
Suara tawa Adrian masih terdengar nyaring, dia seakan benar-benar menikmati melihat kondisi Andika dengan wajah putus asa.
"Jangan terlalu percaya diri makanya." Adrian merendahkan Andika lewat tatapan matanya.
Andika masih membisu, dia sangat tidak percaya dengan yang barusan terjadi, dimana beberapa saat lalu Andika merasa Presdir Ferry sudah ada dalam genggamannya kini bahkan Andika sekedar menyentuhnya saja sangat sulit.
"Apa kamu akan terus tertawa Adrian." Kata Andika kesal.
"Aku tidak bisa menghentikan tawaku Andika."
"Tertawa lah terus, aku akan pergi." Adrian menarik lengan Andika ketika dia sudah berdiri.
"Duduklah, kamu saat ini membutuhkan ku bukan?" Ucap Adrian sembari tersenyum.
"Huh." Andika membuang napas dengan kasar.
"Apa rencana mu kali ini?" Adrian menyeringai.
"Aku yakin kamu akan membelalakkan mataku ketika mendengar ceritaku."
"Oh ya?" Andika tersenyum sinis "Jangan terlalu sombong."
"Dengarkan baik-baik." Andika memotong ucapan Adrian.
"Jangan terlalu bertele-tele." Adrian menyebikan bibirnya.
"Ya." Ucap Adrian ketus.
Adrian kemudian mulai bercerita perihal Jeny yang memiliki penyakit mental, dimana Jeny memiliki ketergantungan kepada Presdir Ferry sehingga dia selalu menuruti apapun perintah Presdir Ferry.
Adrian kemudian melihat respon Andika yang tidak sesuainya dengan ekspektasinya, Andika justru tersenyum dengan tatapan merendahkan pada Adrian.
"Aku sudah tahu." Adrian langsung membelalakkan matanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Adrian tidak percaya.
"Hahaha." Andika terbahak "Apa kamu lupa siapa aku." Ucap Andika sombong.
"Menyebalkan." Kata Adrian.
__ADS_1
"Kamu memang lebih licik dari aku Adrian, tapi kamu tidak bisa melawan kepekaan ku terhadap orang-orang di sekeliling ku."
"Ya ya ya, terserah dirimu saja."
Giliran Andika yang tertawa melihat Adrian kesal.
"Tapi aku yakin kamu belum menemukan solusi untuk masalah ini bukan?" Adrian menaik turunkan alisnya untuk menggoda Andika.
"Aku juga tak yakin kamu sudah menemukan solusinya."
"Hahaha." Suara tawa Adrian langsung menggema "Aku masih lebih pintar dalam segala hal dibanding dirimu Andika."
"Rendy." Adrian menoleh ketempat Rendy duduk.
"Silahkan tuan." Rendy memberi iPad pada Adrian, iPad yang berisi hasil penyelidikannya dulu dan juga solusi untuk masalah Jeny.
"Lihatlah." Andrian menyodorkan iPad pada Andika.
Andika kemudian melihat isi iPad yang berisi foto masa kecil Jeny, selain itu juga ada foto Jeny yang terlihat sedang bersama dengan seorang wanita paruh baya di mall.
"Apa maksudnya?" Tanya Andika sembari menyerahkan iPad pada Adrian.
"Kamu harus berterimakasih padaku setelah tahu ini."
"Dia adalah orang yang bisa mengendalikan Jeny sepenuhnya."
"Maksudnya?"
"Jeny lebih ketergantungan kepada wanita itu dari pada dengan Ferry."
"Siapa dia?"
"Pengasuh Jeny."
Adrian terdiam, dia sedang mencerna segala informasi yang baru dia dapat, Adrian seakan belum menemukan benang merah dalam masalah ini.
"Kamu memang bodoh jika berkaitan dengan Jeny." Hardik Adrian.
"Apa kamu begitu senang menghinaku." Jawab Andika ketus.
__ADS_1
"Hahaha tentu saja." Adrian menatap Andika dengan tatapan serius "Kita bisa menggunakan wanita itu untuk melepaskan Jeny dari cengkraman Ferry." Andika mengangkat alisnya meminta penjelasan lebih rinci dari Adrian.
"Kamu bisa hidup bersama Jeny tanpa bayangan Ferry lagi."
"Caranya?"
"Rendy akan menculik pengasuh Jeny itu, setelah itu kita akan gunakan dia untuk membuat Jeny menurut pada kita."
"Tidak, tidak, aku tidak setuju."
"Apa yang membuatmu tidak setuju?" Tanya Adrian penasaran.
"Air mata Jeny." Jawab Andika sambil menerawang jauh.
"Arrggg kenapa kamu sebodoh itu Andika." Adrian benar-benar kesal pada Andika.
"Bodoh apanya, jika Jeny jauh dari Ferry mungkin aku akan melihatnya menangis tiap hari."
"Kamu sebenarnya paham atau tidak?"
"Paham apa?" Tanya Andika seperti orang bodoh.
"Sudahlah lupakan saja Andika, urus saja urusanmu sendiri." Ucap Adrian menyerah.
"Bantulah aku Adrian." Andika memohon melalui tatapannya pada Adrian.
"Satu syarat." Adrian mengangkat jari telunjuknya.
"Kenapa harus ada syarat?" Protes Andika.
"Mau tidak." Adrian mulai tersenyum jahil.
"Katakan!"
"Ikuti saja rencanaku, jangan ikut campur atau mengacaukannya."
"Rencana apa?"
"Jawab saja iya jika kamu ingin aku membantumu."
__ADS_1
"Iya."
Adrian tertawa senang sedangkan Andika menatap Adrian dengan tatapan aneh, Adrian akan menjalankan rencananya dengan menculik Bu Lilis untuk kemudian melepas cengkraman Presdir Ferry pada Jeny.