
. Pagi hari, mentari sudah menampakkan dirinya, sementara Aldi masih tertidur dengan memeluk istrinya dari belakang. Dinda perlahan berbalik dan menepuk pipi Aldi beberapa kali.
"Al.. bangun sudah siang."
"Hmmmm" hanya begitu Aldi menyahuti. Dan Dinda hanya mendelik lalu beranjak dari tidurnya, kemudian ia bergegas membersihkan diri.
Setelah Dinda selesai mandi, ia kembali mendelik mendapati Aldi masih tertidur di tempatnya.
"Al... cepat bangun. Ini sudah jam berapa!" Teriak Dinda yang sudah merasa kehabisan kesabaran meski hanya melihat Aldi yang sulit di bangunkan.
"5 menit lagi sayang." sahut Aldi seraya menggeliat dan kemudian melanjutkan tidurnya.
"Sudah jam 9 Al." Sontak Aldi langsung bangkit dari tidurnya dan ia segera berlalu ke kamar mandi dengan langkah yang tak karuan. Dinda tak bisa menahan tawa melihat Aldi yang begitu panik di buatnya. Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Dinda memilih untuk berias. Tak lama, Aldi keluar dengan memakai handuk saja.
"Sayang. Kemejaku yang hitam dimana ya?"
"Ada. Di kasur." Jawab Dinda dengan masih asyik merias wajahnya.
"Sudah di siapkan ternyata." Ujar Aldi tertawa konyol seraya mengenakan satu persatu pakaian kerjanya.
"Sayang. Tolong pakaikan dasi."
"Aih. Bukannya kau bisa sendiri?"
"Sekarang mendadak tidak bisa."
"Hemm alasan." Dinda menyernyit dan melirik sinis pada Aldi yang mencari-cari alasan. Dinda beranjak lalu melipat dasi suaminya dengan serius. Aldi yang melihatnya pun merasa gemas. Ia merangkulnya tangannya ke pinggang sang istri dengan tersenyum ambigu dan kepalanya yang miring ke samping. 'Cup' tiba-tiba Dinda terdiam saat suaminya mengecup ringan bibirnya. Namun setelah itu, Dinda tertawa melihat ada lipstik yang menempel di bibir Aldi.
"Kenapa?" Tanya Aldi yang penasaran mengapa istrinya tertawa begitu puas.
"Tidak Al. Tak apa." Jawabnya dengan masih tertawa.
"Aku serius. Kenapa?"
"Tak apa. Serius!"
"Bohong. Kalau tak ada apa-apa, tak mungkin kau tertawa begini." Mendengar kalimat Aldi, Dinda masih tertawa terbahak-bahak sehingga ia tak bisa menahan tubuhnya. Dinda berjongkok dan meraih kaki Aldi karena perutnya yang sudah terasa sakit akibat tawanya yang tak bisa di hentikan. Ia membayangkan Aldi bekerja dengan lipstik di bibirnya.
"Hei... kau ini kenapa? Cepat katakan ada apa?"
"Aduduh sebentar. Perutku linu." Jawab Dinda masih mencoba menenangkan tawanya. Aldi kemudian melihat jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 07:04. Ia baru mengerti mengapa istrinya tertawa sampai sakit perut.
"Ohhh kau mengerjaiku ternyata."
__ADS_1
"Aih... dia sudah sadar rupanya." Batin Dinda kini sudah bisa menghentikan tawanya. Ia beranjak lalu merapikan kembali pakaian suaminya dan senyumnya masih tersimpul karena menahan tawa.
"Maaf...." lirih Dinda dengan lirikan yang menggoda.
"Kau bilang sudah jam 9, ini baru jam 7. Apa kau sangat puas mengerjaiku?"
"Eh?" Dinda terlihat heran sendiri. Ia pikir Aldi sudah menyadari di bibirnya ada lipstik.
"Kenapa diam?"
"Aku menyesal tuan."
"Sebagai hukumannya, kau harus menciumku."
"Ihh...."
"Loh kenapa ih? Kau tak mau?".
"Sudah siang. Cepat pergi bekerja!" Dinda beralih mendorong Aldi untuk segera keluar dari kamarnya.
"Tidak mau. Cium dulu!"
"Kau akan kesiangan Al."
Melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya, Dinda hanya bisa menghela nafas berat lalu menuruti kemauannya. Setelah ia mencium pipi dan kening Aldi, Aldi membalas dengan mencium bibir Dinda sebelum ia pergi.
Setelah Aldi berlalu, Dinda kembali membayangkan bagaimana reaksi orang-orang saat melihat bibir Aldi nantinya. Karena takut ketahuan, Dinda segera memanggil Aldi yang masih berada di tengah tangga. Aldi menoleh dan memberi kode seakan bertanya ada apa pada istrinya. Dinda yang tak mau jika harus berteriak, ia memilih untuk menyusul Aldi sampai tengah tangga, lalu Dinda mengusap bibir Aldi tanpa berkata apa-apa.
"Hehhhh... kau mau lagi?" Rayu Aldi dengan seringai penuh arti.
"Diam Al. Di bibirmu ada lipstik." Bisik Dinda menjawab rayuan Aldi.
"Benarkah?"
"Iya. Makanya aku menyusulmu."
"Apa kau tertawa karena ini juga?" Dan Dinda mengangguk seraya kembali tertawa kecil menanggapinya.
"Hemmm kau jahil ternyata ya!" Aldi mengacak rambut Dinda dengan gemas, lalu ia beralih mengecup kening Dinda hingga akhirnya ia berangkat bekerja.
Dinda yang sudah terlanjur berada di tengah tangga pun bergegas ke ruang makan, dan di sana ada mertuanya bersama Reifan yang masih sarapan.
"Bunda sudah bangun tuh sayang." Ucap Dewi sehingga Dinda tersenyum tipis di buatnya.
__ADS_1
"Sudah dari tadi ma.. tapi Daddy nya Rei sangat susah di bangunkan."
"Iya memang. Dia itu dari kecil selalu susah di bangunkan. Sampai sekarang sudah punya anak dan istri." Sontak keduanya tertawa merasa kebiasaan Aldi ini sangatlah menarik.
. Setelah sarapan, Dinda mengemas beberapa masakan untuk ia bawa ke kantor Aldi. Ia yakin suaminya itu pasti tidak sarapan karena ada tamu dari kota lain berkunjung ke kantornya.
"Rei... mau ikut bunda atau tidak?" Dinda bertanya pada anak tirinya sebelum ia pergi. Ia khawatir jika nanti Reifan akan merengek ingin menyusulnya.
"Tidak bunda. Eifan sama Oma." Jawab Reifan.
"Ya sudah. Bunda pergi dulu ya!" Dinda berpamitan seraya mencium Reifan lalu mencium tangan mertuanya.
"Apa kau akan ke toko selepas dari kantor?" Tanya Dewi.
"Sepertinya hari ini Dinda tidak ke toko Ma. Langsung pulang saja kalau sudah mengantarkan ini."
"Baiklah. Kalau begitu, Mama tak akan ke mana-mana."
"Memangnya Mama mau kemana kalau Dinda tidak pulang?"
"Tadinya Mama mau ke rumah Avril. Sekalian jenguk dia."
"Ohhh ya sudah... Mama ke rumah Avril saja, nanti Dinda menyusul."
"Kau juga mau ke sana?"
"Iya Ma. Sekalian kan?"
"Ya sudah kalau begitu. Mama tunggu di rumah Avril ya!"
"Iya Ma. Dinda berangkat ya!"
"Iya nak hati-hati."
"Hati-hati Bunda....." Reifan ikut menimpali seraya melambaikan tangannya ketika Dinda berjalan semakin jauh. Dinda berangkat di antarkan oleh supir, ia tak di izinkan mengemudi oleh suaminya karena takut terjadi apa-apa.
. Sampai di kantor, Dinda memasuki lobby lalu bertanya apakah Aldi ada di ruangannya atau tidak. Setelah di konfirmasi, resepsionis mengatakan bahwa Aldi tengah melakukan pertemuan dengan tamu di ruangan meeting. Namun karena Dinda beralasan penting menemui Aldi, jadi ia bisa menunggunya di ruang tunggu. Dengan hati yang berbunga, Dinda berjalan menuju lift. Namun, ia mendengar perbincangan tak mengenakan dari beberapa karyawan wanita.
"Hei... kau lihat tidak tamu hari ini?"
"Aku tidak lihat. Tapi aku dengar namanya. Shana Alfa Amalia. Seorang Presdir cantik dari perusahaan yang di kenal dengan sebutan Alfa." Gosip dari beberapa karyawan tersebut.
"Jangan-jangan, Shana itu pacarnya Bos.!"
__ADS_1
-bersambung.