
Jeny sedang bersantai di apartemennya, hari ini Jeny sedang tidak ada pekerjaan karena Andika kemarin sudah memberitahu Jeny bahwa dia tidak perlu datang ke kantor.
Jeny sedang duduk di depan TV, sesekali dia terlihat tertawa menyaksikan acara di TV, dia memakai pakaian santai tapi tetap terlihat cantik.
"Iya tuan." Ucap Jeny setelah mengangkat panggilan dari Andika.
"Apa kamu sedang sibuk?"
"Ah tidak tuan." entah kenapa Jeny merasa senang mendapat panggilan dari Andika.
"Apa kamu bisa datang ke jalan X, aku sedang ada sedikit masalah di sini."
"Baik tuan."
Jeny mematikan panggilan telpon, dia kemudian menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, Jeny ingin selalu terlihat cantik depan Andika.
"Sempurna." Kata Jeny menatap dirinya di depan cermin.
- - -
"Bagaimana tuan?" Tanya Deni yang sedang berdiri di sebelah mobil yang terlihat kempes pada ban depannya.
"Berjalan sesuai rencana." Andika dan Deni tersenyum bersama mengetahui rencana mereka berjalan sesuai dengan harapan.
"Ada masalah apa tuan?" Jeny terlihat panik menghampiri Andika yang sedang berdiri di sebelah Deni, Deni terlihat sedang berjongkok memasang dongkrak.
__ADS_1
"Ah nona Jeny, kapan kamu datang?" Andika terkejut melihat Jeny sudah berdiri di sebelahnya.
"Baru saja tuan, kebetulan tempat tinggal saya tidak terlalu jauh." Jeny menunjuk bangunan tinggi yang terlihat seperti apartemen.
"Kamu tinggal di situ?" Andika bertanya dengan antusias.
"Iya tuan." Andika mengangguk mendengar jawaban Jeny.
"Jadi ada masalah apa tuan?"
Andika kemudian menceritakan bahwa dia harus bertemu dengan klien, tapi mobilnya mendadak mengalami sedikit masalah, dia sudah mencoba menghubungi orang kantornya tapi karena pekerjaan yang sangat banyak mereka tidak bisa menjemput Andika.
"Memang supir yang biasa bersama taun kemana?" Andika terlihat panik mendengar pertanyaan Jeny, tapi Andika adalah orang yang sangat pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Dia sedang mengantar Lisa bertemu dengan klien." Ucap Andika dengan ekspresi wajah serius.
"Jadi apa yang bisa saya bantu tuan?"
"Apa nona bersedia meminjamkan mobil nona, aku harus bertemu klien." Jeny tersenyum melihat tatapan memohon dari Andika.
"Ah tentu saja tuan."
"Deni ayo kita pergi menggunakan mobil nona Jeny." Andika menoleh ke arah Deni ketika berbicara
"Saya harus mengurus mobil ini tuan, tidak mungkin meninggalkannya di sini."
__ADS_1
"Tidak mungkin aku pergi sendiri Deni." Andika melirik ke arah Jeny, Jeny yang mengetahui Andika melihat ke arahnya langsung berbicara.
"Biar saya saja yang menunggu mobil anda tuan."
Andika dan Deni langsung saling menatap, mereka terlihat saling menyunggingkan senyum tipis.
"Bagaimana jika nona Jeny saja yang menemani tuan Andika?" Jeny langsung melihat ke arah Andika mendengar usulan dari Deni.
"Lebih baik begitu nona, biar Deni saja yang menunggu di sini" Andika melihat kerah Jeny dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Tapi saya tidak tahu harus bagaimana ketika bertemu klien."
"Tidak perlu nona memikirkan, nona Jeny cukup menemani tuan Andika saja." Deni berbicara meyakinkan Jeny.
Deni dan Andika melihat kearah Jeny, mereka menantikan jawaban Jeny, Deni menatap dengan tatapan memohon, jika rencana ini gagal gaji Deni yang akan menjadi taruhannya.
"Baiklah tuan." Jawab Jeny dengan senyum manisnya.
Bola mata Deni langsung berbinar mendengar jawaban Jeny, dia sudah bisa membayangkan bonus yang akan diberikan Andika.
"Silahkan nona." Andika membukakan pintu mobil untuk Jeny.
"Terimakasih tuan." Jeny tersenyum melihat perlakuan Andika yang menurutnya sangat manis.
Andika melajukan mobil Jeny menuju tempat kencan mereka, bertemu dengan klien hanyalah alibi yang Deni berikan pada Andika.
__ADS_1
"Mission success tuan." Deni melambaikan tangan melihat kepergian mobil Jeny yang dikemudikan oleh Andika.