
. Dinda merangkaikan sebuah bunga pesanan Sean yang meminta dirinya yang merangkai. Meski demikian, Dinda mengerjakannya dengan serius di meja miliknya.
"Apa kau Dinda Anindira?" Tanya Sean memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Kenapa ada di sini? Bukankah kau seorang presdir?"
"Aku ikut su--" seketika Dinda terdiam dan tak melanjutkan jawabannya, ia sejenak berpikir ia tak mungkin mengatakan hubungannya dengan Aldi. Meski sudah resmi suami istri, namun ia belum berniat memberitahu siapapun saat ini. "Emm maksudku.. ikut seseorang. Sekalian merintis usahaku sendiri." Lanjutnya menjelaskan agar Sean tak curiga.
"Ohh begitu." Sean menanggapi seraya manggut-manggut. Kemudian ia kembali melirik Dinda dengan tatapan kagum dan menyimpan rasa ketertarikannya.
"Ayah..." teriak Xaviera dari luar dengan berlari menghampiri Sean.
"Kenapa sayang? Bukankah ayah bilang tunggu di mobil saja?"
"Tapi Avi mau bawa bunga untuk Aunty dari tokonya Ayah." Terlihat Xaviera sedikit merajuk. Namun matanya membulat saat ia memandang Dinda yang tengah fokus merangkai bunga.
"Bunda." Lirihnya namun masih terdengar oleh Dinda sehingga Dinda mendongak dan menatap sesaat seraya tersenyum pada Xaviera. Gadis kecil itu mematung dengan emosi yang bergejolak, kemudian ia menghampiri Dinda dan memeluknya dengan erat. Seketika Dinda menghentikan aktivitasnya, lalu ia perlahan membalas pelukan Xaviera.
"Bunda... Avi rindu....." rengeknya mulai menangis tersedu-sedu. Meski tak tahu apa yang di ucapkan Xaviera, namun Dinda memilih untuk memberikan pelukannya pada gadis malang ini. Selama Xaviera berada di pelukannya, Dinda tak berkata apapun. Ia membiarkan Xaviera meluapkan perasaannya.
__ADS_1
"Avi... itu bukan Bunda sayang." Ucap Sean mencoba membujuk Xaviera agar terlepas dari Dinda.
"Tak mau... Avi rindu pada Bunda..."
"Kamu dengarkan ayah atau tidak?" Tegas Sean berhasil membuat Xaviera berhenti menangis dan perlahan melepaskan pelukannya.
"Lihat baik-baik Avi. Ini bukan Bunda." Lagi-lagi Sean dengan tegas mengatakan bahwa Dinda bukanlah ibu dari Xaviera. Dinda mulai penasaran mengapa anak ini begitu merindukan ibunya. Setelah Xaviera tenang, akhirnya Sean bisa mengendalikan Xaviera dan membawanya ke pangkuannya.
"Maaf ya. Avi bersikap tidak sopan padamu." Tutur Sean seraya terus menenangkan Xaviera.
"Maaf sebelumnya, apa boleh saya tahu kenapa putri anda seperti sangat merindukan ibunya?" Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Dinda, Sean menghela nafas sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan tersebut.
"Memangnya dimana ibunya sekarang?"
"Di Amerika." Dinda mengangguk tanda ia mulai mengerti dengan pembahasan mereka. Setelah di rasa selesai, Sean berpamitan dan meminta maaf karena sudah merepotkan Dinda. Ia pun mengutarakan alasannya yang ingin rangkaian bunga langsung dari pemilik toko. Ini di karenakan adiknya, Shana yang selalu membeli bunga langsung dari pemilik toko.
Setelah kepergian Sean, Dinda beru tersadar bahwa ia membawa Reifan hari ini. Segera Dinda berlari memastikan Reifan tidak menangis, namun saat ia memasuki ruangannya, ia dapat menghela nafas lega mendapati Reifan yang sudah tertidur di sofa.
"Aih Rei... habiskan dulu makannya." Ucapnya seraya melepaskan kue dari tangan Reifan.
. Singkatnya, hari semakin sore, Dinda baru pulang dari tokonya. Aldi yang sudah kembali lebih dulu pun terlihat sudah menunggu di teras rumah. Dinda memangku Reifan yang masih tertidur sejak tadi dan belum terbangun juga.
__ADS_1
"Dia tertidur?" Tanya Aldi seraya meraih Reifan agar dirinya ia yang menggendong Reifan.
"Iya. Hati-hati tangannya!" Setelah memberikan Reifan pada Aldi, mereka bergegas memasuki rumah dan menidurkan Reifan di kamarnya. Ketika Dinda dan Aldi hendak meninggalkan Reifan, tiba-tiba tangan Dinda di tarik oleh Reifan sehingga Dinda hampir terjatuh menimpanya.
"Bunda..." rengeknya kemudian memeluk tangan Dinda dengan manja. Melihat Reifan yang tak ingin di tinggalkan oleh Dinda, Aldi meninggalkan keduanya dan ia berencana untuk bergantian menemani Reifan setelah membersihkan diri. Sebelum benar-benar pergi, Aldi menoleh sesaat di ambang pintu.
"Jangan terlalu dekat dengan Sean." Ucapnya seakan menegaskan bahwa Dinda tak boleh lagi bertemu dengan Sean apapun alasannya. Belum sempat Dinda membalas ucapan Aldi, suaminya itu sudah berlalu begitu saja. Dinda merasa bahwa Aldi sudah salah faham padanya, dan ia pun merasa penasaran dari mana Aldi tahu jika ia bertemu dengan Sean.
Setelah Aldi selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Aldi kembali ke kamar Reifan untuk menyuruh Dinda istirahat. Namun ketika ia memasuki kamar putranya, terlihat ibu dan anak itu sudah terlelap dnegan pulas. Aldi merasa tak tega jika harus membangunkan Dinda sekarang. Namun jika tidak di bangunkan, Dinda pasti akan tertinggal makan malam.
"Sayang. Bangun dulu! Rei aku yang jaga, kau mandi saja." Ucap Aldi mencoba membangunkan Dinda dengan perlahan. Meski tak terlalu keras, namun suara Aldi dapat di dengar oleh Dinda. Terlihat Dinda mengerjapkan matanya lalu ia melirik pada Aldi yang berjongkok di samping tempat tidur tepat di dekat tubuhnya.
"Mandi dulu, setelah itu makan malam dan lanjut tidur." Tutur Aldi seraya membantu Dinda untuk terbangun. Dinda merentangkan tangannya seakan ingin di gendong oleh Aldi. Aldi hanya mengecup keningnya saja dengan menarik tangan Dinda agar bangkit sekarang juga. Dengan malas, Dinda segera berlalu dari kamar Reifan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Entah apa yang membuatnya begitu malas, Dinda tak bergairah dan ia mempercepat proses pembersihan tubuh yang ia lakukan dengan paksaan dan dorongan yang kuat dari hatinya. Setelah selesai mandi, Dinda meraih dress mini nya yang mungkin bisa di sebut dress dinas. Rasanya ia teramat ingin memakai pakaian yang terbuka karena tubuhnya terasa gerah. Dinda menjatuhkan tubuhnya du atas tempat tidur dan melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
Karena Dinda tak kunjung kembali, Aldi khawatir dan ia memutuskan untuk memastikan tak ada apa-apa pada istrinya. Saat ia membuka pintu, matanya membulat melihat aurat Dinda yang tak di tutupi oleh selimut. Ia cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya agar pelayan tak ada yang masuk.
"Sayang. Kenapa pakai baju ini? Kau belum makan malam." Aldi mencoba membangunkan Dinda lagi, namun kali ini istrinya tidak mendengar dan terus tertidur. Ia mengira bahwa Dinda pasti kelelahan. Dengan begitu, Aldi menyelimuti tubuh Dinda agar tertutup sempurna. Saat Aldi hendak beranjak, tangannya di raih oleh Dinda sehingga ia kembali memusatkan perhatiannya pada Dinda.
"Jangan pergi Al." Rengeknya masih dengan mata yang terpejam. Mendengar permintaan istrinya, Aldi berbaring di samping Dinda lalu memeluk erat tubuhnya dengan menyelipkan kecupan selamat malam. .
-bersambung
__ADS_1