
Presdir Ferry sedang duduk di meja makan, tidak terlihat sosok Jeny yang selalu menemani dirinya di setiap pagi untuk menyantap sarapan, akhir-akhir ini juga Presdir Ferry tidak melihat keberadaan Bu Lilis.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi." Gumam Presdir Ferry.
Gedung pusat Mahesa group
Presdir Ferry kembali menjalani rutinitas seperti biasanya, walaupun terakhir ada sedikit konflik dengan Andika tapi tidak ada pengaruh terhadap Mahesa group.
Semua investor dan client sejauh ini terlihat baik-baik saja, entahlah apakah semua akan berjalan baik atau hanya tinggal menunggu waktu untuk terjadi kekacauan.
"Deni."
"Saya tuan." Deni berdiri di depan Presdir Ferry sambil menunduk.
"Panggil Lita kesini." Perintah Presdir Ferry.
Deni meremas tangannya, dia langsung gelisah mendengar perintah dari Presdir Ferry, Deni tentu saja tahu jika Jeny saat ini sedang berada di rumah Adrian, bahkan sudah beberapa hari dia tidak datang kekantor.
"Maaf tuan." Deni berbicara dengan penuh keberanian walau tangannya bergetar.
"Ada apa?" Ucap Presdir Ferry dingin.
"Nona sudah beberapa hari tidak datang kekantor."
"Apa!" Presdir Ferry terkejut "Cari tahu apa yang dia lakukan."
"Maksud tuan?"
"Lakukan saja perintahku jangan banyak bertanya, awasi saja apa kegiatan Lita."
"Baik tuan."
"Merepotkan saja." Gerutu Deni dalam hati.
__ADS_1
- - -
Satu Minggu berlalu
Setiap hari Jeny menghabiskan waktunya di rumah Adrian, Andika bahkan lebih sering datang kerumah Adrian dari pada ke kantor.
"Jeny."
"Hemm." Jeny yang sedang fokus menonton film favoritnya malas menjawab ucapan Andika.
"Aku ingin menikah dengan mu secepatnya." Ucap Andika.
"Hemm." Jawab Jeny masih fokus ke layar di depannya.
Klik....
Andika yang merasa kesal langsung mematikan tv di depannya agar Jeny lebih fokus ke pembicaraan mereka.
"Andika." Jeny terlihat sangat kesal.
Dia kemudian duduk diam di samping Jeny, bahkan hanya sekedar mengeluarkan suara nafas saja Andika berpikir dua kali, Jeny lebih mengerikan dari pada apapun ketika diganggu saat menonton film favoritnya.
"Hoam." Andika menguap beberapa kali, rasa bisa menyerang Andika, sudah hampir satu jam dia hanya diam tanpa melakukan apapun untuk menemani Jeny nonton film.
Senyum langsung mengembang di wajah Andika ketika melihat film yang di tonton Jeny sudah selesai.
"Sudah selesai?" Tanya Andika dengan bola mata berbinar.
"Sudah." Andika langsung tersenyum lebar.
"Baru satu episode, masih ada 19 lagi." Andika langsung menekuk wajahnya.
"Memang film apa si?" Tanya Andika kesal.
__ADS_1
"Film?" Jeny bingung dengan pertanyaan Andika.
"Film yang kamu tonton."
"Bukan film, ini drama." Jawab Jeny dengan mata kembali fokus ke layar tv.
Andika mengacak-acak rambutnya sendiri, dia merasa sangat kesal dan bosan menemani Jeny, tapi entah kenapa Andika tidak bisa beranjak meninggalkan Jeny, ada rasa yang membuat dia ingin selalu duduk di dekat Jeny.
- - -
"Bodoh." Maki Presdir Ferry pada Deni yang berdiri dengan wajah pucat di depannya.
"Apa saja yang kau lakukan satu minggu ini hah." Presdir Ferry melemparkan tumpukan kertas ke wajah Deni, dia merasa tidak puas dengan laporan yang di berikan oleh Deny tentang hasil pekerjaannya mengawasi Lisa.
"Maaf tuan." Deni berbicara dengan sangat lirih.
"Masih mending saya melihat amukan anda dari pada amukan tuan Adrian dan Andika." Ucap Deni dalam hatinya.
"Keluar!" Deni langsung melangkah menuju pintu yang di tunjuk oleh Presdir Ferry.
"Dasar tidak berguna." Hardik Presdir Ferry sambil menatap punggung Deni.
Presdir Ferry kemudian membuka ponselnya, dia langsung mencari nama seseorang di daftar kontaknya.
"Hallo." Sahut seorang laki-laki dari sebrang sana.
"Cari informasi tentang Lita, laporkan secepatnya."
"Baik tuan."
Klik..
Panggilan langsung diakhiri, Presdir Ferry kau tidak mau harus bertindak sendiri setelah hasil pekerjaan Deni sangat jauh dari harapannya.
__ADS_1
"Kenapa banyak orang bodoh di sekitarku." Gerutu Presdir Ferry sambil pandangannya menatap langit-langit kantornya.