RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
135


__ADS_3

Shana terkejut sendiri saat ia menyadari ucapannya. Tentu saja wajahnya memerah karena malu, sehingga Shana bersembunyi di belakang lengan Sean untuk menyembunyikan wajah gugupnya. Dinda hanya tersenyum tipis melihat tingkah Shana yang masih kekanakan padahal usianya 1 tahun lebih tua darinya dan Aldi.


"Emmm Sean. Kalau kau berkenan, aku ada kenalan. Dia teman kakakku, tapi..." Aldi sengaja menggantungkan ucapannya dan melirik sesaat pada Dinda yang belum mengerti arah pembicaraan Aldi kemana.


"Tapi apa Al?" tanya Sean mendadak penasaran.


"Dia janda. Baru beberapa bulan yang lalu dia bercerai dengan suaminya. Apa kau mau? Tapi kalau tak mau pun tak apa. Aku pikir, karena putrimu seperti merindukan sosok ibu, dan kebetulan teman kakakku belum menikah lagi, siapa tahu kalian cocok." tutur Aldi sedikit merasa ragu.


"Aku tidak berkata iya, ataupun tidak. Tapi, untuk sekarang, aku hanya ingin membahagiakan Xaviera saja. Dengan atau tanpa seorang ibu untuknya."


"Bagaimana kalau kalian bertemu dulu, setelah itu baru kau putuskan. Aku tak akan memberitahunya soal aku yang menjodohkan kalian. Tapi, setidaknya aku ingin dia punya teman selain Alvi di negara ini."


Semula Sean menghela nafas berat merasa keberatan dengan permintaan Aldi, namun ia mencoba untuk menghargai usaha Aldi yang mungkin untuk Xaviera.


"Baiklah. Tentukan saja tempatnya."


"Di hotelku saja. Minggu depan." Dengan cepat, Aldi menjawab dan sangat terlihat ia begitu antusias menjodohkan Emira dengan Sean.


"Baiklah. Tapi kau jangan marah jika nanti aku dan Xaviera tidak menyukainya." ucap Sean terdengar sangat meremehkan pesona Emira.


"Jangan bilang begitu. Siapa tahu kau akan jatuh cinta di pandangan pertama padanya. Dia itu baik, dan juga memiliki sifat keibuan yang besar. Mungkin dia akan menyayangi putrimu seperti anaknya sendiri. Soalnya, dia pernah kehilangan anaknya seperti Dinda." jelas Aldi membuat Sean membisu. Entah kenapa, ia merasa sudah salah mengira bahwa wanita yang akan dikenalkannya itu bukanlah wanita baik-baik. Dan entah mengapa, ia merasa pikiran itu justru bertolak belakang dengan firasatnya.


"Siapa namanya?" tanya Sean setelah suasana hening beberapa saat.

__ADS_1


"Emira. Aku biasa memanggilnya begitu." jawab Aldi yang ternyata obrolan mereka di dengar oleh Dewi dari balik ruangan.


"kau memikirkan Liana, Al." batin Dewi tersenyum tipis kemudian berlalu menghampiri besannya yang kini tengah berada di ruang keluarga.


Di waktu yang sama, Galih memanggil Nadia untuk merawat Emira yang masih tak sadarkan diri. Ia tak ingin jika dirinya dan Alvi yang menangani, imbasnya Nadia dan Avril akan marah pada mereka.


Tak lama menunggu, akhirnya Emira tersadar dan saat itu ia kembali menangis mengingat wajah kecewa Damian padanya. Ia akui jika ia salah dan ia teringin menebus kesalahannya. Namun apa daya, Damian sudah terlanjur kecewa dan bahkan Damian sudah terang-terangan akan bertunangan dengan wanita lain.


Di rumah Demira, Damian tertidur di sofa ruang tamu tanpa bicara sepatah katapun dari ia sampai. Hal. Itu membuat Demira merasa heran sekaligus khawatir, apalagi saat melihat bulir bening mengalir di pelipis Damian.


"Kak... Kenapa kau menangis? Apa kakak bertengkar dengan Ayah?" tanya Demira mencoba mencari tahu penyebab kakaknya menangis tanpa suara itu.


"Aku mengantuk. Jangan ganggu!" balas Damian dengan sedikit membentak dan jelas itu tak menjawab pertanyaan Demira.


"Jangan menyebut nama itu!" dan kali ini, Damian benar-benar membentak keras adiknya sehingga Demira terhenyak dan menutup matanya karena ketakutan. Demira semakin takut saat Damian beranjak dan duduk menghadap ke arahnya.


"Maaf Demi. Kakak tidak bermaksud untuk membentakmu. Kakak hanya tak suka kau menyebut nama itu lagi. Kau sendiri sudah tahu kalau kakak dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Terlebih, sekarang dia sudah menikah dengan orang lain." Ucap Damian dengan suara yang begitu lembut. Bahkan Demira yang ketakutan pun berubah tenang mendengar suara Damian tersebut. Segera Demira memeluk erat sang kakak ketika ia melihat genangan di kelopak matanya. Dan saat ia peluk, genangan itu akhirnya lolos dari pelupuk mata yang sudah menyipit itu.


"Sabar kak. Aku yakin, kakak akan menemukan pengganti kak Emira. Dia sosok yang baik, dan tak akan meninggalkan kakak." tutur Demira mencoba menenangkan kesedihan Damian.


"Maaf ya. Kakak ke sini malah bersedih. Harusnya malam ini kita happy karena ada party di rumah Alvi. Tapi sepertinya, kakak akan pulang sekarang. Katakan pada suamimu kalau donasi untuk klinik sudah kakak kirim." Damian melepaskan pelukannya setelah ia berkata demikian. Meski merasa tak terima, namun Demira hanya mengiyakan keinginan kakaknya yang akan pulang saat ini juga. Sejujurnya ia masih merindukan Damian. Semenjak pernikahannya tahun lalu, Demira belum pernah bertemu lagi dengan Damian. Dan sekarang, waktu yang harusnya mereka gunakan untuk melepas rindu, kini malah hilang begitu saja.


Setelah Damian menetap dan menenangkan diri di rumah Demira, ia memutuskan untuk bergegas pulang karena tak ingin pesawatnya terbang di waktu malam. Demira mengantarkan Damian menuju bandara atas izin dari Noah yang masih bertugas di klinik tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Aku akan datang saat kakak bertunangan nanti." ucap Demira sebelum Damian benar-benar pergi dari hadapannya.


"Maaf Demi. Tapi kalau boleh kakak meminta, tolong batalkan perjodohan kakak. Kakak tak mau kalau nanti wanita itu merasa jadi pelampiasan kakak saja. Kakak. Ingin sembuh tanpa bersama orang baru. Kakak ingin melupakan Emira tanpa adanya kehadiran orang lain." mendengar permintaan Damian tersebut, Demira tak langsung berucap, ia menghela nafas dalam lalu mengangguk pelan tanda mengiyakan.


"Akan aku coba bicara dengan Ayah. Semoga Ayah mengerti. Hanya saja, jika memang kakak ingin membatalkan perjodohan, harusnya kakak punya calon sendiri atau setidaknya kakak punya alasan kenapa kakak menolak."


"Kakak sudah tak bisa memberi alasan apapun pada Ayah. Sudah berapa kali kakak menolak perjodohan yang Ayah tawarkan. Dan setiap penolakan itu kakak beralasan bahwa kakak belum siap menikah dan terkadang kakak mencari celah kekurangan wanita-wanita itu agar menjadi alasan kenapa kakak menolaknya."


"Jadi, apa sekarang kakak akan terus berlari menjauh dari kenyataan? Kalau memang perjodohan ini bisa membuat kakak berubah dan melupakan kak Emira, kenapa tidak terima saja? Bukan maksudnya aku tak mau membantu kakak, tapi saranku begitu. Aku tak mau melihat kakak terus begini. Kakak terus dihantui bayang-bayang masa lalu kakak yang jelas sudah jauh meninggalkan kakak." mendengar penuturan Demira, Damian hanya terdiam dan tersenyum tipis menanggapi hal tersebut.


"Kakak pergi ya!" kalimat itu terdengar seperti sebuah perpisahan yang belum bisa Demira terima. Ia masih merindukan Damian dan berharap Damian akan lebih lama bersamanya.


"Kau benar-benar tidak merindukanku." pecah sudah tangis Demira ketika Damian berbalik dan hendak berlalu dari hadapannya. Saat ini Damian kembali berbalik dan meraih wajah sang adik seraya menenangkan tangisnya yang tak bisa ditahan.


"Bulan depan kita bertemu lagi kan?"


"Tapi aku masih merindukan kakak."


"Kakak juga rindu. Tapi, apa kau tega melihat kakak tersiksa jika kakak masih ada di sini?"


"Dan apa kakak tega membiarkanku bersedih karena merindukan kakak?" meski Demira berkata demikian, namun Damian tetap berlalu pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2