Aldi.


"Rei baik-baik saja kan?" Tanya Aldi mengalihkan topik pembicaraannya.


"Selama dengan Avil, Rei baik-baik saja." Jawab Dewi.


"Emm Al... aku kembali ke kantor ya. Ma.. Bagas pamit ya. Bagas lupa, hari ini ada om Andre datang ke kantor. Dan Reno bisa kewalahan menghadapi om Andre jika tak ada aku." Ucap Bagas menyela obrolan Aldi dan Dewi.


"Baiklah. Hati-hati. Dan terima kasih Bagas." Jawab Dewi.


Bagas tersenyum kemudian berlalu keluar dari kamar.


Kembali Dewi menatap Aldi, dan dengan polosnya, Aldi sedikit menaikan alisnya seakan bertanya 'kenapa?' Namun, Dewi hanya tersenyum kemudian tertawa dibuatnya.


"Mama tak bisa membayangkan jika kau cepat-cepat bertemu ayahmu. Dia pasti menyalahkan mama karena tak bisa menjagamu dengan baik." Ujar Dewi kemudian. Dan kali ini Aldi yang tersenyum dan tertawa.


"Aku bertemu Syifa ma... dia sangat cantik." Ucapnya menatap Dewi dengan berbinar. Tentu Dewi merasa heran, namun seketika ia memaklumi jika memang Aldi bertemu Syifa. Karena kerinduan Aldi terhadap Syifa sangatlah besar.


"Ohh ma... aku lapar." Dan, lagi-lagi Dewi tertawa. Bisa-bisanya Aldi lapar setelah ia koma. Dengan senang hati, Dewi beranjak dan dengan kebetulan, Noah memasuki kamar sebelum Dewi sampai pada pintu.


"Maaf aku terlambat. Tadi ada pasien yang harus ku tangani darurat." Ucap Noah pada Dewi.


"Tak apa dok." Jawab Dewi tersenyum.


"Wahhh kau sudah bangun ternyata? Bagaimana? Tidurmu nyaman?" Tanya Noah dengan nada ejekan ketika ia beralih menoleh ke arah Aldi yang sedang menatapnya santai.


"Kau tak membawa makanan?" Tanya Aldi beralih menatap perawat dan Noah bergantian.


"Ku kira orang tidur tak akan lapar." Jawab Noah tak kalah santai.


"Sialan kau." Namun Noah hanya tertawa mendengar makian Aldi. Ia segera memeriksa kondisi kesehatan dan beberapa luka seriusnya. Sesekali Aldi meringis saat Noah memeriksa luka di perutnya, dan tangannya yang patah.

__ADS_1


"Sakit?" Tanya Noah.


"Menurutmu?" Aldi mendelik kesal dengan pertanyaan konyol Noah.


"Saat aku menjahit lukamu, kau tidak merasakan sakit. Malah kau tidur sangat nyenyak." Ejeknya lagi.


"Aku pingsan sialan." Lagi, Aldi mendelik seraya menahan emosinya.


"Oke. Tekanan darahmu juga normal. Jangan banyak bergerak dulu. Atau luka mu akan sulit untuk sembuh." Ucap Noah memberi nasehat. Kemudian ia beralih menyuruh perawat untuk membawa beberapa makanan.


"Biasanya selalu ada makanan yang tersaji." Ucap Aldi memejamkan matanya.


"Apa gunanya menyiapkan makanan untuk orang yang sedang koma?." Balas Noah membuat Aldi kembali membuka matanya.


"Lah... daripada begini? Aku kelaparan." Protes Aldi.


"Kecilkan suaramu." Tegur Dewi dengan lembut.


"Tuhhh dengar. Dasar pasien bar-bar."


"Ehhhh apa kau bilang? Ugh...." Aldi meringis saat tangannya terasa perih karena dirinya hendak beranjak.


"Nah... kan. Berdosa sekali kau itu." Sindir Noah membantu Aldi untuk kembali ke posisi ternyamannya.


"Diam kau." Cetus Aldi mendelik kesal. Tak lama, seorang perawat dan beberapa petugas membawa makanan yang diminta Noah. Mereka meletakkannya tepat di sebelah Dewi.


"Ada. Tapi aku simpan racun. Mau?" Balas Noah tak kalah polos.


"Ishhh kau. Aku serius."


"Aku juga serius."


"Sudah... kenapa kalian bertengkar?" Ujar Dewi menyela perdebatan keduanya. "Kamu lapar kan?" Dewi beralih menatap Aldi yang berbaring dan menatap harap pada Dewi. Ia seakan meminta untuk beranjak dari tidurnya, setidaknya untuk bersandar saja.


Noah mencoba membantu Aldi untuk beranjak dan dengan hati-hati akan luka Aldi agar tak kembali terbuka.


"A..." Aldi membuka mulut lebar-lebar saat Dewi membawa semangkuk bubur dan duduk di tepi ranjang.


"Dasar anak manja." Cetus Noah sembari memperhatikan Aldi.


"Memang aku manja." Jawab Aldi kemudian melahap makanan yang disodorkan Dewi.


"Ingat anak hei." Sindir Noah lagi.

__ADS_1


"Ya mau bagaimana lagi? Keadaan memaksaku harus menjadi anak manja."


"Menjawab terusss...."


"Sudah ehhhh.. mau sampai kapan kalian bertengkar terus?" Tegur Dewi yang sudah lelah menyikapi pertengkaran mereka.


. Seminggu sudah Aldi menjalani perawatan khusus setelah ia tersadar. Dan selama itu, banyak drama dari Avril dan Demira saat mengetahui dirinya sadar. Sempat Aldi ngin mengenalkan Dinda pada Avril, meskipun Avril sudah tahu Dinda, namun Aldi ingin mengenalkannya secara khusus dan resmi pada Avril.


Namun, sayangnya tak pernah ada kesempatan yang mendukung untuk mempertemukan mereka diwaktu yang sama.


"Avil..." panggil Aldi dengan ragu. Avril mendongak menyikapi panggilan Aldi. Mungkin Aldi kesal karena ia terus memainkan ponselnya dari tadi.


"Maaf Al... aku membalas pesan Alvi dulu." Ucap Avril mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung.


"Tak apa... aku hanya ingin membicarakan tentang.... emm..." Aldi terhenti, ia sendiri merasa bimbang dan tak tahu harus memulai bicaranya dari mana. Avril menyernyit mencoba menunggu lanjutan ungkapan Aldi yang terhenti.


"Aku ingin menge--" lagi-lagi ucapan Aldi terhenti, dan kini karena ponsel Avril yang berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Hallo Al...." ucapnya sambil memberi kode pada Aldi untuk diam sebentar. "Tapi... Aldi sendiri. Mama belum kesini." Jawab Avril selanjutnya. "Ya sudah. Aku akan kesana. Katakan pada Siska untuk membawa Rei jalan-jalan di halaman belakang saja. Tenangkan dulu sebisanya, setidaknya sampai aku tiba dirumah." Aldi mulai menyernyit saat mendengar tentang Rei. Terlihat Avril mulai panik setelah menutup sambungan teleponnya.


"Kenapa Vil? Apa terjadi sesuatu pada Rei?"


"Dia menangis terus. Alvi sedang ada meeting, jadi Rei dengan Siska saja."


"Jangan panik. Tenangkan dirimu."


"Maaf ya Al.... aku pulang dulu."


"Iya Vil... tak apa. Justru aku yang harusnya minta maaf." Namun Avril tak menanggapi lebih jauh, ia segera berlari keluar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Bagaimana aku bisa melupakan perasaanku padamu Avil. Tak ada celah dan hal negatif yang bisa membuatku membencimu. Andai saja, semesta memberi restunya untukku, kau mungkin yang menjadi ibu kandung dari Rei. Dan Syifa tak akan meninggal secepat ini." Batin Aldi mulai merubah tatapannya menjadi sendu.


. 'Bugh' "maafkan aku..." ucap Avril masih sangat panik dan kini meraih dadanya karena ponselnya hampir terjatuh.


"Avril?" Seketika Avril mendongak dan dengan berbinar ia menatap Dinda.


"Dinda... maaf ya... aku tidak sengaja menabrakmu."


"Kau kenapa? Dan... sedang apa disini?" Tanya Dinda menoleh kesana kemari mencoba menebak akan keberadaan Avril disini.


"Ayah putraku sedang dirawat disini." Jawabnya penuh candaan, dan Dinda pun ikut tertawa dibuatnya.


"Katanya kau belum punya anak?"

__ADS_1


"Ceritanya panjang. Sekarang aku buru-buru.. dahhh" Avril berlalu dari hadapan Dinda yang masih tersenyum namun menyimpan sejuta tanya untuk Avril.


-bersambung.


__ADS_2